Indonesia dan Masyarakat Reaktif

Maharanny Puspaningrum

(Magister Pertahanan, profesi Dosen dan Presenter)

 

Jika saja saat ini Indonesia adalah manusia, maka sepatutnya dia akan merasa bimbang karena entah arah mana yang akan menjadi tujuan.

Masyarakat Indonesia yang sekarang menjadi penggerak roda kehidupan berbangsa dan bernegara, justru memiliki idealisme yang mulai berbeda dengan ideologi awal pendiri bangsa. Persepsi masyarakat sejak dalam pikiran perseorangan hingga pemikiran komunal acap kali menunjukkan betapa kesempurnaan ideologi bangsa dapat dialihkan menjadi ketidaksempurnaan. Mengubah ideologi hingga sistem pemerintahan seharusnya tidak dipandang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Jika pemikiran tersebut merasuk dalam pikiran, bukankah seharusnya yang perlu direnungkan adalah cara kita dalam memandang ideologi bangsa? Lantas mengapa harus berujung pada ide perubahan ideologi bangsa? Begitu juga pemikiran yang sama pada oknum yang berpikir untuk memecah belah bangsa. Tidak cukupkah masalah Arab Spring (secara singkat Arab Spring adalah kondisi ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahnya sehingga menyebabkan demonstrasi besar-besaran yang melemahkan beberapa negara di Arab) menjadi pelajaran betapa negara yang kaya dan makmur dapat dengan mudah dipecah belah oleh pihak eksternal yang memiliki tujuan tertentu dan mengambil keuntungan dari perpecahan yang terjadi?

Pemahaman tentang ideologi bangsa yang tidak komprehensif, sehingga belum dapat diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Itu menjadi salah satu penyebab ideologi radikal dengan mudahnya mendarah daging dalam diri masyarakat. Ditambah penyebaran informasi yang bersifat provokatif hingga mengarah pada fake news menjadi asupan negatif yang dikonsumsi masyarakat hingga memengaruhi pemikiran dan tingkah laku mereka. Hal ini sangat tampak beberapa tahun terakhir, utamanya ketika pre-current-post pemilihan umum legislative dan eksekutif baik dari tingkat daerah hingga nasional. Kompleksnya permasalahan ini tak luput dari peran serta kemajuan teknologi yang menyediakan ladang basah untuk tumbuh suburnya cikal bakal permasalahan.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad


Comment

Loading...