Kapurung Instan Tak Ada Hasil, Anggaran Habis Sia-sia

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MASAMBA — Penelitian dan kajian tentang kapurung instan telah berlangsung puluhan tahun. Kapurung mulai diteliti sejak kepemimpinan Andi Muhtar Luthfi Andi Mutty, dan dilanjut Bupati Arifin Junaidi hingga Bupati Indah Putri Indriani, namun belum ada hasil.

Anggota Komisi II Luwu Utara, Imran Mattola mengatakan, penelitian kapurung bukan program baru. ”Ini sudah berlangsung sejak Andi Muhtar Luthfi Andi Mutty jabat bupati. Saat itu, Sakaruddin menjabat Kepala Bapptek,” kata Imran.

Dia menjelaskan, ketika jelang akhir periode kedua Bupati Luthfi. Kapurung instan masih diteliti. Bahkan, anggota dewan diundang melihat penelitian. Ternyata masih proses dibuat bulat-bulat. Pembuatan kapurung ini sangat repot. Untuk direalisasikan sangat susah. Kapurung berbahan sagu.

Lalu bagaimana dengan pabrik kapurung instan. Legislator Partai Gerindra ini menyarankan agar program ini dialihkan ke penelitian lain. Lebih baik penelitian pembuatan sarabba instan.

Angggota Komisi II DPRD Luwu Utara, Jabir Budala mengaku sudah bosan dengan penelitian kapurung instan yang dilakukan Balitbang. ”Sebelum saya masuk dewan. Penelitian tentang kapurung sudah dilakukan. Bahkan sudah dapat HAKI,” kata Jabir.

Beberapa bupati sudah berlalu, tetapi penilitian tidak membuahkan hasil. Belum ada wujud nyata dari kapurung  ini. Anggaran penelitian sangat besar menghabiskan di atas Rp100 juta. Siapa tahu, periode Bupati Indah berakhir. Kapurung instan masih terus diteliti. Hasilnya belum kelihatan.

Kodam XIV Hasanuddin Memerangi Narkoba, Ini Caranya

Pj Wali Kota Makassar Diparkir, None Dicopot

PPI FTI UMI Terima Visitasi Akreditasi BAN Perguruan Tinggi

Petani Bone Gagal Panen, Ini Penyebabnya

ASN Jakarta: Aduh, Jangan Sampai Pindah Deh

”Kepala Balitbang sebelumnya, Bambang Irawan setiap ditanya, kapan jadinya kapurung instan. Dia selalu bidang tahun depan. Sekarang bagaimana. Kapan jadinya,” paparnya.

Menurutnya, coret saja program ini. Sudah lama diteliti, tidak ada realisasinya. Kapala Balitbang Lutra, Anugrah Ali Anwar mengatakan, kapurung ini memang sudah lama diteliti. ”Kalau mau dicoret. Kita perlu diperhitungkan. Karena setiap tahun Pemda Lutra bayar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) sebanyak Rp16 juta. Makanya perlu dipertahankan,”kata Ali.

Kepala Bidang Penelitian Balitbang Lutra, Awaluddin Andi Paso mengatakan tehap akan melanjutkan riset kapurung instan.

”Kita kerja sama LIPI. Ini sangat unik. Kapurung instan tidak ada di daerah lain. Malah membawa ciri khas daerah,” paparnya.

Awaluddin menjelaskan, kapurung dapat menjual budaya. Penilian ini menyangkut kanfungan gizi, mikro biologi. Apakah aman dari logam berat dan baktefi berbahaya lainnya. ”Sebaiknya dilanjutkan hingga pengemasan,” jelasnya. (shd)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...