Makam-makam Kuno Islam di Maros Perlu Dilestarikan

Selasa, 27 Agustus 2019 - 15:57 WIB
FOTO: ISTIMEWA

FAJAR.CO.ID, MAROS — Kabupaten Maros tidak hanya kaya dengan warisan budaya berupa gua-gua hunian dari masa lampau, namun juga memiliki banyak makam kuno Islam yang bersejarah.

Hal ini diungkapkan Ketua Tim Penelitian dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, Makmur, Selasa (27/8/2019).

Temuan ini diketahui setelah tim Balar melakukan penelitian berupa survei dan observasi intensif terhadap keberadaan makam-makam kuno Islam di Kabupaten Maros yang digelar sejak Juli hingga akhir Agustus.

Bahkan menurutnya, keberadaan makam kuno Islam tersebut tidak hanya terkait dengan sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Maros, tetapi juga menggambarkan bagaimana islamisasi yang terjadi pada masa lalu.

“Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana tradisi masyarakat yang berkaitan dengan makam Islam dapat dioptimalkan. Serta upaya pelestarian makam Islam sebagai cagar budaya,” katanya.

Menurutnya hal ini penting dilakukan karena makam-makam tersebut memiliki nilai penting sebagai cagar budaya.

Disisi lain, kata dia, tradisi masyarakat yang terkait dengan makam tersebut masih sering dilakukan baik berupa ziarah, upacara adat maupun ritual budaya lainnya.

Olehnya itu dia berharap agar hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Maros dalam mengambil kebijakan terkait dengan upaya pelestarian makam-makam Islam tersebut.

Sementara Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Maros (TACB), Muhammad Ramli yang juga ikut terlibat dalam penelitian ini mengatakan penelitian sekitar 25 situs makam Islam di Maros menjadi objek penelitian.

Di mana objeknya tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Maros. Baik di wilayah pesisir maupun pegunungan.

“Setiap situs memiliki karakteristik tersendiri baik dari bentuk makamnya maupun tradisi masyarakat yang dilakukan di makam tersebut,” katanya.

Menariknya, kata dia, tradisi yang dilakukan oleh masyarakat merefleksikan budaya penghormatan kepada leluhur.

“Hal inilah yang menjadikan situs makam Islam ini perlu dikaji lebih lanjut dalam kaitannya dengan penetapan statusnya sebagai Cagar Budaya,” sebutnya.

Sedangkan Arkeolog dari Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Yadi Mulyadi mengatakan dari perspektif arkeologis, makam-makam Islam tersebut merupakan budaya material yang memperlihatkan keunikan tersendiri yang menjadi penanda identitas budaya.

Keunikan makam islam ini tak hanya pada konstruksi makam saja, tetapi juga bentuk nisan, jirat, gunungan makam, dan juga inskripsi serta ragam hiasnya.

Menurutnya hal ini merupakan refleksi dari adanya akulturasi budaya yang berlangsung sejak awal islamisasi di Maros.

“Sehingga keberadaan makam-makam Islam itu harus dilestarikan agar potensi yang dikandungnya dapat terus diteliti dan dikaji oleh para peneliti dan menghasilkan informasi kesejarahan yang bermanfaat bagi penguatan identitas sejarah dan budaya masyarakat, khususnya di Maros,” ungkap pria yang juga Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Komda Sulawesi Maluku Ambon dan Papua ini.

Tim penelitian ini sendiri terdiri dari peneliti arkeologi Islam dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan, serta melibatkan juga Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Maros dan Arkeolog dari Departeme Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. (rin)

loading...