Universitas Hasanuddin: World Class University?

Rabu, 28 Agustus 2019 - 08:57 WIB
Andi Muhammad Sadli. (int)

Oleh: Andi Muhammad Sadli (Eks Mahasiswa Program Doktor Universitas Hasanuddin)

 Portal akdemik Universitas Hasanuddin dalam jaringan tidak dapat diakses menjelang kuliah perdana, 19 agustus 2019. Banyak mahasiswa, tidak bisa daftar masuk portal untuk isi KRS. Terpaksa KRS manual. Penyebabnya, mungkin banyak mahasiswa daftar masuk sekaligus. Bisa jadi peladen (server), krannya kecil. Atau protokol keamanan diretas. Kalau ada yang iseng, meretas sistem komputasi di Unhas. Malapetaka. Untung, tidak ada yang tertarik. Saya tidak tahu.

Portal tidak dapat diakes adalah hal sepele. Tidak butuh berhari-hari memulihkan. Pengolahan informasi perlu komputasi yang efisien dan akurat. Dasarnya adalah kriptografi di Ilmu Matematika. Kriptografi punya empat misi: kerahasiaan, integritas, keaslian, dan ketersediaan. Tiga protokol dasar yang biasanya tersua pada sistem kriptografi ialah protokol enkripsi, dekripsi, dan protokol manajemen kunci. Kriptografi hidup di irisan fisika, komputer, dan matematika. Semua program studi ini, ada di Unhas.

World Class University

Orang bilang kita hidup di zaman teknologi informasi. Kompresi, pengodean, dan kriptografi aktif beroperasi di mana-mana, bahkan ketika tak kasat mata dan jauh dari ruang kesadaran publik. Coba perhatikan. Microsoft sudah lama punya laboratorium Station Q. Google mulai menerapkan protokol New Hope berbasis latis untuk keamanan peramban Chrome. IBM merilis IBM Quantum Experience, mengundang para peneliti melakukan simulasi kuantum skala kecil.

Maka, soal sepele tak perlu terjadi. Apalagi, saat Unhas mempromosikan world class university. Beruntung saya bukan mahasiswa asing. Salah satu penciri world class. Apa itu world class university? Jika diurai, jawabannya terlalu panjang, parameter banyak.  Kira-kira, seperti universitas terbaik di dunia. Diminati banyak orang dari seluruh bangsa. Mahasiswa heterogen dengan kemutakhiran teknologi informasi. Belakangan, parameter yang tren, seperti, produksi karya ilmiah yang diindeks oleh pengindeks bereputasi. Sebut saja Scopus dan Thomson Learning. Lalu, berapa jurnal Unhas yang diindeks scopus? Cari saja sendiri pakai search engine.

Unhas, World Class University. Apanya? Butuh waktu untuk mempreteli satu satu indikatornya. Fakta yang saya alami diprosesi pendaftaran maba secara online. Rasa manual. No Paperless. Masih banyak tumpukan berkas. Masih banyak dokumen di sana-sini. Satu dua tahapan registrasi memerlukan kehadiran fisik. Padahal tidak substansi. Mungkin saya salah.

Sejak kampus bertransformasi ke revolusi industri 4.0 dan otoritas dikti sekaligus tampak “memberhalakan”  indeksasi scopus, diferensiasi kampus, tersisa hanya label akreditasinya. Sama saja. UI, Unhas, ITB, dan PTN lainnya.  Sekarang ini, jika suka menulis ilmiah, bisa setiap saat ikut konferensi internasional. Dunia pendidikan tak lagi berbatas. Hanya beda kultur akademik. Contoh, Kita masih suka bertutur. Di Jepang, bicara seperlunya.

Dikti memberi “karpet merah” bagi kampus dengan jumlah jurnal tertentu yang diindeksasi secara internasional. Termasuk jumlah sitasi bagi penulisnya. Unhas mengaku memiliki 720 naskah ilmiah tahun 2018 yang diindeksasi scopus. Pertanyaannya, di mana naskah ilmiah itu transit, sebelum di indeks.

Kuriositas

Soal riset. Unsur terpenting adalah estetika. Fakta ini jarang menjadi inti pedagogis. Padahal, manusia secara alami tertarik pada keindahan. Hampir semua orang menghargai karya ilmiah yang disajikan sebagai seni dan sebagai perpanjangan rasa ingin tahu (kuriositas). Bukan yang lain. Jangan memburu publikasi hanya untuk kegunaan dan peringkat. Untuk jabatan, komersilisasi, pangkat akademis. Tidak salah memang. Tapi perlu diingat, kampus harus mematri dua kualitas tambahan yaitu rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus belajar. Apalagi yang memberi peringkat, kita-kita juga. Lakukan saja yang terbaik untuk Ilmu Pengetahuan. Hasilnya pasti kelihatan. Kegunaan hanya efek samping.

Perjalanan membuktikan Fermat Last Theorem makan waktu 358 tahun. Pada dirinya sendiri teorema itu tidak berguna. Proses mencari solusi melahirkan teknik temuan Ernst Kummer sekitar tahun 1847 yang terpakai dalam komunikasi nirkabel dan radar. Hasil studi kurva eliptik berefek samping sistem keamanan perbankan dan internet. Lampu led yang kita pakai sekarang adalah riset tentang pita lebar di jurusan fisika.

Sejak revolusi industri 4.0 tiba, pekerjaan jadi mudah. Efisien. Kalau mau world class, tiru rektor dengan tradisi akademik terbaik di dunia. Mudahkan mahasiswa dari sisi administrasi. Kampus itu, episentrumnya, kawah candra dimuka. Keunggulan kompetitif suatu bangsa hanya bisa ditingkatkan melalui akumulasi keahlian dan pengetahuan ilmu-ilmu dasar. Banyak Profesor dan orang hebat di Unhas. Jangan setengah-setengah. Rektor harus turun langsung. Hindari seremoni berlebihan.

Masih world class. Jangan-jangan, banyak publikasi ilmiah yang bagus di Unhas tapi tidak terdiseminasi ke khalayak. Unhas punya Repository.  Pustaka digital yang menyimpan semua dokumen ilmiah. Sedapat mungkin bisa diakses terus. Karya ilmiah perlu konsisten baik dari sisi rutinitas konferensi maupun produksi ilmiah. Pakar sebidang, reviewer, mitra bestari, perlu ditata.

Jangan salah. Indeksasi scopus seringkali mengintip jendela publikasi ilmiah. Jika mau di indeks scopus, sebenarnya tak cukup sulit. Asal mau.  Butuh waktu memang. Setidaknya dua tahun sejak melamar. Yang dilihat konsistensinya. Scopus menilai jurnal banyak hal. Jika tak konsisten dan sungguh-sungguh, jurnal tak mungkin diindeksasi. Cukup dulu. Jangan karena portal daftar masuk  bermasalah,  tidak bisa isi KRS online, melebar ke scopus,  repository  dan segala rupa. Saat tulisan ini selesai, saya sudah menyatakan mundur sebagai mahasiswa jenjang doktor. Tidak sampai dua minggu di Unhas. Bukan karena tidak bisa isi KRS online. Viva kampusku.**

loading...