Nikah Beda Agama

Kamis, 29 Agustus 2019 08:18
Belum ada gambar

Pernyataan pengarang bahwa:1. Dengan menggunakan gaya bahasa Arab: iktifa’, maka laki-laki ahlil kitab (Nasrani danYahudi) boleh menikah dengan dengan wanita muslimah.Pertanyaan saya, ulama mana dan dalam kitab apa disebutkan, ada ulama yangberpendapat demikian? Ataukah rupanya ulama sejak dahulu sampai sekarang, tidak adayang mengetahui iktifa’ boleh digunakan untuk pembolehan pernikahan semacam ini,cuma Prof. Musdah Mulia yang tahu? Ataukah karena semangat sebagai reformis yangberlebihan sehingga pengarang berani membuat fatwa yang asing seperti ini?2. Dengan tiga argumentasi di atas, maka ulama yangg mengharamkan pernikahan antaraperempuan muslimah dengan laki-laki non-muslim dengan melandaskan diri pada Al-Qur’an tidak dapat dibenarkan lagi. Karena Al-Qur’an sendiri tidak melarangnya secarategas.Pernyataan ini lebih mengherankan lagi karena pengarang sebagai ulama pasti sudahmembaca fatwa MUI nomor: 4/MUNAS VII/MUI/8/2005/, yang termuat dalam kitabHimpunan Fatwa MUI, halaman 501-506, yang mengharamkan pernikahan beda agamaberdasarkan 7 (tujuh) ayat Al-Qur’an dan ditambah dalil lainnya, yaitu:a. Q.S An-Nisa (4) : 3 dan 25b. Q.S. Ar-Rum (30) : 21c. Q.S. At-Tahrim (66) : 6d. Q.S. Al-Maidah (5) : 5e. Q.S. Al-Baqarah (2) : 221f. Q.S. Al-Mumtahanah (60) : 10g. Hadis: Sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam : wanita itu boleh dinikahi karena empathal: (1) karena hartanya (2) karena keturunannya (3) karena kecantikannya (4) karenaagamanya. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan perempuan yangmemeluk agama Islam, (jika tidak) akan binasalah kedua tanganmu (muttafaqun alaihdari Abu Hurairah ra.)h. Kaidah Fiqhi: mencegah kemufsadatan lebih didahulukan dari pada menarik maslahat.i. Qaidah Sad Al-dzariahFatwa MUI itu berbunyi:a. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sahb. Perkawinan laki-laki muslim dengan wanita ahlul kitab, menurut qaul mu’tamad,adalah haram dan tidak sah.

Bagikan berita ini:
9
5
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar