Nikah Beda Agama

Kamis, 29 Agustus 2019 08:18
Nikah Beda Agama

c. Bagi mereka yang tidak meletakkan pluralitas sebagai sebuah problem, maka perbedaanagama (termasuk juga perbedaan suku dan golongan) bukanlah ancaman dan halanganbagi dilangsungkannya suatu pernikahan.Menurut hemat saya, Prof Musdah Mulia telah melakukan kekeliruan fatal, karena:1. Mengambil kesimpulan yang asing dalam Fiqhi Islam berdasarkan gaya bahasa Arab“Iktifa”. Bolehkah kita berkata dengan dalil iktifa’ bahwa, sebagaimana laki-laki merdekaboleh menikahi budak wanita maka laki-laki budak boleh pula menikahi wanita merdeka?Jadi iktifa’ boleh dipakai kalau tidak bertentangan dengan dalil Al-Qur’an, Hadist, danIjma’.2. Pengarang tentunya tahu bahwa di Indonesia ini yang berlaku ialah faham AhlulsunnahWal Jamaah, yang meletakkan Ijma’ sebagai landasan hukum Islam ketiga sesudah Al-Qur’an dan Hadist. Para Ulama telah mengharamkan wanita muslimah menikah denganlaki-laki kafir (termasuk Ahlul Kitab), berdasarkan Al-Qur’an Hadist, dan Ijma’.3. Cara pandang pengarang dalam menetapkan hukum dipengaruhi oleh pandanganpandangankaum orientalis Barat yang diragukan i’tiqad baiknya terhadap Islam. AllahSWT berfirman, yaitu; “Mereka ingin agar kamu kafir sebagaimana mereka kafir” (Q.S.An-Nisa (4): 84). Juga cara pandang liberalisme agama telah mewarnai cara berfikirpengarangSedang liberalisme agama telah diharamkan oleh MUI, tahun 2005, yaitu;“Yang memahami nash-nash agama (Al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akalpikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akalpikiran sementara.4. Pengarang seharusnya khawatir, karena penetapan hukum yang membolehkan nikahbeda agama, di samping melanggar fatwa MUI, juga akan melapangkan jalan kristenisasidi Indonesia sehingga umat Islam menjadi murtad, dosa yang sangat berat dalam Islam.

Bagikan berita ini:
7
6
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar