Wakil Presiden Jusuf Kalla Kecewa BPPT, Pamer Teknologi Lama

0 Komentar

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Acara puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24 berlangsung di Lapangan Puputan Renon, Denpasar, kemarin. Wakil Presiden Jusuf Kalla hadir di acara tersebut.

Dalam kesempatan itu, JK mengimbau agar para peneliti tidak cepat puas. Karena tugas peneliti adalah menghasilkan inovasi riset yang bisa memiliki nilai tambah dan dapat dikomersialkan juga memberikan keuntungan.

“Sesuatu yang memberikan efisiensi, praktis, lebih cepat, membuat lebih murah, hingga meningkatkan produktivitas suatu industri. Itulah inovasi,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Wakil Presiden Jusuf Kalla, inovasi juga harus bisa dijual. Karena kalau tidak bisa dipasarkan itu hanya memenuhi lemari buku saja. Maka dari itu, butuh kerja sama antara akademisi, universitas, dan pengusaha.

“Itu untuk menjembatani hasil riset agar bisa digunakan dalam dunia industri. Termasuk memberikan efek masif dan menghasilkan keuntungan,” papar Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mencontohkan, pesawat karya anak bangsa N250 yang sampai sekarang tidak diproduksi massal. Menurut dia, itu adalah bukti hasil riset yang tidak bisa dikomersialkan. Sehingga, tidak mempunyai makna yang besar.

Pria kelahiran Watanpone, Sulawesi Selatan itu mengatakan, peneliti bukan hanya bekerja hanya untuk bersenang-senang. Namun, harus ada hasil yang bisa dibanggakan. Harus melihat ke depan apa yang bisa dicapai.

“Tidak perlu malu untuk mempelajari teknologi terbaru dari negara lain. Seperti Tiongkok, misalnya. Kemajuan teknologinya luar biasa. Karena mereka Pertama meniru, kedua memperbaiki, ketiga inovasi. Itu langkah-langkah yang dibuat Tiongkok,” beber Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menuturkan, tidak semua inovasi dimulai dari nol. Sebab, ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang setiap saat. Percuma Indonesia memiliki sekitar 4.500 perguruan tinggi tetapi hasil inovasinya rendah. “Artinya, peneliti tanah air perlu bekerja lebih keras. Kita bisa contoh Tiongkok,” imbuh wapres 77 tahun itu.

Di sisi lain, Wakil Presiden Jusuf Kalla kecewa dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pasalnya, sebagai pusat teknologi Indonesia justru BPPT malah memamerkan hasil karya teknologi yang sudah lama. Memajang hasil kerja dua hingga tiga tahun lalu.

“Mulai tahun depan yang bisa dipamerkan hanya penemuan satu tahun terakhir. Tidak boleh lima tahun terakhir,” tegasnya.

Ibu Kota Kilat

Minta Referendum, Warga Papua Bentrok dengan Aparat, Satu TNI Tewas

Kapen Koopsau II Memberi Nilai-nilai Kebangsaan kepada Mahasiswa Politeknik Ujungpandang

KASN Rekomendasikan Sanksi 15 Camat, Pj Wali Kota: Saya Belum Lihat Suratnya

Didampingi Kadis Sosial, Iqbal Suhaeb Jaring Gelandangan

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan, pihaknya terus mendorong perguruan tinggi mengembangkan kawasan sains dan teknologi atau yang biasa disebut Science and Techno Park (STP). Wahana untuk meneliti dan mempelajari inovasi sekaligus menjadikan hasil inovasi bernilai komersial dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Tujuannya adalah para peneliti, inventor, dan inovator nanti bisa mengembangkan hasil penelitiannya dengan industri. Kalau sudah matang, hasil riset itu dikeluarkan untuk dikembangkan sebagai bisnis,” jelas Nasir.

Menteri 59 tahun itu mengungkapkan salah satu hasil penelitian dari STP yang sudah masuk ke industri adalah stem cell dari Universitas Airlangga. Saat ini hasil riset itu sudah diproduksi massal oleh PT Phapros, anak perusahaan salah satu BUMN, PT Kimia Farma untuk perawatan wajah. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...