Dino Patti Djalal Ingatkan Lepasnya Timor Timur


Namun, semua uang yang dikucurkan di Timor Timur selama 22 tahun tetap tidak mengubah pilihan politik rakyat Timor Timur sewaktu referendum 1999. Jumlah yang memilih lepas dari NKRI hampir empat kali lebih banyak dari yang memilih otonomi dalam kerangka NKRI (78 persen:21 persen).“Mungkin pembangunan di Timor Timur tidak tepat sasaran, mungkin tidak merata, atau justru menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan sosial, atau banyak korupsinya,” ungkap Dino Patti Djalal.Mantan Juru Bicara Pemerintah RI sewaktu jajak pendapat di Timor Timur menambahkan, apapun alasannya, waktu itu terlalu cepat puas dengan alibi ekonomi yang dampaknya ternyata sangat terbatas terhadap konflik politik yang semakin membara.Selain itu, Dino Patti Djalal mengatakan semua pihak ‎j‎uga perlu memetik pelajaran mengenai milisi.‎ Dia teringat ucapan Xanana Gusmao kepadanya waktu di penjara Cipinang pada awal 1999.Kata dia, pembentukan milisi pro-otonomi berbahaya bagi proses jajak pendapat. Dalam perkembangan selanjutnya, yang dikatakan Xanana Gusmao ternyata benar.Walaupun tentunya banyak yang baik, milisi pro-otonomi banyak juga yang melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap rakyat Timor Timur dalam kampanye menjelang jajak pendapat. Menjelang hari-H, posisi pro-otonomi semakin mengeras, banyak yang menyatakan lebih baik perang daripada berpisah dari NKRI.“Akibatnya polarisasi semakin parah, dan kemudian meletus setelah hasil jajak pendapat diumumkan,” ungkap Dino Patti Djalal.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar