Dino Patti Djalal Ingatkan Lepasnya Timor Timur

Dino Patti Djalal meyakini cukup banyak rakyat Timor Timur yang tadinya terbuka untuk menerima otonomi, namun kemudian berbalik arah karena merasa tidak nyaman ditekan oleh milisi. Sehingga harus jujur mengakui bahwa kelompok pro-otonomi kalah bukan karena UNAMET (misi PBB yang menyelenggarakan jajak pendapat) curang. Namun, karena strategi pemenangan yang keliru dan justru menimbulkan antipati.

“Kita juga harus banyak belajar dari cara penanganan hak asasi manusia (human rights). Setelah berintegrasi, legitimasi Indonesia di Timor Timur masih dipertanyakan dunia internasional, sementara opini dunia banyak dipengaruhi oleh pemberitaan mengenai hak asasi manusia,” ungkapnya.

Dino Patti Djalal berujar, semua pihak harus jujur berintrospeksi. Sikap pemerintah terhadap tuduhan pelanggaran hak asasi manusia cenderung defensif, tertutup, dan kurang tegas atau setengah hati.

Karena seringkali, kasus pelanggaran hak manusia yang seharusnya selesai dengan cepat menjadi panjang karena selalu ada saja yang ditutupi dan kemudian ketahuan publik. Kemudian yang paling nahas, jaminan keamanan yang diberikan pemerintah Indonesia dalam perjanjian di PBB akhirnya gagal dipenuhi, sebagaimana tercermin dalam aksi keonaran dan bumi hangus yang mengakibatkan ratusan ribu pengungsi hengkang ke Atambua.

“Ini sungguh menghancurkan kredibilitas dan martabat Indonesia di dunia internasional,” kata Dino Patti Djalal.

Bahkan menurut Dino, ketika tiga staf PBB (UNHCR) yang tidak bersalah dibunuh dengan keji dan mayatnya dibakar di tengah kota Atambua. Kala itu dunia tampak lebih marah dari Indonesia, bukan sebaliknya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah


Comment

Loading...