Dino Patti Djalal Ingatkan Lepasnya Timor Timur

Dino Patti Djalal pun masih teringat rasa malu yang luar biasa ketika Sidang PBB di New York dibuka dengan mengheningkan cipta untuk para staf PBB yang dibunuh kelompok milisi. “Ini merupakan salah satu momen paling gelap dalam sejarah Indonesia,” jelasnya.

Sehingga baginya, ‎pelajaran penting dalam menangani hak manusia dalam suatu konflik politik, adalah pemerintah dan aparat harus tegas dan transparan menyikapi segala pelanggaran dari pihak manapun.

Selanjutnya Dino Patti Djalal mengatakan, dalam bidang public relations, Indonesia juga babak belur. Di dunia internasional, pemerintah kewalahan dalam membentuk opini publik.

Bandara Internasional Yogyakarta Rampung Desember 2019

Ibu Kota Negara ke Kaltim, Anies Masih Peluang di Pilpres 2024?

Lelah Dicap Negatif, Nikita Mirzani Beberkan Fakta Tentang Dirinya

Ayah EL Ketagihan Gituin Mawar di Minahasa Utara

Senin Mendatang, Ojol Mulai Kenakan Tarif Baru

Narasi yang disampaikan diplomat Indonesia terkesan kaku, kurang persuasif dan penuh statistik ekonomi yang hambar. Di lain pihak, pemenang Nobel Perdamaian Jose Ramos Horta dan koleganya mampu memberikan narasi yang kreatif walaupun kadang fiktif dan manusiawi.

“Sehingga menciptakan persepsi bahwa Indonesia menduduki Timor Timur, melakukan penindasan dan pelanggaran HAM,” ungkap Dino Patti Djalal.

Upaya counter-narasi oleh tokoh Timor Timur yang pro-integrasi juga tidak nendang. Pelajaran yang dipetik adalah komunikasi publik yang relatif buruk menjadi blind spot yang akhirnya merugikan posisi Indonesia.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah


Comment

Loading...