Hoaks Terkait Papua Dikendalikan Akun Luar Negeri

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Polri telah mengidentifikasi penyebaran hoaks terkait Papua tidak hanya berasal dari akun dalam negeri, melainkan ada dari luar negeri. Akun penyebar berita bohon ini sudah dilaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika guna dilakukan pemblokiran. Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian sudah mulai menelusuri akun-akun penyebar hoaks terkait Papua ini. Memang di era digital seperti sekarang penyebaran hoaks bisa berasal dari mana pun. Termasuk dari luar negeri. “Jadi di dunia siber arah bisa dari mana saja. Pelakunya bisa perorangan atau kelompok. Jadi kita tidak boleh langsung menuduh karena bisa dari mana-mana,” ujar Hinsa di kantor Kemenko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (30/8). Meski begitu, Hinsa enggan membeberkan dari negara mana saja konten hoaks terkait Papua itu disebarkan. “Ya itu kan tidak bisa kita menyebutkan itu, karena itu bisa dari mana saja,” tegasnya. Lebih lanjut, Hinsa hanya meminta masyarakat Papua lebih berhati-hati dalam menerima informasi. Baiknya, melakukan verifikasi ulang, supaya terhindar dari berita bohong. Yang berujung pada aksi anarkisme.

Mahkamah Agung Kurangi Hukuman Patrialis Akbar Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly Tolak Dukung Trump Kerusuhan di Jayapura Papua, Wapres JK Perlu Turun Tangan Suprajarto yang Dirut BRI Tolak Ditunjuk Direktur Utama BTN Bandara Internasional Yogyakarta Rampung Desember 2019
“Kita hanya mengimbau masyarakat yang ada di Papua jangan sampai terpengaruh dengan berita bohong, berita hoax itu saja,” pungkasnya. Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan ada 1.750 akun media sosial yang diduga menyebar hoaks terkait Papua. Akun tersebut terindikasi ada yang di luar negeri dan di dalam negeri. “Ada di luar negeri, ada juga di dalam negeri. Itu masih (didalami), nanti buka profil dulu,” kata Dedi di Mabes Polri Jakarta Selatan, Kamis (29/8). Total konten yang disebarkan oleh 1.750 akun tersebut mencapai 32 ribu. Isinya kebanyakan bernada provokatif dan penghinaan, serta ujaran kebencian yang bisa menimbulkan perselisihan di Papua. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah

Comment

Loading...