Ma’balendo, Kesenian Khas Tanah Luwu

1 Komentar

Terancam Hilang di Era Digital

Kebudayaan daerah terkikis. Hanya tersisa jejak digital. Seperti kesenian ma’balendo ini.

Syahruddin Syah
Luwu

DALAM bahasa Luwu, Ma’balendo merupakan perpaduan dua kata. ‘Ma’, berarti memegang dan ‘balendo’ berarti menumbuk padi.
Kesenian ini merupakan ciri khas masyarakat Luwu. Kehadirannya untuk mempererat tali persaudaraan di antara sesama masyarakat. Memang, kesenian ini lebih banyak digelar saat pesta panen.

Terakhir kali, kesenian dipentaskan awal 2000-an. “Sudah punah. Kalau masyarakat Luwu wilayah selatan, ma’balendo populer di era 80-a, 90-an, hingga awal 2000-an,” kata penggiat seni di Kabupaten Luwu, Rahmat.

Seiring dengan arus modernisasi, kalangan pemuda sepertinya tidak lagi tertarik dengan kesenian ini. “Dulu sering dipentaskan di lapangan terbuka saat pesta panen raya. Sekarang, sudah tidak ada lagi,” paparnya.

Ma’balendo biasanya dipentaskan dengan membentuk beberapa kelompok. Mereka yang terlibat akan mendapat peran, seperti; pa’tampe atau dikenal orang berladang, pangindo (memimpin), pangana (menaikkan), pamanca, pemusik, hingga ma’tuttu (penumbuk).

Pemerannya, biasa menggunakan gamis, celana panjang, dan penutup kepala. Kesenian ini selalu menjadi daya tarik masyarakat dikarenakan ada banyak keunikan. Gerakannya menggambarkan kegembiraan. Gerakan-gerakannya seperti pattangang dan parrurang.

Gerakan ini dimainkan mereka yang berperan sebagai ma’tuttu. Ada yang mengeluarkan kulit padi dan menumbuk padi yang masih utuh. Juga, ada gerakan alu (antan), awo’, dan issong lesung dan jerami.

“Intinya kesenian ini untuk mempererat persaudaraan dan ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan padi melimpah untuk dipanen. Kegiatan ini juga membangkitkan semangat kerja masyarakat. Karena, dahulunya banyak yang bekerja sebagai petani,” bebernya.

Seni tradisional ma’balendo bagi masyarakat Luwu merupakan tradisi turun temurun. Artinya, sudah ada sejak zaman dahulu. Biasanya, mereka yang terlibat dalam ma’balendo butuh waktu dua hari satu malam untuk mempersiapkan diri.

“Tetapi, dalam beberapa tahun terakhir sebelumnya tidak lagi seperti itu. Hanya butuh 15 menit hingga 20 menit. Cukup singkat. Padahal dalam kegiatan ma’balendo itu menggambarkan beberapa kegiatan petani,” paparnya.

Ragam kegiatan petani yang dibingkai dalam kesenian ini adalah, mencangkul atau dikenal ma’bingkung. Kemudian, meratakan tanah (ma’parata), menabur bibit (mangambo), pemindahan bibit (massisi), menanam (mantanang), membersihkan (miruku), menjaga burung (makkampa den’), dan beberapa lainnya.

“Karena dianggap sebagai budaya dan seni daerah, ma’balendo kerap digelar saat acara penting. Seperti, peringatan kemerdekaan, penjemputan tamu penting, hari jadi kabupaten hingga pernikahan. Kami berharap, kesenian ini bisa terjaga. Pastinya, perlu peran pemerintah,” pintanya.

Mereka yang selalu tampil sebagai pemeran kesenian ini usianya sudah berumur. 50 tahun ke atas. Tidak ada lagi pemuda yang tertarik belajar kesenian ini. Kesenian khas Luwu ini terakhir ditampilkan diawal tahun 2000-an. Setelah itu, tidak ada lagi.

Pemerintah pun tidak pernah lagi menggelar pesta rakyat yang menampilkan kesenian tersebut. “Saya sendiri belum paham itu seni budaya ma’balendo,” kata Wakil Bupati Luwu, Syukur Bijak. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...