Analisis Syamsuddin Radjab, Operasi Mandala dan Pedagang Bugis-Makassar dalam Kemajuan Ekonomi Papua

Sabtu, 31 Agustus 2019 13:49

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Gerakan demonstrasi hingga beberapa peristiwa, baik pembakaran gedung terjadi di Manokwari, Sorong, hingga Fakfak menyusul peristiwa yang terjadi di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus lalu.Hingga kini, peristiwa lanjutan belum juga berhenti di Tanah Cendrawasih itu. Bahkan, pengiriman ratusan polisi tambahan ke Papua dari berbagai daerah juga tengah dilakukan demi stabilisasi keamanan.Pakar Hukum Tata Negara (HTN) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Dr Syamsuddin Radjab SH MH punya analisis terkait Papua. Secara garis besar, ia menegaskan, Papua adalah bagian dari Indonesia yang tak akan terpisahkan.Ia mengatakan, pada awal berdirinya negara kesatuan republik Indonesia (NKRI), Papua sudah menjadi wilayah yang tak terpisahkan dengan Indonesia dalam ketetapan sidang BPUPKI pada 14 Juli 1945. Dikuatkan dengan New York Agreement pada 15 Agustus 1962 berupaya penyerahan Belanda kepada pemerintah Indonesia sebagai bagian dari wilayah NKRI melalui fasilitasi PBB dan yang terakhir hasil referendum penentuan pendapat rakyat (Pepera) 1969 masyarakat Papua yang ingin melepaskan diri penjajah Belanda dan bergabung dengan Indonesia.Secara historis, budaya dan ekonomi, masyarakat Makassar mempunyai peran penting untuk membebaskan Papua dari cengkraman penjajah Belanda melalui operasi Mandala yang berpusat di Makassar dan akulturasi budaya Makassar dan Papua serta kemajuan ekonomi yang dipelopori para pedagang dari Makassar. Monumen pembebasan Irian Barat saat ini masih berdiri di Jl Jenderal Sudirman. “Kala itu, Makassar atau Sulsel menjadi punggung perjuangan saat itu untuk membebaskan Irian Barat,” katanya Direktur Jenggala Center ini, Sabtu, 31 Agustus.Sekadar diketahui, Jenggala Center adalah lembaga “think thank” bentukan dari Jusuf Kalla (JK).Selain itu, suku Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar adalah pembangun dasar ekonomi dari Papua dan Papua Barat. “Itu sangat jelas kita bisa lihat pembangunan ekonomi di Manokwari, Jayapura, Wamena, Puncak Jaya dan daerah lainnya. Pokok katanya, dari sepanjang pesisir hingga pegunungan sumbangsi masyarakat Sulsel sangat berperan penting,” katanya. Bahkan, lanjut Syamsuddin Radjab, sepanjang garis perbatasan dengan Papua Nugini, sektor pendidikan dan ekonomi sangat ditopang dengan para perantau yang berasal dari Sulawesi Selatan, baik sebagai guru, pedagang dan pekerja lainnya disektor non-formal yang memajukan Papua.“Papua adalah kita, dan kita adalah Papua”, tutupnya. (taq)

Bagikan berita ini:
4
7
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar