Tren Co-Working Space Anak Milenial, Kerja Kasual Tak Perlu di Kantor

0 Komentar

Mulai berwirausaha tak mesti punya kantor tetap. Bagi anak milenial, asal nyaman, sudah cukup. Meski harus “nomaden”.

Laporan: IMAM RAHMANTO-DEWI SARTIKA M

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Mita duduk sendirian. Nyala notebook di depannya sudah menyita separuh waktunya.

Segelas minuman dingin juga belum habis. Ia masih harus memelototi detail bisnis yang akan dikembangkannya. Meleset sedikit, pemasukannya bisa mengkerut.

Status sebagai karyawan perusahaan swasta tak membuatnya berhenti bekerja. Ia punya garapan lain untuk menambah pundi-pundi rupiah.
Tentu saja, pekerjaan sampingan itu menjadi langkah kecil untuk usaha mandiri. Dirinya tak ingin bergantung penuh terhadap gaji bulanan sebagai karyawan kantoran.

Sebenarnya, Mita tak benar-benar seorang diri. Beberapa orang terlihat sibuk dengan perangkat notebook di meja yang berbeda. Pun, ada yang sendirian. Sisanya, mereka berbincang satu sama lain. Berdiskusi produk atau bisnis bersama.

Pekerjaan sampingan Mita memang tak punya kantor tetap. Pekerjaan berbasis entrepreneur itu justru bisa dikerjakan dimana saja. Hampir saban minggu, ia “bekerja” dengan sistem nomaden atau berpindah-pindah. Hanya berbekal notebook, gawai, atau sejumlah catatan singkat dalam tas yang selalu ditentengnya.

Ya, bekerja tanpa kantor seperti itu kini banyak ditekuni kaum milenial. Mereka tak butuh tempat tetap untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Cukup berbekal notebook atau gawai, mereka bisa memilih “kantor” di berbagai tempat nongkrong berbasis co-working space di Kota Makassar.

Toh, kantor terbaik adalah tempat paling nyaman menyesap kopi atau sekadar menyandarkan bahu. Ide-ide kreatif bisa muncul dari tempat kerja kasual semacam itu. Tak perlu membuat sekat-sekat kubikel yang dijejali ratusan dokumen.

“Kalau Sabtu dan Minggu (libur kerja kantoran), saya banyak habiskan di luar rumah. Sayangnya, saya terkadang kurang nyaman berada di coffee shop karena terlalu berisik dan agak heboh. Makanya, lebih pilih co-working space,” ujarnya kepada FAJAR, Senin, 2 September.

Menurutnya, kenyamanan bagi para pekerja urban seperti dirinya adalah hal paling penting. Mereka butuh ketenangan sekaligus suasana yang benar-benar segar.

Gerak-geriknya di co-working space juga tak terbatas. Apalagi, pekerjaan sampingannya juga tak butuh kantor yang benar-benar resmi.

Gaya bekerja kaum milenial itu yang ikut memengaruhi transisi kebiasaan masyarakat perkotaan. Berbagai tempat yang menyediakan co-working space sudah tumbuh subur di kota Makassar.

Tentu saja, masing-masing punya keunikan tersendiri yang ditawarkan bagi anak-anak muda maupun pekerja kelas atas.

Working space juga tak melulu hanya diperuntukkan bagi pekerja non-kantoran. Perusahaan juga bisa memanfaatkan ruang-ruang atau space untuk meeting dalam acara tertentu. Itu lantaran, masing-masing pemilik working space juga menyisipkan tempat dengan ruang-ruang meeting atau pertemuan khusus.

Konsep menyediakan kantor bagi pekerja dengan kantor tak tetap sudah lama diterapkan perusahaan seperti Regus. Penyedia ruang kantor ini berada di gedung perkantoran Graha Pena Makassar.

Konsepnya mengacu pada kebutuhan perusahaan terhadap ruang-ruang kantor secara terpadu.

Penyedia co-working yang juga memenuhi kebutuhan kaum milenial terhadap tempat kerja yang nyaman di antaranya BikinBikin. Ini salah satu co-working space paling muda di kota Makassar.

Ruang di Nipah Mall itu ingin menggerakkan industri kreatif kota Makassar tanpa perlu fokus dari kantor.

Marketing and Communication Manager, Jesse Rezky Mulia menganggap ruang co-working space dibutuhkan para milenial untuk menggodok ide-ide kreatifnya. Apalagi, konsep desain dan interior yang mendukung bisa membuat para pekerja semakin betah dan bersemangat. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...