Dunia Anak, Dunia Main, dan Dana Desa

FAHRUL RIZAL RUSTAM, S.Pd., M.Pd

Dosen dan Wakil Sekjend PB HMI MPO

 

Masa terindah dalam hidup seseorang adalah ketika berada di usia anak-anak.

Menurut konvensi hak-hak anak pada sidang majelis umum PBB pada tahun 1989 yang juga selaras dengan undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak yang menyebutkan bahwa anak adalah setiap orang di bawah usia 18 tahun. Momen artifisial itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Tak jarang seorang anak tidak ingin melewatkan masa anak berlalu begitu saja. Bagi anak yang lahir di kampung seperti saya ini. Seorang anak yang berasal dari sebuah desa kecil di sudut pulau Sulawesi. Usia anak bagiku adalah momen yang sangat membahagiakan, sebuah momen yang banyak bergelut dengan dunia kesenangan tanpa dibebani hal-hal yang menguras pikiran seperti tugas, urusan kerja atau berurusan dengan kebutuhan sehari-hari yang terkadang mengerutkan kening kaum dewasa.

Membincang usia anak berarti membincang dunia main. Di Desa Cimpu, Kecamatan Suli, Luwu. Permainan yang paling sering kami lakukan adalah petak umpet, berenang di sungai, main layangan di sawah serta perminan tradisional Maccukke. Tiada hari yang terlewatkan tanpa dunia main, semua berlalu begitu cepat dan sangat ranum di ingatan.

Ketika sore menjelang, permainan tradisional yang sering kami lakukan adalah permainan maccukke. Sebuah permainan yang menggunakan batang belopa/sagu. Sebuah batang yang menghasilkan bahan dasar makanan khas daerah Luwu raya yaitu kapurung. Batang belopa dipotong menjadi beberapa bagian, ada yang berukuran 20 cm dan berukuran 60 cm. Sebuah permainan yang mengajarkan arti kebersamaan, kekompakan dan rasa empati untuk saling menyemangati sesama teman grup atau grup lawan. Kompetisi sangat kental dalam permaianan ini, terkadang muncul kontak fisik, terjatuh, luka, dan sesekali menimbulkan guratan pada tubuh namun tidak pernah sedikitpun ada rasa jengkel, marah, apalagi rasa dendam dalam permainan ini. Semuanya menyatu dengan senyum, canda dan tawa para pemain. Saat ini, permainan ini sudah tidak akrab lagi dengan generasi di desaku. Semoga permainan maccukke tidak hanya sekadar cerita bagi anak cucu di kemudian hari.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad


Comment

Loading...