Dunia Anak, Dunia Main, dan Dana Desa

Rabu, 4 September 2019 - 10:11 WIB

FAHRUL RIZAL RUSTAM, S.Pd., M.Pd

Dosen dan Wakil Sekjend PB HMI MPO

 

Masa terindah dalam hidup seseorang adalah ketika berada di usia anak-anak.

Menurut konvensi hak-hak anak pada sidang majelis umum PBB pada tahun 1989 yang juga selaras dengan undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak yang menyebutkan bahwa anak adalah setiap orang di bawah usia 18 tahun. Momen artifisial itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Tak jarang seorang anak tidak ingin melewatkan masa anak berlalu begitu saja. Bagi anak yang lahir di kampung seperti saya ini. Seorang anak yang berasal dari sebuah desa kecil di sudut pulau Sulawesi. Usia anak bagiku adalah momen yang sangat membahagiakan, sebuah momen yang banyak bergelut dengan dunia kesenangan tanpa dibebani hal-hal yang menguras pikiran seperti tugas, urusan kerja atau berurusan dengan kebutuhan sehari-hari yang terkadang mengerutkan kening kaum dewasa.

Membincang usia anak berarti membincang dunia main. Di Desa Cimpu, Kecamatan Suli, Luwu. Permainan yang paling sering kami lakukan adalah petak umpet, berenang di sungai, main layangan di sawah serta perminan tradisional Maccukke. Tiada hari yang terlewatkan tanpa dunia main, semua berlalu begitu cepat dan sangat ranum di ingatan.

Ketika sore menjelang, permainan tradisional yang sering kami lakukan adalah permainan maccukke. Sebuah permainan yang menggunakan batang belopa/sagu. Sebuah batang yang menghasilkan bahan dasar makanan khas daerah Luwu raya yaitu kapurung. Batang belopa dipotong menjadi beberapa bagian, ada yang berukuran 20 cm dan berukuran 60 cm. Sebuah permainan yang mengajarkan arti kebersamaan, kekompakan dan rasa empati untuk saling menyemangati sesama teman grup atau grup lawan. Kompetisi sangat kental dalam permaianan ini, terkadang muncul kontak fisik, terjatuh, luka, dan sesekali menimbulkan guratan pada tubuh namun tidak pernah sedikitpun ada rasa jengkel, marah, apalagi rasa dendam dalam permainan ini. Semuanya menyatu dengan senyum, canda dan tawa para pemain. Saat ini, permainan ini sudah tidak akrab lagi dengan generasi di desaku. Semoga permainan maccukke tidak hanya sekadar cerita bagi anak cucu di kemudian hari.

Masa anak-anak sangat lekat di ingatan, maka dari itu seorang anak wajib bahagia. Namun, sayang di republik ini masih banyak anak-anak Indonesia yang justru merasakan hal yang berbanding terbalik di usia mereka. Negara Indonesia memperingati Hari Anak setiap tanggal 23 Juli secara nasional, meski berbeda dengan Hari Anak Internasional yang jatuh pada tanggal 1 juni, berbeda pula dengan hari anak universal yaitu setiap tanggal 20 November karena setiap negara memiliki peringatan Hari Anak secara berbeda. Sejarah hari anak di Indonesia berawal dari gagasan Presiden RI kedua, Bapak Soeharto, ditandai dengan keputusan Presiden RI dengan no 44 tahun 1984. Soeharto melihat bahwa anak-anak merupakn aset yang sangat penting dan berharga bagi kemajuan bangsa.

Pada peringatan Hari Anak tahun 2019 di republik ini masih menyisahkan tinta hitam di dunia anak. Laporan hasil investigasi yang dilakukan Kompas pada bulan juli 2019 yang tertuang dalam koran harian Kompas edisi 1 Agustus 2019 menemukan fakta bahwa perdagangan anak untuk berbagai tujuan masih terjadi sejak lama. Hak asasi anak dilanggar karena seharusnya anak mendapat perlindungan rasa aman, pendidikan, dan kehidupan yang layak. Hasil penelusuran tersebut mengungkapakan bahwa anak yang diperdagangkan umumnya adalah tidak siap saat dipekerjakan di tempat umum, bahkan sebagian yang lain diperdagangkan untuk eksploitasi seks.

Kemiskinan dan tidak tersedianya lapangan kerja yang memadai terkhusus di desa-desa  bagi orang tua menjadi salah satu penyebab untuk melepas anak-anaknya bekerja di kota-kota besar untuk mengurangi beban ekonomi keluarga, tak jarang dari mereka kembali ke kampung halaman dengan siksaan, luka-luka sekujur tubuh dan bahkan ada yang pulang sudah menjadi jasad, akibat tindak kriminal di tempat kerja.

Kondisi sosial yang sangat memprihatinkan ini harus diatasi sesegera mungkin demi mengurangi jumlah anak yang menjadi korban. Negara harus bertanggung jawab penuh atas kejadian ini dengan melaksanakan segera langkah seperti mengintensifkan jaringan kerja lintas lembaga terutama perangkat pemerintah daerah, organisasi  non pemerintah, dan komunitas-komunitas pemerhati anak untuk membangun kesadaran terhadap masyarakat agar tidak mempekerjakan anak di usia dini, membangun kesadaran untuk menyekolahkan anak hingga usia dewasa serta melakukan pengawasan aktif terhadap anak agar terhindar dari eksploitasi anak.

Dana desa dapat menjadi salah satu cara yang ampuh untuk mencegah terjadinya perdagangan anak jika digunakan secara tepat, antara lain menciptakan lapangan kerja memadai bagi generasi muda di desa-desa, menghidupkan kemandirian ekonomi desa dengan BUMDES, merangsang lahirnya pekerja kreatif dan pengusaha-pengusaha muda di desa. Menurut Advisor Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Ilya Avianti dalam forum group discussion di Manado. Desa pada dasarnya sudah kaya karena mendapatkan banyak support dana baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

Pengelolahan dana desa menjadi kunci pertumbuhan ekonomi skala desa. Jika dana desa dikelola dengan baik mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban maka berbagai potensi ekonomi desa akan tumbuh dengan baik. Dana desa harus mengangkat sektor ekonomi produktif, jangan lebih banyak dialokasikan untuk membangun talut, jalan, gapura, dan perbaikan balai jalan meski tidak salah hal demikian karena PP Nomor 60 Tahun 2014 juga mengamanatkan seperti itu.

Dana desa merupakan modal potensial untuk mendorong perputaran ekonomi skala desa yang bermuara pada kesejahteraan warga desa. Dana desa harus lebih diberdayakan untuk menciptakan seluas mungkin lapangan pekerjaan di pedesaan sehingga rantai urbanisasi bisa terputus karena desa telah menyediakan lapangan pekerjaan, kemandirian, serta usaha-usaha mikro dan makro bagi generasi anak sejak dini. (*)

loading...