Ke Manakah Arah Pergerakan Terorisme di Asia Paska ISIS

Oleh: Irjen Pol Hamidin (Kapolda Sulsel)

Sel-sel Teroris Sedang Tidur Panjang dan Hibernasi

Sebagaimana penulis sampaikan terdahulu bahwa ancaman terorisme itu senantiasa ada dan tetap ada. Tertangkapnya para Amir Alqaedah Indonesia (JI) tahun 2005 hingga tahun 2015 lalu dan kalahnya ISIS di Irak dan Suriah tidak serta merta menghilangkan ideologi pro kekerasan terorisme.

Isu terakhir kekalahan ISIS di Marawi, Mindanao, Jolo dan sekitarnya ternyata telah mengundang returnees dan deportees menjadi kelompok Relocator (pendatang) untuk ikut melakukan amaliyah dinegara orang lain, kelompok kecewa karena cita cita hijrah yang tidak kesampaian (frustrated traveller) juga ingin melakukan amaliyah dengan cara mereka sendiri.

Belum lagi para narapidana teroris yang tidak bisa tersentuh program soft approach seperti deradikalisasi dan kontra radikalisasi, mereka yang masuk dalam kategori hardcore akan senantiasa mencari cantolan organisasi seideologi untuk kemudian melakukan amaliah mereka sendiri.

Sungguh mereka ini sedang hibernasi dan tidur panjang  menunggu sang situasi. Untungnya aparatur Indonesia peka dan sangat memahami akar radikalisme di tanah air. Indonesia bisa menelisik dengan cermat proses radikalisasi, baik radikalisasi yang dahulu terbentuk dari pertalian keluarga (kinship), patron ketokohan dan amir (worship),  patron guru dan murid dalam  pembelajaran radikal (decipleship) dan pertemanan (friendship ) dari waktu ke waktu dapat diinvestigasi secara baik.

Hampir semua proses itu terpetakan dengan baik.  Tetapi betapapun juga sel-sel jaringan radikal yang ingin menggantikan ideologi dan menganggap ideologi dan symbol negara sebagai syrik dan syrik akbar  itu senantiasa masih ada. Mereka sedang hibernasi menunggu gelombang jaringan besar dan aparat yang lengah.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...