Direktur Utama Bank Sulselbar Dicopot, Rahmat : Saya Berupaya Menjalankan Amanah

Kamis, 5 September 2019 - 10:48 WIB

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR — Kisruh kredit macet membuat kursi direksi Bank Sulselbar digoyang. Direktur utamanya, Andi Muhammad Rahmat, dicopot.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, menyebut pencopotan jabatan Dirut Bank Sulselbar merupakan keinginan mayoritas pemegang saham. Selain itu tegas Nurdin, rekrutmen karyawan juga tidak transaparan.

Termasuk layanan IT target bank devisa tak ada progres signifikan.”Itu semua jadi atensi pemegang saham,” beber Nurdin usai RUPS Luar Biasa, di Four Point Hotel By Sheraton, Rabu, 4 September.

Tingginya angka kredit macet dipicu pinjaman RS Islam Faisal. Pembayaran utang sebesar Rp100 miliar tak mulus.Akibatnya, angka Non Performing Loan (NPL) Bank Sulselbar meningkat 100 persen. Selain itu, sejumlah sektor produktif yang dibiayai juga bermasalah. Seperti ekspor telur ikan terbang dan komoditas lainnya.

Namun dari sisi lain, Bank Sulselbar justru mampu mencatatkan kinerja moncer. Aset tumbuh 24,53 persen menjadi Rp25,6 triliun. Berkontribusi 17 persen dari total aset perbankan di Sulsel pada semester I 2019.

Andi Muhammad Rahmat sudah ikhlas jika jabatannya dicopot. Namun dia menjelaskan, terkait kredit macet di RS Faisal, itu murni karena pengaruh bisnis. “RS Faisal belum bayar utang karena juga belum dibayar oleh BPJS Kesehatan. Rumah sakit itu harus kita bantu,” ujarnya.

Sementara progres bank devisa kata Rahmat, sudah berproses di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dijelaskannya, menjadi bank devisa memang termasuk salah satu corporate plan dari BPD yang juga sejalan dengan program pemprov Sulsel.

Syarat utamanya telah dipenuhi seperti memiliki modal inti diatas Rp1 triliun dan rasio KPMM diatas 10 persen. “Syarat lain, yah memang perlu waktu, bahwa tingkat kesehatan bank minimal 2 selama 18 bulan terakhir,” paparnya.

Lebih lanjut, Ia mengaku bahwa pihaknya sukses menjaga itu sepanjang tahun 2018 (selama 12 bulan). Hingga Juni 2019 (6 bulan) tetap terjaga.

Sehingga baru pada Juli, telah memasuk surat izin itu ke OJK. “Nah level service OJK itu 60 hari. Artinya untuk bank devisa kita sisa menunggu waktu. Sebab, kita penuhi dulu semua syarat sesuai aturan yang ada,” bebernya.

Dalam kesempatan itu juga, Andi Muhammad Rahmat saat ditemui di kantornya mengatakan, meminta maaf kalau dalam kepemimpinannya, ia mengambil kebijakan yang tidak baik untuk untuk internal perseroan.

“Selaku bank daerah, kami pastinya ingin selalu merealisasikan keinginan pak gubernur,” katanya.

Saat ditanyai, bagaimana plaining saat melepas jabatan sebagai Dirut, ia mengaku, kalau kemungkinan tidak akan masuk di sektor perbankan lagi. “Saya berupaya menjalankan amanah dengan baik. Tidak semua orang bisa merasakan hal yang seperti ini,” pungkasnya. (tam-ful/dir)

Loading...