Uang Asing Palsu Senilai Milyaran Rupiah Diamankan Polisi

Kamis, 5 September 2019 - 08:07 WIB
Tim Direktorat Tindak Pidana Khusus (Dittipidsus) Bareskrim Polri mengungkap tiga jaringan pengedar mata uang palsu jenis rupiah dan asing di beberapa wilayah berbeda

FAJAR.CO.ID,JAKARTA–Tim Direktorat Tindak Pidana Khusus (Dittipidsus) Bareskrim Polri mengungkap tiga jaringan pengedar mata uang palsu jenis rupiah dan asing di beberapa wilayah berbeda, dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Hasilnya, uang senilai miliaran rupiah diamankan.

Uang tersebut, berupa ratusan lembar dolar Singapura pecahan 10.000, dan dolar Brunei Darusalam, dolar Amerika, serta mata uang asing lainnya.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, pengungkapan peredaran mata uang palsu dengan jenis rupiah dan asing dilakukan di tiga lokasi berbeda.

Pertama di wilayah Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 21 Juni 2019. Dedi menyebut, ada tiga tersangka yang berhasil diamankan dalam kasus tersebut.

“Tiga tersangka itu, masing-masing Misni, BD, dan TR. Mereka diketahui, mengedarkan uang palsu pecahan Rp100 ribu ke sejumlah pasar-pasar tradisional di wilayah Banyumas dan Banjarnegara,” kata Dedi di Bareskrim Polri, Rabu (4/9).

Menurut Dedi, dalam pengungkapan kasus ini polisi berhasil menyita uang pecahan Rp100 ribu yang diduga palsu sebanyak 149 lembar. Kemudian, ada handphone milik para tersangka, serta satu unit mobil Toyota Calya.

Kasus kedua, petugas menangkap tersangka pengedar uang palsu di jalan Soekarno Hatta Km 28, Kecamatan Bergas-Klepu, Semarang, Jawa Tengah. Kasus ini masih terkait peredaran mata uang palsu jenis rupiah dengan pecahan Rp100 ribu.

“Ada satu tersangka yang diamankan dalam kasus ini, berinisial TN. Tim menyampaikan, apabila kasus ini tak lepas dari peran masyarakat yang memberikan informasi kepada petugas dengan aksi kejahatan tersebut, dan hasilnya kita berhasil mengungkapnya,” terang Dedi.

Diakui Dedi, untuk dua kasus peredaran uang palsu tersebut pihaknya masih memburu dua pelaku lainnya yang kini telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), yakni berinisial M dan R.

“Iya, kini keduanya saat ini masih terus diburu anggota di lapangan,” ujarnya.

Terkait kasus ini sendiri, Dedi menjelaskan, petugas berhasil menyita sebanyak 1.659 lembar uang palsu pecahan Rp.100.000, atau setara Rp 165.900.000, lalu 120 lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu atau setara Rp 6.000.000, serta satu unit sepeda motor merk Honda milik tersangka.

“Tersangka ini mengakui, perbuatannya didasari karena motif ekonomi. Termasuk tersangka kasus sebelumnya juga,” jelas Jendral bintang satu tersebut.

Adapun kasus yang terakhir. Dedi mengungkapkan, Tim Opsnal Subdit Dittipidsus Bareskrim Polri meringkus jaringan pembuat dan pengedar uang palsu, baik mata uang rupiah maupun sejumlah mata uang asing lainnya di Jakarta – Bandung.

“Jaringan ini tak hanya buat satu jenis uang palsu, tapi berbagai mata uang dari rupiah, Dolar Singapura, Poundsterling, mata uang Kazakhtan, mata uang Brunei Darussalam, dan juga Dollar Amerika,” ungkapnya.

Dedi menyebut, dalam kasus ini enam tersangka dengan peran berbeda berhasil diringkus dengan lokasi yang berbeda, masing-masing JA alias Yuyun tersangka pengedar dan pembuat uang palsu mata uang Dolar Singapura di warung makan daerah Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Peran tersangka JA tak hanya mengedarkan, tapi membuat uang palsu pada tahap finishing agar uang palsu lebih menyala dengan Sinar UV menggunakan pospor,” ujarnya.

Dalam penangkapan ini, kata Dedi, sejumlah barang bukti yang berhasil diamankan. Antara lain, 100 lembar uang rupiah perahu layar,300 lembar dolar Singapura pecahan Rp 10 ribu, 60 lembar gold plat, 100 lembar uang Kazahktan pecahan 1 dolar, 57 lembar Poundsterling pecahan 1 juta, dan 10 lembar uang dollar Amerika pecahan 1 dollar, serta 98 lembar mata uang Brunei Darussalam.

“Selain itu juga, petugas berhasil menyita alat untuk membuat uang palsu, berupa satu buah lampu UV, 22 alat screen, 4 buah master plat uang poundsterling, dan 2 buah pospor warna kuning emas dan putih,” urai Dedi.

Masih kata Dedi, tersangka lain yang berhasil diringkus petugas, adalah SM selaku pengedar uang palsu dollar Singapura dan Brunei Darussalam, serta empat pembuat uang palsunya, yakni CH, L, AH, dan H, berikut dengan sejumlah barang bukti berbagai alat pembuat uang palsu.

“Mereka ini semua masih satu jaringan, dan biasa beroperasi di wilayah Jakarta dan Bandung. Banyak barang bukti yang kami sita, di mana barang bukti itu tak cuma uang palsu, tapi alat-alat untuk membuat sejumlah uang palsunya juga berhasil disita,” terang Dedi.

“Barang buktinya itu, seperti satu flashdisk merk Sandisk yang berisi file master berbagai macam gambar mata uang asing dari beberapa negara, dua lembar plastik film berhologram, satu unit Mesin Cetak Offset Merk Hiedlberg, satu unit alat pemotong Merk Shanghai, satu lembar hasil cetakan mata uang Singapura pecahan 10.000, berikut 1.000 lembar uang diduga palsu” jelasnya.

Wadir Dittipidsus Kombes Pol Helmy Santika menyampaikan, pengungakapan jaringan pembuat dan pengedar mata uang palsu berbagai jenis di wilayah Jakarta- Bandung ini, terungkap pada 16 Agustus 2019 lalu, setelah ada laporan masyarakat terkait peredaran mata uang asing tersebut.

Dari laporan itu, kata Helmy, Tim Opsnal Subdit Upal yang dipimpin oleh AKP Anton Santoso pun langsung bergerak, setelah juga mendapatkan informasi bahwa akan dilakukan transaksi penjualan Ringgit Brunei Darrussalam di daerah Cileunyi, Jawa Barat.

“Jadi, ini awalnya kita tindaklanjuti laporan masyarakat. Dan hasilnya, ditelusuri oleh tim dengan melakukan pembuntutan terhadap orang yang diduga akan melakukan pembelian mata uang asing palsu. Hasilnya, tim curiga dengan seorang yang kemudian langsung diamankan dilokasi,” ujarnya.

“Kecurigaan anggota itupun terbukti, setelah seseorang yang kita ketahui bernama SM ini digeledah dan ditemukan di dalam tasnya berisi mata uang dari Negara Brunei Darussalam, dengan nominal 10.000 sebanyak 100 lembar,” sambungnya.

Adapun setelah diamankan berikut barang buktinya itu. Helmy menuturkan, anggota pun langsung memulai pengembangan terhadap jaringan tersebut, dimana dari keterangan tersangka uang palsu yang dibawanya diakui didapatkan dari tersangka JA.

“JA ini kita tangkap di hari berikutnya, di rumah makan warteg daerah Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Tak sampai disitu, pengembangan pun berlanjut hingga kami berhasil tangkap para pembuat uang-uang negara asing tersebut, yakni CH di Pasar Baru, Jakarta Pusat,” ungkapnya.

Terakhir, dari penangkapan CH ini juga kemudian tim pun berhasil kembali menangkap orang-orang yang terlibat dalam membuat uang palsu, di salah satu percetakan di daerah Petamburan, Jakarta Barat. Dan ditempat itu, ditangkap tiga orang pemilik percetakan L, dan dua orang pegawainya AH selaku operator mesin cetak offset dan H selaku operator alat potong.

“Di sini kita ketahui, modus jaringan ini membuat uang palsu ternyata melibatkan toko percetakan untuk mencetak offset dan untuk memotong lembaran kertas uang palsu, makanya kami juga menangkap pemilik percetakan dan juga dua karyawannya,” tutur Helmy.

Kini atas perbuatan para tersangka, mereka bakal dijerat dengan tindak pidana kejahatan mata uang rupiah, yakni menyimpan dan atau mengedarkan/membelanjakan mata uang itu seolah-olah asli dan tidak dipalsukan, sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 ayat (2) dan atau ayat (3) UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

“Selain itu, kita jerat juga para tersangka ini dengan Pasal 244 dan atau pasal 245 dan pasal 55 KUHP tentang Mata Uang. Ancamannya maksimal 5 tahun penjara,” tutupnya. (fin)

Loading...