Guru Seharusnya Bahagia dan Pendidikan Seharusnya Menggembirakan

Jumat, 6 September 2019 - 10:16 WIB

Wongso Adi Saputra

Dosen Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris

 Saat ini seluruh dunia sedang derada dalam era baru kehidupan. Kehidupan di mana segalanya bisa didapatkan hanya dengan menggerakkan jari-jemari kita. Kehidupan yang benar-benar tidak ada lagi batasan yang berarti antara satu negara dengan negara yang lainnya. Era itu dinamakan sebagai era revolusi industri 4.0.

Dalam era revolusi industri 4.0, segala yang dibutuhkan mudah untuk didapatkan, segala yang diinginkan tersedia. Baik itu kendaraan, pakaian, makanan, minuman, ataupun hiburan. Hal tersebut membuat segalanya menjadi mudah dan menyenangkan. Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana dengan pendidikan? Apakah pendidikan saat ini sudah menjadi pendidikan yang menyenangkan dan menggembirakan?

Alih-alih menggembirakan, pendidikan di Indonesia saat ini sedang terpuruk dan berada di kasta terendah dalam pemeringkatan kualitas pendidikan dunia. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Indonesia menempati rangking ke-69 dari total 76 negara. Merupakan hal yang sangat disayangkan mengingat Indonesia merupakan negara yang besar. Apalagi jika melihat kesuksesan negara-negara tetangga seperti Malaysia, terutama Singapura yang saat ini adalah negara yang berada diperingkat pertama dibidang pendidikan menurut versi OECD.

Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan, pendidikan di Indonesia membutuhkan perhatian yang lebih hari ini. Perbaikan tersebut dibutuhkan karena saat ini merupakan momen yang sangat tepat mengingat kemudahan yang ditawarkan oleh era revolusi industri 4.0 ini. Apalagi bila mengacu prioritas utama presiden Joko Widodo pada pemerintahan periode keduanya ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Maka tindakan yang sangat tepatlah bila pendidikan di Indonesia mendapat porsi besar dalam segala hal baik tenaga, pemikiran, dan pendanaan dari pemerintah.

Berbicara mengenai pendidikan, pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang menggembirakan. Bahkan dalam salah satu hadits Rasulullah dikatakan bahwa “majelis ilmu merupakan taman-taman surga”. Mungkin saya menafsirkannya terlalu luas, bahwa majelis ilmu yang dimaksud di sini bukan hanya pengajian yang dilaksanakan di masjid tetapi mungkin juga proses belajar-mengajar di sekolah. Maka jika sekolah adalah taman-taman surga, bersekolah seharusnya menyenangkan dan menggembirakan para siswa untuk selalu datang dan datang dalam rangka menuntut ilmu.

Jika sekolah itu menyenangkan, maka seharusnya dalam menuntut ilmu, para siswa menyerapnya dengan tersenyum dan tanpa beban. Sayangnya saat ini pendidikan di Indonesia masih dapat dikatakan belum memberikan kesan menggembirakan bagi para peserta didiknya. Setidaknya hal tersebut dapat diukur dari pemeringkatan pendidikan di Indonesia yang saat ini berada pada 10 besar terbawah.

Maka apa yang harus dilakukan agar pendidikan di Indonesia menjadi pendidikan yang menggembirakan baik dari segi kualitas ataupun proses belajar-mengajarnya? Hal yang paling pertama dan utama utuk dilakukan adalah dengan menyejahterkan para pendidiknya. Bahagiakan guru-gurunya karena guru yang bahagia pasti akan menularkan kebahagiaan itu kepada murid-muridnya. Ketika guru mengajar dengan rasa bahagia, maka yakinlah bahwa atmosfir kebahagiaan itu akan berdampak sangat positif terhadap proses belajar-mengajar dikelas.

Namun, bila pendidik atau guru tidak bahagia, maka yang ada hanya kesan suram di dalam kelas meskipun metode pengajaran yang digunakan semenarik apapun oleh guru tersebut bila tidak disertai hati yang bahagia, maka tidak akan terasa menyenangkan sama sekali. Memang betul ada istilah “Show must go on” yang berarti para peserta didik tidak perlu melihat bahwa apakah gurunya sedang sedih atau sebaliknya, tetapi mau tidak mau apapun yang datang dari hati pasti akan tecermin juga kepada orang-orang di sekitar kita.

Untuk membuat para pendidik bahagia setiap saat pastilah bukan pekerjaan yang mudah bagi semua pihak yang memegang peranan seperti kepala sekolah dan pemerintah. Tapi setidaknya pemerintah dapat menjadi bagian penentu kesejahteraan para pendidik tersebut. Orang-orang yang sejahtera pastilah akan dengan mudah mendapatkan kebahagiaan walaupun mungkin tidak selalu seperti itu. Namun, setidaknya menurut prinsip piramida terbalik Maslow mengenai kebutuhan dasar manusia, setelah kebutuhan fisiologis (oksigen, makanan, minuman, istirahat dll.), maka yang berikutnya adalah kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan.

Bukankah ketika manusia sejahtera, itu karena mereka merasa aman dan terlindungi? Aman dan terlindungi dari rasa takut mengenai kecukupan keuangan mereka sampai akhir bulan. Aman dan tercukupi mengenai jaminan hidup mereka ketika sakit sampai hari tua. Aman dan tercukupi mengenai kepastian hidup anak-anak mereka. Ketika seluruh kebijakan pemerintah didahului oleh perbaikan kesejahteraan para guru, maka yakin dan percaya, para pendidik akan menerimanya dengan lapang dada dan pastinya bahagia.

Guru seyogianya merupakan pondasi dari pendidikan, hal tersebut bukan hanya berlaku di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia, maka tidak salah jika saya berpendapat bahwa tanpa guru tidak akan ada seorang presiden dan tidak akan berdiri suatu negara. Ketika menginginkan perbaikan pendidikan seperti halnya pendidikan dari negara berkembang lainnya, saya pikir tidak semudah mengimpor tenaga pengajar atau pendidik dari negara maju tersebut, tetapi yang perlu dilakukan adalah membandingkan tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan guru-guru mereka terlebih dahulu. Karena pada dasarnya manusia seharusnya bahagia, guru seharusnya bahagia, dan pendidikan seharusnya menggembirakan. (*)

loading...