Paulus Suryanta Ginting Ditahan di Sel Isolasi? Ini Kata Polri

Jumat, 6 September 2019 - 09:36 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Diduga melakukan makar atas aksinya mengibarkan bendera Bintang Kejora, Paulus Suryanta Ginting, ditahan aparat kepolisian dari Mako Brimob, Depok, Mabes Polri.

Kepala Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Nelson Nikodemus Simamora menuding Paulus Suryanta Ginting ditahan di sel isolasi.

Nelson Nikodemus mengatakan bahwa mendapat informasi dari rekan-rekannya yang telah membesuk Paulus Suryanta Ginting. Dikatakan bahwa aktivis Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) itu ditempatkan di tahanan isolasi.

Meski demikian, Nelson mengaku belum melihat secara langsung. Alasannya, Nelson belum mendapat akses ke dalam sel. “Kalau itu dia (Suryanta) terpisah dan beda dengan yang lain ruangannya. Yang kami dengar itu kemarin. Surya cerita (isolasi) ke kita waktu jenguk,” ujar Nelson saat dihubungi, Kamis (5/9).

Dari cerita yang didapatkan Nelson, Paulus Suryanta Ginting ditahan sel isolasi yang kondisinya sangat gelap. Kondisi itu membuat para penghuninya tidak bisa melihat di sekitarnya. Ditambah pula banyak nyamuk.

“Kemudian dia enggak ada temannya satu sel. Kami enggak bisa lihat apa sebenarnya yang ada di situ yang di dalam ruang,” tambahnya.

Baca Juga: Gara-gara Pompa ASI, Puting Payudara Aktris Cantik Ini Pecah!

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menepis kabar tentang Paulus Suryanta Ginting ditahan di sel isolasi. Dia memastikan tidak ada sel isolasi di rutan Mako Brimob.

Sebelum melakukan penahanan, imbuh Argo, polisi selalu memenuhi hak tahanan. Di antaranya, pemeriksaan kesehatan, makan yang cukup, pakaian tahanan, penyampaian keluhan, hak waktu kunjungan, bahkan aspek kerohanian juga dipenuhi berupa pemberian Alkitab untuk Paulus Suryanta Ginting.

“Tersangka Suryanta ditempatkan di ruang isolasi adalah tidak benar. Polri tidak memiliki sel isolasi,” kata Argo.

Untuk mempertegas pernyataannya, Argo mengirimi foto-foto kondisi 6 tersangka kasus pengibaran bendera Bintang Kejora di dalam tahanan. Dalam foto itu tidak terlihat ada sel gelap. Ada beberapa sel lain yang terdapat di samping sel Suryanta.

Mantan kabid Humas Polda Jatim itu menegaskan bahwa tidak ada perbedaan perlakuan terhadap setiap tahanan. Keenam tersangka yang ditahan dijerat dengan pasal dugaan makar. Penahanan dilakukan berdasar regulasi The United Nations Standard Minimum Rules For The Treatment of Prisoners.

Dalam aturan itu, tahanan harus dipisahkan sesuai karakteristik status hukum, jenis kelamin dan usia. Kemudian juga mengacu pada Peraturan Kapolri Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perawatan Tahanan di Lingkungan Polri.

Dalam Pasal 4 diatur tentang penempatan tahanan di lingkungan Polri, di Rutan Brimob yaitu untuk kepentingan penyidikan makar. Sedanhkan pada Pasal 7 mengatur tentang penempatan tahanan untuk tahanan lingkungan Polri dibedakan berdasarkan umur, jenis kelamin, serta tindak pidana.

“Tsk Surya (Paulus Suryanta Ginting) ditempatkan di Rutan Kelapa Dua brimob Polri sesuai permohonan penyidik karena berdasarkan penilaian penyidik enam tsk tersebut adalah tersangka yang berpotensi tinggi berdasarkan perbuatan dan ancaman pidana,” pungkas Argo.

Sejoli Dibegal, Pelaku Tembak Paha Sang Wanita

Abdullah Morsi, Putra Mohamed Morsi Dilaporkan Meninggal

Bandar Udara Arung Palakka, Perpanjangan Landasan Butuh Rp20 Miliar

Presiden Iran Hassan Rouhani Perkaya Uranium Lebih Cepat

Kondisi Terkini Papua: Penarikan Ribuan TNI-Polri Belum Pasti

Hal itu sesuai dengan Pasal 106 Juncto pasal 87 dan atau pasal 108 KUHP tentang makar. Mereka terancam pidana seumur hidup dan atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama 20 tahun.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya memutuskan memulangkan dua dari delapan orang tersangka pengibaran bendera Bintang Kejora di depan Istana Negara. Dua orang itu, Naliana Wasiangge dan Norince Kogoya. Kini tersisa 6 orang tersangka di dalam tahanan.

Pemulangan Naliana Wasiangge dan Norince Kogoya karena tidak terbukti terlibat dalam pengibaran bendera bintang kejora di depan Istana Negara.

Kasus ini bermula saat Aliansi Mahasiswa Papua dan Papua Barat yang mengatasnamakan diri sebagai Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme Papua & Papua Barat menggeruduk Gedung Polda Metro Jaya. Mereka menuntut pembebasan terhadap kedua temannya yang ditangkap pada Jumat (30/8). Penangkapan itu atas tuduhan pengibaran bendera bintang kejora di depan Istana Negara. (jp)

Loading...