Beredar Selebaran DPO Veronica Koman, Polda Metro Jaya : Tidak Benar Mengeluarkan

FAJAR.CO.ID,JAKARTA – Selebaran terkait daftar pencarian orang (DPO) atas nama Veronica Koman yang dikeluarkan Polda Metro Jaya dan tersebar di grup-grup (Whatsapp) ternyata hoaks. Polda Metro Jaya membantah menerbitkan selebaran tersebut. Selembaran berisi foto dan informasi lengkap Veronica Koman, sekaligus tertera call center 08121312006 tersebar melalui media sosial Whatsapp. “Polda Metro Jaya tidak benar, mengeluarkan lembaran informasi terkait DPO ini karena belum ada laporan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono saat dihubungi awak media, Jumat (6/9). Argo menegaskan, pihaknya tidak pernah menerbitkan maupun mengedarkan selebaran DPO itu. Bahkan, diakui Argo, dari format selebaran DPO yang tersebar tersebut bukan format selebaran yang biasa dibuat tim Polda Metro Jaya. “Format DPO yang kami buat bukan seperti itu. Lagipula, kasus yang bersangkutan bukan berada di wilayah Polda Metro Jaya. Silakan dikonfirmasi dengan Polda yang menangani,” tegas perwira menengah Polri berpangkat melati tiga tersebut. Seperti diketahui, Veronica Koman saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka di Polda Jawa Timur. Veronica Koman diduga menyebar provokasi dan hoaks terkait insiden mahasiswa Papua di Surabaya. Namun hingga kini, yang bersangkutan belum diamankan aparat kepolisian Polda Jatim, karena kabarnya saat ini berada di luar negeri. Adapun untuk dapat menangkap tersangka itu polisi pun telah menggandeng Interpol untuk melacaknya Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan, tersangka kasus provokasi dan penyebaran hoaks terkait insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, atas nama Veronica Koman merupakan WNI, tapi saat ini berada di luar negeri. “Ya kalau VK kan masih warga negara Indonesia, karena keberadaannya di luar negeri, maka nanti dari Interpol akan membantu untuk melacak yang bersangkutan sekaligus untuk proses penegakan hukumnya. Nanti akan ada kerja sama dengan police to police,” kata Dedi. Menurut Dedi, penetapan tersangka Veronica ini dilakukan tim penyidik Polda Jawa Timur, setelah gelar perkara dan memeriksa sejumlah saksi, seperti tiga orang saksi, tiga orang saksi ahli, dan mengumpulkan bukti-bukti terkait provokasi. “Di dalam Twitter-nya, narasi-narasinya, sebagai contoh narasinya yang dibunyikan ada korban pemuda Papua yang terbunuh, yang tertembak, kemudian ada konten-konten bersifat provokatif, ya. Untuk mengajak, apa namanya, merdeka dan lain sebagainya itu. Sudah dilacak dari awal,” kata Dedi. Atas perbuatannya itu, tersangka pun dianggap telah melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 160 KUHP, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Penghapusan Suku, Etnis dan Ras. (FIN)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...