Zaitun Masipa: Saya Papua dan Saya Bisa

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PAPUA– “Saya Papua dan saya bisa” Kata-kata itu menjadi penutup kisah Zaitun Masipa saat bercerita tentang keberhasilannya menjadi bagian perusahaan migas dunia. Ia pun menuturkan, perjalanannya menjadi teknisi produksi Tangguh LNG di Papua tidak mudah.

Sejak SMP, gadis asal Tofoi, Kecamatan Sumuro, Kabupaten Teluk Bintuni ini sudah memupuk mimpinya untuk bekerja di Tangguh LNG, Papua. Alasannya sederhana, dia ingin memastikan operasional produksi LNG perusahaan migas asal Inggris tersebut tidak membawa dampak negatif bagi daerahnya.

“BP beroperasi di daerah yang sangat dekat dengan daerah saya tinggal,” tutur Zaitun Masipa.

Zaitun Masipa mengaku ingin memastikan operasional mereka berjalan dengan baik, tidak hanya memproduksikan LNG tetapi juga limbah-limbahnya diolah agar tidak membahayakan lingkungan karena di sekitar sana banyak nelayan.

“Kalau saya tidak di sana, saya tidak tahu operasionalnya berjalan bagus atau tidak, bisa membahayakan kampung saya yang di dekat sana atau tidak. Bahaya terbesar adalah ledakan, jadi harus saya pastikan aman,” kata Zaitun Masipa di booth BP saat IPA Convex 2019 pekan lalu.

Dia lalu mencari cara untuk bisa bekerja di Tangguh LNG yang dioperasikan oleh BP (British Petroleum) Indonesia. Kesempatan pun datang saat BP membuka program bagi masyarakat Papua untuk belajar di SMK Migas di Cepu, Jawa Tengah. Seleksi demi seleksi dia ikuti. Hingga akhirnya, pada 2009 dia resmi masuk ke sekolah tersebut.

“Saat itu saya bilang, saya putri Papua. Saya harus mengoperasikan plant yang ada di sana, saya harus bisa mengoperasikan BP Tangguh. Saya tidak mau kalau ada orang nanya, saya tidak tahu padahal itu daerah saya. Meski saya perempuan, saya harus bisa,” ujar Zaitun Masipa.

Tekad besar Zaitun Masipa tidak surut meski orang tuanya sempat khawatir lantaran harus melepas putrinya sekolah di Jawa. Tempat dengan jarak ribuan kilometer dari tanah mereka, Papua. “Kata orang tua, takut saya tinggal di kolong jembatan padahal tidak begitu. Kan dibiayai oleh BP,” kata Zaitun Masipa lalu tertawa.

Setelah berhasil meyakinkan orang tuanya, Zaitun berangkat ke Jawa untuk belajar tentang produksi migas. Lulus dari SMK Migas pada 2012, dia pun melanjutkan pendidikan ke PEM (Politeknik Energi dan Mineral) Akamigas Cepu.

“Di situ dibatasin juga, pada angkatan saya cuma diambil 3 orang. Lagi-lagi saya terpilih di antara 3 itu, senangnya luar biasa karena impian saya untuk bisa bergabung di BP semakin lebar,” kenang Zaitun Masipa. Setelah lulus, dia mendapatkan tawaran dari BP untuk ikut intership program selama 6 bulan.

Lulus dari internship program, ternyata tidak lantas membuat Zaitun langsung masuk ke BP Indonesia. Dia masih harus menjalani BP Technician Apprentice Program di Ciloto, Jawa Barat selama 3 tahun sejak Februari 2016 hingga Februari 2019. Kemampuan Bahasa Inggris tentu mutlak diperlukan ketika bekerja di perusahaan migas asing. Ini menjadi tantangan tersendiri baginya.

“Kita sering susah berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Kita juga kesulitan menjawab tes-tes dalam Bahasa Inggris sehingga kita cari teman-teman yang pintar Bahasa Inggris untuk mengajari kami,” imbuh Zaitun Masipa lulusan SMP Stella Maris, Tofoi ini.

Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil saat Zaitun Masipa berhasil menjadi BP production technician pada April 2019 silam. Adanya perusahaan migas di wilayahnya turut membantu perekonomian masyarakat setempat.

Menurutnya, BP Tangguh bukan hanya peduli dengan pendidikan masyarakat di wilayah operasionalnya tetapi juga ikut berperan mengembangkan ekonomi lokal.

“Ibu dan bapak saya petani. Hasil pertanian mereka dikirim ke BP Tangguh dan dibeli langsung. Saya mulai berpikir bagaimana kalau tidak ada BP Tangguh kedua orang tua saya menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya,” papar Zaitun Masipa.

Mimpi dan tekad Zaitun Masipa ternyata mampu mengobarkan semangat anak Papua lainnya. “Kami mahasiswa di Papua dan Papua Barat terkadang terkendala dengan minimnya fasilitas mungkin dengan hal ini menjadi motivasi untuk kita,” kata Janeke Waromi, mahasiwi Jurusan Teknik Biologi Universitas Papua. Industri migas pernah berjaya di Indonesia.

Tentu masih ada ribuan anak muda seperti Zaitun Masipa bermimpi untuk bisa bekerja di industri tersebut. Sayangnya, era tersebut perlahan redup. Presiden Joko Widodo di Kongres PDI Perjuangan bahkan mengatakan jika kejayaan minyak RI sudah selesai. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan turut mengamini pernyataan presiden.

Selama 5 Tahun Terakhir, Kementan Terus Lakukan Modernisasi Pertanian

Kejaksaan Negeri Maros Tak Tahan Hatta, Ini Kata LSM

Nia Daniaty Kecelakaan Di Bojonegoro, Seperti Ini Kondisinya

PERAGI: Mentan Ubah Wajah Pertanian Indonesia Lebih Modern dan Disegani

Gracia Indri: Saya Masih Punya Cita-cita Bangun Rumah Tangga

Sebab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indonesia resmi menjadi net importir minyak sejak 2004. Tetapi, pemerintah masih memiliki mimpi terhadap produksi migas RI. Indonesia bermimpi untuk bisa memproduksi minyak hingga 1 juta barel per hari (bph). Jauh lebih tinggi dibandingkan target lifting minyak tahun ini yang hanya mencapai 775 bph.

Pemerintah pun melakukan berbagai macam cara guna meningkatkan produksi migas di Indonesia. Antara lain, menerbitkan beleid keterbukaan data untuk mengoptimalkan produksi. Lalu, melakukan transformasi dari cadangan menjadi produksi serta berupaya aktif mempercepat segala macam pembahasan, penerapan teknologi EOR, dan terakhir mendorong eksplorasi. Eksplorasi migas memang menjadi kunci utama guna mengerek produksi migas tanah air.

Eksplorasi perlu diwujudkan untuk memanfaatkan potensi cadangan migas yang ada. Pemerintah juga menawarkan 10 potensi cadangan migas dan berharap stakeholders dapat bergabung menggarap open area ini.

“Kita membutuhkan banyak investasi, untuk mendorong efisiensi dan mengoptimalkan produksi. Selain itu kita juga berupaya menghadirkan stabilitas investasi dan terus membangun komunikasi yang lebih baik,” ungkap Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. (jp)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...