Zaitun Masipa: Saya Papua dan Saya Bisa


“Kita sering susah berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Kita juga kesulitan menjawab tes-tes dalam Bahasa Inggris sehingga kita cari teman-teman yang pintar Bahasa Inggris untuk mengajari kami,” imbuh Zaitun Masipa lulusan SMP Stella Maris, Tofoi ini.Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil saat Zaitun Masipa berhasil menjadi BP production technician pada April 2019 silam. Adanya perusahaan migas di wilayahnya turut membantu perekonomian masyarakat setempat.Menurutnya, BP Tangguh bukan hanya peduli dengan pendidikan masyarakat di wilayah operasionalnya tetapi juga ikut berperan mengembangkan ekonomi lokal.“Ibu dan bapak saya petani. Hasil pertanian mereka dikirim ke BP Tangguh dan dibeli langsung. Saya mulai berpikir bagaimana kalau tidak ada BP Tangguh kedua orang tua saya menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya,” papar Zaitun Masipa.Mimpi dan tekad Zaitun Masipa ternyata mampu mengobarkan semangat anak Papua lainnya. “Kami mahasiswa di Papua dan Papua Barat terkadang terkendala dengan minimnya fasilitas mungkin dengan hal ini menjadi motivasi untuk kita,” kata Janeke Waromi, mahasiwi Jurusan Teknik Biologi Universitas Papua. Industri migas pernah berjaya di Indonesia.Tentu masih ada ribuan anak muda seperti Zaitun Masipa bermimpi untuk bisa bekerja di industri tersebut. Sayangnya, era tersebut perlahan redup. Presiden Joko Widodo di Kongres PDI Perjuangan bahkan mengatakan jika kejayaan minyak RI sudah selesai. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan turut mengamini pernyataan presiden.

Selama 5 Tahun Terakhir, Kementan Terus Lakukan Modernisasi Pertanian

Komentar


KONTEN BERSPONSOR