Secuil dari Perbincangan Tentang Habibie

  • Bagikan
BJ Habibie Wafat

* FADLI ANDI NATSIFDosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin MakassarDi ruang studio mini harian Fajar (Sabtu,  10/3/2018) lagi dibincangkan sosok, mantan presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie. Mr. Crack dari Parepare, demikian judul besar buku yang dibincangkan. Pemantik bincang A. Makmur Makka, penulis yang meraih penghargaan dari MURI. Pasalnya, tidak gampang seorang penulis buku kurang lebih 60, topiknya hanya seputar kehidupan Habibie.Sebagai peserta yang diundang berbincang merasa ada hal yang perlu diberi apresiasi. Terutama sikap seorang Habibie ketika diberi kepercayaan melanjutkan tampuk kekuasaan yang ditinggal oleh presiden Soeharto, 21 Mei 1998. Secara konstitusional memang seperti itu. Malah seharusnya Habibie bisa menjalankan roda pemerintahan sampai akhir periode yang ditinggalkan oleh Soeharto. Tetapi di sini Habibie sudah menampakkan kenegarawanannya, hanya ingin mengantar masa transisi menuju demokrasi.Secuil catatan ini memang hanya ingin menarasikan secara singkat sifat kenegarawanan yang dimiliki oleh pemilik nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie.Poin yang saya tafsir sifat kenegarawan itu ketika penulis buku A. Makmur Makka berkisah tentang kebijakan yang diambil oleh Habibie tentang Timor Timur (Timtim). Hal ini diungkapkan menanggapi pertanyaan seorang budayawan Ishak Ngeljaratan. Penulis menjelaskan bahwa Timtim menjadi provinsi ketika itu hanya menjadi beban anggaran negara. Tetapi sekelompok masyarakat di Timtim tetap tidak merasa puas, akhirnya selalu timbul gejolak untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal inilah yang direspon oleh Habibie dan mengambil kebijakan melakukan jajak pendapat dengan dua opsi atau pilihan pro-integrasi dan pro-kemerdakaan. Mungkin banyak orang yang belum memahami kenapa Habibie ketika itu sangat berani mengambil kebijakan tersebut. Saya juga baru mafhum selain karena Timtim hanya menjadi beban anggaran negara juga ternyata Habibie mendapat “bisikan intelejen” bahwa tidak apa-apa melakukan jajak pendapat karena pasti warga Timtim akan banyak memilih pro-integrasi.

  • Bagikan