61 Ribu Hektare Sawah di Lutra dan Lutim Terancam Kekeringan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MASAMBA — Bencana kekeringan mulai mengancam 61 ribu hektare sawah pada sejumlah wilayah di Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur saat ini.

Debit air di sungai mulai menyusut, sehingga tidak cukup dibagi petani ke sawahnya.

Koordinator BPP Bone-bone, Luwu Utara, Sem Marannu, mengatakan, debit air di sungai dan irigasi turun drastis. ”Kalau satu pekan lagi tidak hujan. Sebanyak 1.000 hektare padi di Bone-bone terancam mengalami kekeringan,” kata Marannu kepada FAJAR di Kantor Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Luwu Utara, Kamis, 12 September.

Luas areal sawah di Bone-Bone mencapai 1.898 hektare. Ada sudah panen dan ada yang baru ditanami padi. Tanaman yang baru ini sangat membutuhkan air. Jika tidak ada hujan dalam jangka satu pekan, tanaman bisa mati.

Kasi Produksi Bidang Tanaman Pangan, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Luwu Utara, Sunanto mengakui debit air berkurang. ”Kalau ukuran kekurangannya datanya tidak ada sama saya,” kata Sunanto.

Dia menjelaskan masih banyak tanaman padi saat ini butuh air. Luas tanaman padi saat ini mencapai 35 ribu hektare.

Sementara di Luwu Timur, debit air di bendung Kalaena saat ini berada di bawah ambang normal. Tak tanggung-tanggung penurunan debit air untuk mengaliri ribuan hektare persawahan pada tujuh kecamatan di Luwu Timur berada di bawah 80 persen dari kondisi normal.

Ada 26 ribu hektar sawah yang tersebar di 7 kecamatan meliputi Mangkutana, Tomoni, Tomoni Timur, Kalaena, Wotu, Burau dan Angkona terancam puso atau gagal panen, sehingga secara keseluruhan di dua kabupaten itu berkisar 61 ribu hektare sawah.

Indah Dwi Rahayu Kejar Begal, Kondisinya Seperti Ini

Panglima TNI Mutasi 31 Perwira Tinggi TNI, Berikut Daftarnya

Puisi dan Doa untuk Eyang Habibie dari Warga Parepare

Sikap Amphuri Terkait Aturan Baru Visa Umrah

Di Parit London

Kepala bidang sumber daya air pada dinas PUPR Luwu Timur, Andi Juana mengatakan, guna mengantisipasi kondisi Bendung Kalaena yang mengalami penurunan debit air di luar batas normal ini, ditempuh perpanjangan sistem pembukaan air hingga 27 September mendatang.

“Kebijakan ini ditempuh untuk meminimalkan kendala penurunan debit air yang diputuskan melalaui sidang komisi irigasi. Penurunan ini juga di luar kemampuan kita sehingga harus dilakukan perpanjangan buka air,” imbuh Juana.

Dia menjelaskan sistem buka tutup ini telah disampaikan kepada pelaksana pekerjaan saluran induk di Kalaena. “Terpaksa langkah ekstrem kita lakukan dengan sistem buka tutup secara bergilir antara saluran induk dan saluran sekunder untuk memenuhi kebutuhan air,” tambahnya.

Untuk wilayah-wilayah yang tidak terjangkau (teraliri) karena penurunan debit air secara drastis, maka pihaknya mengimbau pengadaan bantuan pompanisasi. (shd)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar