B.J.Habibie Mampu Kuatkan Rupiah, Tekanan IMF Ditolak

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Banyak karya yang telah disumbangkan oleh Presiden ke-3 RI, B.J.Habibie, sehingga putra bangsa itu tidak hanya dikenal di Tanah Air, melainkan di dunia.

Salah prestasi yang tidak akan dilupakan, B.J.Habibie mampu mengendalikan Rupiah saat krisis moneter di 1998 silam.

Pada tahun 1998, nilai tukar rupiah tercatat nyaris menyentuh 15 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Pada Januari 1998, Rupiah sempat menyentuh 14.800 per dolar AS, dan paling parah pernah terjadi pada Juni 1998, 1 dolar sempat menyentuh Rp16.800.

Namun, tidak disangka kebijakan yang diambil Presiden B.J.Habibie berhasil menekan Rupiah dari belasan ribu bisa berada di bawah Rp7 ribu jelang akhir masa pemerintahannya.

Di sisi lain, B.J.Habibie juga mendapatkan intervensi ekonomi dari International Monetary Fund (IMF). Lembaga moneter ini memaksa Indonesia menghapus kebijakan subsidi, terutama BBM dan tarif dasar listrik, tekanan IMF itu ditolak BJ Habibie.

Kala itu, B.J.Habibie tetap mempertahankan agar harga BBM subsidi tetap terjangkau bagi masyarakat di tengah kondisi krisis ekonomi. Premium saat itu dipatok Rp1.000 dan Solar Rp550. Kebijakan harga murah ini dikritik IMF.

Di masa pemerintahannya, B.J.Habibie terus berupaya menguatkan perekonomian nasional. Salah satunya adalah melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan dengan membentuk BPPN dan unit Pengelola Aset Negara, dan melikuidasi beberapa bank bermasalah.

Tak sampai di situ saja,B.J.Habibie juga membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian masalah utang luar negeri, dan mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF. Demi mendukung kebijakannya, dia mengesahkan UU No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat dan UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Analis Millenium Penata Futures, Suluh Adil Wicaksono, memuji kebijakan yang dilakukan B.J.Habibie sehingga bisa menguatkan nilai tukar ripiah menjadi satu digit.

4 Burung Ini Mewakii Kepribadian Aslimu

Penyanyi Dangdut Ida Laila Meninggal Dunia, Ini Penyakitnya

Kata Pakar, Jangan Keseringan Pakai Daun Siri Bersihkan Miss V

Menjalani Rehabilitasi, Komedian Nunung: Turun 3 Kg Nih

Tokoh United Liberation Movement for West Papua Ditangkap

“Ketika itu pemerintahan Presiden B.J.Habibie tidak menganut pasar bebas seperti negara-engara Amerika Latin, sehingga bisa menekan suku bunga di kisaran 10 persen,” ujar dia kemarin (12/9).

Berbeda dengan Suluh, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah menilai tidak ada yang dilakukan B.J.Habibie. Namun BJ Habibie adalah sebagai seorang pahlawan bangsa.

“Pak B.J.Habibie harus kita hormati sebagai pahlawan bangsa ini. Tapi tidak untuk dikultuskan. Dalam pandangan saya penguatan rupiah pada periode itu bukan merupakan prestasi Bapak B.J.Habibie,” tukas dia

Seperti diketahui, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie meninggal dunia akibat gagal jantung dan faktor usia pada Rabu 11 September 2019, pukul 8.05 WIB. Habibie dirawat di RSPAD sejak 1 September lalu. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...