Keppres 17 Tahun 2019 Istimewakan Dokter, Honorer K2 Iri?

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Koordinator Honorer K2 Kabupaten Bondowoso Jufri mengkritisi isi Keppres 17 Tahun 2019. Keppres yang memberikan kelonggaran usia sampai 40 tahun bagi dokter, dokter gigi, dokter pendidik klinis, dosen, peneliti, dan perekayasa untuk menjadi PNS.

“Honorer K2 bukan iri tetapi meminta keadilan, mengapa kami tidak mendapatkan kelonggaran usia sampai 40 Tahun,” kata Jufri, Jumat (13/9).

Menurut dia, jika alasan pemerintah memberikan kelonggaran usia bagi dosen, peneliti dan perekayasa karena takut dianggap tidak adil bagi orang yang berijazah S3 sehingga tidak bisa menjadi PNS gara-gara umurnya lebih dari 35 tahun, maka pertanyaan kenapa honorer K2 tidak ada pertimbangan khusus. Padahal umur honorer K2 lebih dari 35 tahun itu akibat adanya moratorium PNS.

Sri Rahmi Sebut Berkat NU Dia 4 Kali Terpilih Jadi Legislator

Raline Shah Bisnis Kopi Berkat Hobinya Seruput Kopi

Loyalis None Dampingi Onasis ke PDIP Makassar

Adik Ipar Disetubuhi, Korban Bunga Masih Berumur 13 Tahun

Tim Magello Mentong Setor Berkas Muammar Muhayang ke PDIP

“Tuntutan kami sangat wajar kepada pemerintah segera buatkan regulasi yang berpihak kepada honorer K2 baik Keppres maupun revisi UU Aparatur Sipil Negara (ASN),” ujarnya.

Jika solusi yang ditawarkan pemerintah adalah PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) bagi honorer K2 yang umurnya di atas 35 tahun maka solusi itu merupakan bentuk ketidakadilan.

Diketahui, Presiden Joko Widodo akhirnya menandatangani Keputusan Presiden atau Kepres Nomor 17 Tahun 2019.

Melalui Keppres 17 Tahun 2019, pemerintah membuka peluang bagi lulusan Strata 3 (doktoral) dengan batas usia CPNS 2019 paling tinggi 40 tahun, menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk jabatan-jabatan tertentu.

Jabatan-jabatan tertentu yang dimungkinkan untuk pelamar berusia paling tinggi 40 tahun itu, menurut Keppres ini, yakni Dokter (Dokter Gigi, Dokter Pendidik Klinis) lalu Dosen (Peneliti dan Perekayasa).

“Untuk jabatan Dokter dan Dokter Gigi dengan kualifikasi dokter spesialis dan dokter gigi spesialis,” bunyi diktum KEDUA Keppres tersebut yang disampaikan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Sedang untuk jabatan Dosen, Peneliti, dan Perekayasa, menurut Keppres ini, kualifikasi pendidikan Strata 3 (Doktor). “Usia pelamar CPNS dihitung saat melamar sebagai CPNS. Bunyi diktum kelima keppres itu,” terangnya seraya menegaskan Kepres Nomor 17 Tahun 2019 tersebut mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, yaitu 3 Juli 2019 di Jakarta.

Nah, kebijakan pemerintah melalui Keppres 17 Tahun 2019 untuk memberikan kelonggaran batas usia CPNS 2019 menjadi 40 tahun bagi enam jabatan dalam tes CPNS 2019 tersebut ternyata tidak mampu melunakan hati para honorer K2. Bahkan mereka menilai kebijakan tersebut plin-plan dan tidak mencerminkan keadilan.

Secara tegas, Ketua Perkumpulan Hononer K2 Indonesia (PHK2I) Titi Purwaningsih mempertanyakan kebijakan Keppres 17 Tahun 2019 tersebut. Sebab, hal itu bertentangan dengan apa yang menjadi argumen pemerintah saat tidak memberi jalan ikut CPNS bagi honorer K2.

Selama ini, lajut Titi, pemerintah bergeming jika honorer K2 tidak bisa mengikuti CPNS karena usia sudah di atas 35 tahun. Syarat tersebut dinilai mutlak dan tidak bisa ditawar. Namun nyatanya, pemerintah memberikan kekhususan kepada enam jabatan. “Jadi bohong saja selama ini,” tandasnya.

Pelonggaran syarat batas usia CPNS 2019 sendiri diterbitkan melalu Keppres 17 Tahun 2019. Enam jabatan yang diberikan kekhususan adalah dokter, dokter gigi, dokter pendidik klinis, dosen, peneliti, dan perekayasa.

Titik menambahkan, pemberian kelonggaran syarat umur kepada enam jabatan sama saja dengan membuat kebijakan khusus. Dengan logika yang sama, dia menilai kebijakan itu semestinya bisa juga diterapkan kepada honorer K2. “Beri juga kami lex spesialis,” imbuhnya.

Ia menilai, ada banyak hal yang dapat dijadiin dasar bagi pemerintah untuk memberikan lex spesialis kepada guru honorer K2. Salah satunya adalah masa pengabdian yang sudah lama dilakukan honorer K2. Di sisi lain, honorer K2 sudah terbukti mampu bekerja dan dibuktikan dengan aktivitas mengajar yang berlangsung hingga saat ini. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : hamsah

Comment

Loading...