Waspada! Selama 2019, 55 Kali Kecelakaan di Perlintasan Kereta Api

"Tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas memicu timbulnya permasalahan yaitu terjadinya kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang," terangnya.

Sesuai Undang-Undang No 23 Tahun 2017 tentang perkeretaapian Pasal 94 menyebut sekurangnya ada dua poin. Yakni untuk keselamatan perjalanan kereta api dan pemakai jalan perlintasan sebidang yang tidak mempunyai izi harus ditutup. Kedua, penutupan perlintasan sebidang dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemerintah daerah.

Wilayah Daop 4 Semarang mencatat terdapat 124 perlintasan sebidang yang resmi dan 309 perlintasan sebidang yang tidak resmi. "Sedangkan perlintasan tidak sebidang baik berupa flyover maupun underpass berjumlah 29," jelasnya.

Selama 2019 di wilayah Daop 4 Semarang terjadi 55 kali kecelakaan yang mengakibatkan 41 nyawa melayang. Ia menyatakan, salah satu tingginya angka kecelakaan pada perlintasan diakibatkan karena kurangnya kesadaran pengguna jalan raya.

"Tidak sedikit para pengendara yang menerobos perlintasan meskipun sudah ada peringatan, melalui sejumlah rambu yang terdapat pada perlintasan resmi," ucapnya.

Sesuai Undang-Undang No 22 Tahun 2009, Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 114 menyatakan bahwa “Pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai di tutup dan atau ada isyarat lain. Mendahulukan kereta api, dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel.”

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Sonny Wakhyono


Comment

Loading...