Kreativitas Warga Desa Bikin Pompa Hidram, Dipikir Enam Bulan Dikira Orang Gila

0 Komentar

Temuan Andi Haeri S kini sangat membantu petani. Meningkatkan produksi, dan sudah dipakai di sejumlah daerah.

AGUNG PRAMONO
Bone

SETELAH bahan dan alat terkumpul, pompa tidak serta merta langsung dibuat. Semua harus diukur. Paling utama debit air daerah yang akan dibuatkan.

Tujuannya agar mudah mengatur tekanannya. Cara mengukur debit air, pria satu anak itu hanya belajar dari alam, dan pengalaman. Dia menyebutnya feeling.

“Diukur pakai perasaan, tanpa alat. Hanya pakai pipa lalu ditutup dengan tangan, dan sudah bisa ditau debit airnya, dan pulang merumuskan pipanya,” tuturnya.

Sebelum membuat ia juga mengecek lokasi. Untuk mengetahui debit air yang ada, dan tinggi semburan. Kemudian ketinggian yang mau dinaiki, baru merakit alatnya. Harus sesuai medan, karena kadang tidak cocok. Setiap lokasi beda-beda ukuran.

Ide membuat pompa itu muncul pada 2016. Saat itu, ia kecewa saat menyemprot tanamannya, pompanya rusak. Ia pun merombak pompa itu. Ia melihat ada sebuah lahar yang menggerakkannya. Di situlah ia berpikir membuat alat yang bukan tangan yang menggerakkan, bagaimana kalau air sendiri yang menggerakkan.

Tidak langsung berhasil. Gagal, kemudian mencobanya lagi. Hingga akhirnya bisa. Menurutnya, selama enam bulan dia mencoba, mulai dari pipa plastik meledak. Diganti dengan pipa besi. Di tes setiap hari di sawah di belakang rumahnya.

“Banyak orang yang bilangi saya sudah gila. Karena setiap hari saya memanjat kelapa untuk membuktikan tekanan air itu bisa setinggi kelapa,” akunya.

Ia pun mampu menciptakan tekanan air setinggi pohon kelapa. Padahal, alat yang disimpannya berada 200 meter dari rumahnya. Pompa pun mampu mengaliri kebun dan sawahnya. Air yang mengalir di pompa naik dengan begitu kuat, padahal air yang mengalir tidak terlalu deras.

“Kalau jarak pompa ini sampai 3,2 kilometer, ketinggiannya tujuh meter. Kalau yang paling tinggi untuk jarak 400 meter, bisa ketinggian airnya tembus 100 meter,” tuturnya.

Jika dibandingkan dengan alat modern, harganya hampir mirip. Tetapi, mesin modern perawatannya sulit. Kalau mau mengaliri sawah harus dipantau terus. Mulai dari oli dan BBM-nya.

“Kalau ini pompa kalau sudah jalan, maka akan terus jalan. Biar 3 bulan sekali dikunjungi tidak apa-apa,” papar Haeri.

Alat ini, sambungnya, apabila jauh dari sumber listrik sangat cocok. Karena tidak menggunakan kabel dan bahan bakar. Airnya jalan terus. Kalaupun ada rusak sangat mudah memperbaikinya.

Di sisi lain, alatnya sudah dites bertahun-tahun. “Bahkan, kalau pun banjir mesin tidak apa-apa juga. Air yang dihasilkan pun tetap jernih,” jelasnya.

Saat ini, pompa-pompa itu sudah dimanfaatkan masyarakat di beberapa daerah. Seperti di Kabupaten Enrekang dan Selayar. Sementara, di Bone mulai Kecamatan Lamuru, Amali, Lapri, Bontocani, dan Tellulimpoe.

Kepala Desa Mamminasae, H Karmida berbangga dengan inovasi warganya. Kehadiran pompa hidram itu sangat membantu para petani di wilayahnya. Apalagi saat musim kemarau.

“Manfaatnya sangat besar sekali bagi para petani. Pompa super hemat, dan bisa menyiram seluruh tanaman. Apa pun itu,” katanya.

Kata dia, sejak pompa ini ada di desanya, penghasilan petani meningkat untuk sektor pertanian. “Makanya saya sangat mendukung ini untuk pengembangan lebih jauh lagi,” pungkasnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...