Pelakor Rinda Marta Ngamuk Divonis Hakim 6 Bulan Penjara

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MOJOKERTO– Pelakor Rinda Marta warga Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, divonis hakim Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto dengan hukuman penjara selama 6 bulan, Rabu (18/9).

Pasca mendengar putusan hakim, perempuan berambut merah ini mengamuk di dalam tahanan pengadilan. Putusan yang dibacakan ketua majelis hakim Agus Walujo Tjahjono tersebut menegaskan, Rinda dinyatakan terbukti melanggar pasal 29 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. ’’Menghukum terdakwa dengan pidana kurungan penjara selama enam bulan,’’ katanya.

Putusan hakim PN Mojokerto ini lebih ringan dari tuntutan JPU. Pekan lalu, JPU Ahmad Ardiansyah menuntut terdakwa dengan hukuman pidana penjara selama 8 bulan. Pelakor Rinda Marta dinilai terbukti bersalah karena telah mendistribusikan data berupa video dan gambar yang bermuatan melanggar kesusilaan.

Pasca mendengar putusan hakim ini, perempuan 26 tahun ini langsung digiring ke tahanan PN Mojokerto. Dengan muka terus menunduk, Rinda nampak menyimpan kesedihan yang sangat dalam.

Di ruang tahanan wanita inilah, emosi Pelakor Rinda Marta mulai meluap. Ia berulangkali menggebrak pintu tahanan dengan sangat keras. Ia terus mengamuk meski telah ditenangkan oleh sejumlah petugas keamanan. Amukan yang terus dilontarkan tak sekadar putusan yang dijatuhkan hakim. Namun, ia mencurigai seorang perempuan yang berada di luar tahanan diam-diam memotret dirinya.

Rupanya, ia melihat Is, 42, yang tak lain adalah perempuan asal Jombang yang melaporkannya ke Mapolresta Mojokerto. ’’Saya tahu aturan. Saya tidak pernah mengambil foto yang bersangkutan di dalam tahanan,’’ ujar Is.

Is merupakan perempuan yang memperkarakan Pelakor Rinda Marta ke kepolisian. Rinda dituding telah menjadi pelakor (pencuri laki orang). Suaminya, Dd, 43, direbut dengan proses yang mengesalkan. Rinda kerap mengumbar adegan mesumnya dengan Dd, lalu merekam dan mengirimkan video tersebut ke Is. Yang dilakukan di pengadilan kemarin, ditegaskan Is, hanya sekadar ingin mengetahui hasil putusan hakim. ’’Di dekat tahanan, saya tetap berada di luar garis. Dan, saya tidak memotret. Dia GR aja,’’ tandasnya.

Makan Terlalu Cepat, Seperti Ini Bahayanya pada Kesehatan

Militer Arab Saudi Kerahkan Angkatan Laut ke Teluk Persia

Gibran Rakabuming Raka Cari Tahu Mekanisme Pencalonan PDIP

Presiden Jokowi: Belum-belum Sudah Antek Asing, Itu Emosi

Aktris Cut Keke: Muka Boleh Muda Tapi Dengkul Sudah Nggak

Sebelumnya diberitakan, Pelakor Rinda Marta dilaporkan Is karena berusaha merebut suaminya, akhir 2018 silam. Laporan itu bermula ketika dirinya mendapat pesan gambar di ponselnya. Bagai disambar petir. Dalam gambar itu, janda dua anak tersebut bersama dengan suaminya berada dalam sebuah kamar hotel. Tanpa sehelai benang yang menempel di tubuh keduanya.

Selain mengirim sejumlah gambar, perempuan itu juga melontarkan kata-kata kotor dan mengejek dirinya yang sudah berumur dan tak lagi dicintai suaminya. Rencana merusak rumah tangganya itu, memang sempat berhasil. Is pun sempat mengajukan cerai ke PA Jombang meski akhirnya dicabut. Gagal merusak rumah tangga ini, Pelakor Rinda Marta tak patah arang. Teror terus diterima Is.

Koleksi foto dan video dengan pose berbeda, juga terus masuk ke handphone-nya. Is pun kian geram dan melabrak perempuan itu di kediamannya bersama suaminya. Dengan harapan, Pelakor Rinda Marta mengakhiri teror yang sudah dilakukan sejak 2017 lalu.

Langkah ngelabrak ke kediaman Pelakor Rinda Marta dan juga disaksikan orang tuanya, rupanya tak mengendurkan niatnya. Ia terus meneror dengan nomor ponsel yang terus berganti. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar