Debu Batu Bara Semen Tonasa, Warga Kehilangan Pencaharian

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PANGKEP– Dampak debu dari penampungan batu bara Semen Tonasa tidak hanya menimbulkan gangguan pernafasan dan gatal-gatal bagi warga yang ada di Kampung Biringkassi Dalam, Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro.

Namun, hasil tangkapan nelayan pun berkurang semenjak beroperasinya bongkar muat batu bara di Pelabuhan Biringkassi itu.

Salah seorang warga, Nurliah mengaku, orang tuanya tidak lagi mencari kepiting, sebab kepiting yang ada di sekitar pesisir itu sudah habis, ia menduga itu tercemar limbah batu bara milik PT Semen Tonasa.

“Sekarang tidak lagi keluar cari kepiting, karena tercemar, air laut hitam, tidak ada kepiting lagi di sekitar sini. Jadi bapak saya tidak ada lagi pekerjaannya, padahal dulu hanya mencari ikan dan kepiting,” ungkapnya.

Ia hanya bisa pasrah dengan debu batu bara Semen Tonasa itu dan melihat kondisi laut sekitar perusahaan yang menghitam, tidak ada ikan-ikan, kepiting yang bisa dijaring lagi. Mereka harus keluar lebih jauh ke periaran antar pulau jika ingin mendapat hasil tangkapan laut.

“Air laut di sekitar kami terlihat kotor, karena ada batu bara, sedangkan pakaian yang kami jemur saja biasa hitam,” pungkasnya.

Menyambut Formula E 2020, DKI Jakarta Konvoi Mobil Listrik

Babinsa dan BPBD Kirim Air Bersih ke Warga Desa yang Alami Kekeringan

Pemenang Wajo Entrepreneur Expo Tagih Hadiah Rp150 Juta

Berkaca-kaca, Ina Kartika Sari: Terima Kasih Kepercayaan Partai

Karaeng Pattingalloang

Sementara itu, Direktur Operasi PT Semen Tonasa, Bambang Hariyanto menjelaskan, saat ini sudah dilakukan penurunan posisi penampungan batu bara, pada ketinggian tujuh meter, serta pihaknya menjamin tidak bakal beroperasi jika angin mengarah ke pemukiman warga.

“Ketinggian file itu sudah sesuai kesepakatan pada posisi tujuh meter. Kami juga menekankan kepada petugas agar tidak beroperasi jika angin mengarah ke pemukiman, kita sudah memasang indikator arah angin,” paparnya.

Selain itu, pihaknya menjamin, penyiraman pada tumpukan material batu bara juga rutin dilakukan, agar mengurangi dampak debu batu bara Semen Tonasa ke pemukiman masyarakat.

“Kita sudah melakukan penyemprotan air campur chemical untuk mengikat debu batu baru, supaya tidak terbang lagi ke pemukiman masyarakat, penyiraman itu rutin dilakukan, tidak hanya penampungan, jalanan yang potensi debu dan angin kencang juga dilakukan penyiraman,” imbuhnya. (fit)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar