Satgas Gabungan TNI-Polri Kontak Tembak KKSB, 3 Sipil Tewas

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Upaya penegakan hukum tim Satgas Gabungan TNI-Polri terhadap Kelompok Kriminal sipil bersenjata (KKSB) berujung tertembaknya tujuh warga sipil, di Kampung Olenki, Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Selasa (17/9). Bahkan tiga dari tujuh warga korban penembakan KKSB meninggal dunia.

Berdasarkan keterangan tertulis Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto, peristiwa berawal dari upaya Satgas Gabungan TNI-Polri melakukan penegakan hukum kepada KKSB. Saat itu Tim Satgas berusaha mendekati posisi perkumpulannya di sebuah Honai yang berada dekat aliran sungai.

“Jadi, saat hendak mendekat ke posisi kelompok KKSB, tim gabungan disambut serangan secara sporadis dengan tembakan bertubi-tubi, sampai akhirnya kontak tembak pun terjadi antara anggota tim gabungan dan kelompok tersebut,” jelas Eko, Kamis (20/9).

Saat kontak tembak, kawanan KKSB menembaki tim Satgas Gabungan TNI-Polri membabi buta dan tak terarah. Sebab, mereka menembak sambil melarikan diri masuk ke hutan secara berpencar, hingga berhasil meloloskan diri dari sergapan petugas.

Pasca kontak tembak, barulah diketahui adanya tujuh warga sipil yang mengalami luka tembak di sekitar lokasi. Saat mendapati hal itu, tim gabungan langsung bergegas untuk menyelamatkan para korban dengan dibantu warga lainnya.

“Para korban ditemukan dalam kondisi luka tembak setelah baku tembak selesai. Akhirnya, tim pun dibantu warga langsung mengevakuasi para korban ke Puskesmas Ilaga untuk mendapatkan perawatan medis,” tuturnya.

Sementara dari hasil penanganan tim medis, tiga orang korban dinyatakan meninggal dunia dan empat lainnya berhasil diselamatkan. “Untuk data yang meninggal, antara lain Tekimin Wonda (33), Edison Mom (remaja), dan Rudi Mom (balita),” ungkapnya.

“Untuk empat korban yang juga mengalami luka tembak dan berhasil diselamatkan tim medis, atas nama Topina Mom (36), Ny Tabuni (37 ), Ny Herina Kinal (32), dan Yefrina Mom (16),” sambungnya.

Mengetahui itu, Eko pun menyampaikan belasungkawa mendalam atas insiden yang terjadi dan harus mengakibatkan jatuhnya korban jiwa maupun luka dari warga sipil.

“Atas nama Kodam XVII/Cenderawasih menyampaikan, turut berduka cita yang mendalam kepada keluarga korban dan masyarakat Kampung Olenki, Ilaga atas jatuhnya korban sebagai dampak dari kontak tembak tersebut,” ujarnya.

Terakhir, Eko menambahkan, saat ini Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab sedang berkoordinasi dengan Kapolda Papua Irjen Rudolf Albert Rodja, untuk membentuk tim guna melakukan investigasi terhadap insiden dengan Satgas Gabungan TNI-Polri tersebut.

Selain itu, Pangdam juga akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap jalannya operasi pengejaran terhadap Kelompok Separatis Bersenjata OPM untuk menghindari jatuhnya korban di pihak masyarakat.

“Dan sambil menunggu hasil investigasi, Pangdam XVII/Cenderawasih mengimbau, kepada seluruh masyarakat tidak berspekulasi dan terpengaruh informasi sepihak dari kelompok OPM. Kami tidak henti-hentinya mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk menjaga kondusifitas demi tercapainya kedamaian di tanah Papua,” pungkasnya.

Terkait peristiwa tersebut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto masih menunggu laporan. “Nanti tunggu laporan resmi, ya,” katanya, saat dikonfirmasi.

Wiranto memastikan segera menyampaikan pernyataan resminya setelah mendapatkan laporan secara menyeluruh.

Insiden baku tembak Satgas Gabungan TNI-Polri  dengan KKSB tersebut semakin menegaskan kondisi Papua masih belum konusif. Dan ini membuat Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan tidak akan menarik pasukan TNI dan Polri dari Bumi Cendrawasih.

“Saya sudah katakan dari dulu, TNI/Polri tidak akan ditarik dari Papua. Karena, sekali ditarik, Papua bisa lepas,” kata Menhan.

Menurut dia, persoalan Papua seharusnya bisa diselesaikan dengan baik-baik karena persoalan di Papua ini hanya karena persoalan kesejahteraan.

“Jadi, kalau kita memang harus duduk bareng, mari kita duduk, dan pikirkan bagaimana menyelesaikan masalah ini. Jangan saling mengaitkan. Itu enggak baik,” ujar mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini.

Pengamat terorisme Zaki Mubarok menyayangkan, insiden baku tembak antara Satgas Gabungan TNI-Polri dan KKSB yang menyebabkan adanya korban jiwa dari warga sipil. Terlebih, hal ini merupakan kasus yang kesekian kalinya terjadi di Papua.

Menurut Zaki, insiden yang terjadi berulang kali ini diharapkan bisa segera berakhir, sehingga tidak lagi ada lagi korban-korban berikutnya. Dan tentunya, penyelesaian harus dilakukan dengan beberapa langkah yang tepat.

Pertama, kata Zaki, Satgas Gabungan TNI-Polri perlu melakukan koordinasi yang lebih baik di lapangan pada saat menjalankan operasi penegakan hukum terhadap KKSB. “Ini yang seringkali saya lihat tidak jalan, karena sering melakukan operasi-operasi sendiri,” ujar Zaki.

“Dan saya pikir, minimnya sinergi ini yang membuat operasi keamanan tidak efektif dan banyak jatuh korban,” sambungnya saat dihubungi Fajar Indonesia Network, Kamis (20/9).

Kemudian untuk langkah kedua. Zaki menilai, mengatasi konflik yang terjadi di Papua tidak sekadar dengan tindakan militer, tapi yang lebih penting juga mengambil hati masyarakat Papua. Karena itu pendekatan sosio- budaya jadi sangat penting.

“Jadi, tidak pahamnya budaya dan tradisi sering menimbulkan konflik sosial di sana. Untuk itu, saya kira aparat polisi dan tentara perlu dibekali pemahaman yang kuat tentang wawasan sosial budaya masyarakat indonesia, khususnya di wilayah tempat mereka akan ditugaskan,” imbuhnya.

Pimpinan KKB Abu Razak Pernah Jadi Anggota GAM Batee Iliek

Nagita Slavina, Istri Raffi Ahmad Raih Award Wanita Terfavorit

Teh Gelas FAJAR Run 2019 Bakal Lebih Sejuk

Melanie Subono: Gelandangan Rajin Ya, Biar Bisa Bayar Denda

Eks Gubernur Papua Barat Abraham Octavianus Ataruri Wafat

Langkah ketiga yang harus dilakukan adalah, memperlakukan warga Papua yang sedang belajar di daerah-daerah lain di Indonesia dengan penuh respect dan penghormatan. Sebab, dengan perlakuan yang baik dan beradab, nantinya bisa menjadi jembatan yang merekatkan masyarakat Papua dengan NKRI.

Keempat, mengubah paradigma ‘Pokoknya Tumpas’ yang dinilai sudah salah kaprah. Sebab yang seharusnya didalami adalah akar masalah di Papua dan dana Otsus yang besar hanya dinikmat segelintir elite di sana, tidak berdampak pada kesejahteraan.

“Perlakuan tidak adil dan diskrimininasi masih banyak mereka rasakan. Pemerintah harus bisa atasi ketidakadilan sosial dan ekonomi ini. Jangan terjebak pada propaganda ‘main tumpas’ yang jadi ciri Orde Baru,” katanya.

Zaki menyebut, inti dari semua itu adalah pemerintah dan aparat penegak hukum harus bisa mencari langkah yang baik dan tepat dalam mengatasi konflik di Papua. Yaitu dengan cara yang lebih humanis dan pendekatan secara sosio kultural.

“Dulu di zaman Gus Dur ini pernah dilakukan. Tapi sayangnya upaya yang dulu pernah dilakukan Gus Dur dengan pendekatan yang humanis dan sosio kultural sudah mulai ditinggalkan. Rezim ini atau setelahnya lebih banyak menggunakan pendekatan repressif, padahal mengambil hati masyarakat papua adalah pertarungan atau battle yg paling menentukan,” pungkasnya. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...