Jamin Kualitas Manggis dan Salak, Kementan Dorong Sertifikasi Organik

  • Bagikan
Pengurus Kelompok Tani Sinar Mustika Desa Cimanggu, Kecamatan Puspahiang Tasikmalaya, Holid, menyebut kelompoknya telah menerapkan sistem pertanian organik sejak 2005. Tepatnya pada lahan manggis seluas 19 hektare yang dikelola 25 orang petani ini. "Sejak merintis kebun pada 1999 lalu, kami mulai belajar sistem budidaya organik. Untuk pemeliharaan kebun, kami melakukan penyiangan dua kali dalam setahun. Pemupukan menggunakan pupuk kandang dari kotoran sapi yang dicampur dengan jerami. Ini dilakukan dua kali dalam setahun,” jelas Holid. Untuk pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), kata Holid, para petani menggunakan Trichoderma dan PGPR dari Laboratorium Pengamat Hama dan Penyakit (LPHP) Tasikmalaya. Hasil panen manggis mencapai 2-5 kg per pohon dengan menggunakan bahan pengendali ramah lingkungan. "Kelompok kami, Sinar Mustika sudah siap untuk sertifikasi. Untuk proses doksistu, persyaratan kebun dan administrasi sudah selesai dinilai oleh fasilitator. Secara umum sudah memenuhi syarat untuk disertifikasi. Untuk administrasi sudah 90 persen lengkap dan siap untuk pengajuan sertifikasi ke LSO," ungkap Holid bangga. Ketua Kelompok Tani Salak Mukti, Desa Bongkok, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang, H. Amin, mengaku senang berhasil mengembangkan budidaya salak. Bersama anggotanya yang berjumlah 25 orang, aktif menerapkan prinsip pertanian organik. "Pertanian organik di kelompok kami sudah dimulai sejak 2015 pada kebun salak seluas 3 hektare. Para petani menanam varietas Slebong. Varietas ini merupakan hasil persilangan salak Sleman dengan salak lokal Bongkok. Tanaman salak saat ini berumur 14 tahun,” ujar Amin.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan