Kisah Rumah Tua di Antara Apartemen Mewah, Duit Selangit Tak Goyahkan Pemilik

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Sebuah bangunan tua terlihat di antara gedung-gedung mewah Apartemen Thamrin Executive Residence, Kebon Melati, Jakarta Pusat. Bangunan tersebut tampak mencolok. Kondisinya terlihat usang. Atapnya tak sekokoh rumah masa kini. Anehnya bangunan itu menjadi satu-satunya yang berada di lokasi elite tersebut.

Tentu bagi yang melihatnya akan bertanya, bagaimana bisa ada rumah reyot itu berada di antara gedung-gedung apartemen. Bahkan sekilas orang yang melintas tidak akan sadar ada bangunan tersebut. Maklum saja, bangunan itu tertutup dinding yang diselimuti rerumputan. Jika dilihat dari atas gedung hanya terlihat jejeran genteng yang telah usang.

Rumah tersebut diketahui milik Lies. Hanya tempat tinggal dia satu-satunya yang bertahan di antara gedung-gedung tinggi yang dibangun sejak 2012 itu. Lies bertahan dengan alasan sederhana. Baginya uang tak bisa membeli rumah peninggalan nenek moyangnya itu.

“Saya sudah banyak rumah, saya juga sudah banyak kos-kosan. Saya tidak mau dibayar berapa pun, saya akan tetap tinggal di sini,” ujar Lies.

Bertahan di tengah gedung pencakar langit tentu bukan perkara mudah bagi Lies dan rumah reyotnya. Untuk air bersih saja harus berebut dengan apartemen. Jatahnya kadang tersedot untuk apartemen. Tidak seperti ketika bangunan megah itu belum berdiri.

“Saya sudah bilang, biarin saja PDAM masuk ke rumah saya. Saya yang bayar pipanya, tukangnya. Berapa meter sini saya yang bayarin. Maksudnya biar bagi ke saya juga airnya,” tambah Lies.

Namun, upayanya itu tak membuahkan hasil. Akibatnya setiap hari 25 galon air bersih harus dibelinya guna mencukupi kebutuhan air bersih. Karena keseringan membawa galon, rasa sakit pun mulai dirasakannya.

Terlebih untuk masuk ke rumahnya harus menuruni tangga kecil yang terbuat dari beton. Sebab, bagian depan rumahnya, sudah tertutup oleh tingginya jalan akses apartemen. “Kadang suka kepeleset gara-gara ngangkut air,” tukasnya.

Tak hanya itu, ibu tiga anak itu bercerita, pernah dimintai biaya parkir untuk masuk ke kawasan apartemen. Karena akses satu-satunya ke rumahnya harus melewati portal parkir apartemen. Sehingga harus mengambil tiket parkir.

Uang parkir yang dimintakan kepadanya cukup mahal yakni Rp 500 ribu untuk mobil per bulan dan Rp 300 ribu untuk motor. “Saya tidak mau, akhirnya sekarang gratis. Enak saja mereka minta-minta ke saya, orang ini tanah juga tanah nenek moyang saya,” tambahnya.

Tempat tinggalnya bahkan sempat terancam tidak memiliki akses masuk. Tembok pembangunan apartemen saat itu hampir menutup penuh sekeliling rumahnya. “Bayangin saja tadinya tembok apartemen semuanya akan nutupin rumah saya. Dikira saya punya sayap ya, bisa terbang gitu masuknya,” terangnya.

Lies sendiri mengaku memiliki rumah lain, selain gubuh reyotnya tersebut. Salah satunya rumah seluas 2 hektar di Bandung. Ada juga rumah mewah lainnya di kawasan Tangerang. Bukan hanya itu, dia juga memiliki rumah kos untuk disewakan.

“Dulu pas masih muda saya investasi bangun kos sama rumah. Itu di Kebon Melati ada 12 pintu kosan saya, lalu ada juga di Taman Mini kosan saya 15 pintu,” katanya.

Hanya saja, Lies tetap memilih tinggal di rumah reyotnya yang terhimpit atau di tengah gedung-gedung apartemen. Hal itu tak lepas kenangan semasa hidupnya. “Ini (rumah) tumpah darah saya,” tegasnya. Anaknya yang baru menginjak kelas 6 sekolah dasar juga tak mempermasalahkan tinggal di tengah himpitan gedung mewah.

Banyaknya dorongan dari pihak pengelola agar Lies mau meninggalkan tempat tinggalnya pun tak pernah digubris. Uang dengan jumlah besar yang ditawarkan sebagai ganti rugi pun tak mempan baginya.

Lies menyampaikan, saat itu pihak gedung sempat menawarkan ganti rugi senilai Rp 3 miliar, plus satu unit apartemen di Thamrin Residence Executive. “Tapi saya tidak mau dibayar berapa pun, rumah ini saya tidak sudi dibeli. Mereka memang cuma mau kuasai tanah ini. Ini tumpah darah saya di sini,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua RT 007/009, Wasroni menambahkan, ketika pembangunan apartemen dilakukan, harga tanah yang ditempati Lies memang nilainya mahal. “Iya dulunya Rp 10 juta per meter. Tapi tidak tahu sekarang. Makin mahal seharusnya. Tapi kan rumahnya nggak gede juga ya,” sebut Wasroni.

Demi mempertahankan tanah nenek moyangnya, Lies terus bertekad tinggal di rumah reyot. Meski, rumah tersebut terhimpit bangunan-bangunan megah apartemen. (jpc)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar