Irigasi Dikelola P3A, Sawah di Lamsel Terairi Meski Kemarau

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, LAMSEL – Peningkatan kualitas jaringan irigasi tersier terus dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan). Salah satunya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menjelaskan, pembangunan atau rehabilitasi jaringan irigasi yang sudah dilaksanakan mampu memberikan kontribusi perluasan coverage area tanaman yang terairi.

“Namun demikian, saat ini masih perlu ditingkatkan dalam penyediaan dan pengelolaan air irigasi, pemanfaatan, serta pemeliharaan jaringan irigasi berjalan secara berkelanjutan,” ujar Sarwo Edhy, Senin (23/9).

Sarwo Edhy mengatakan, dalam pengelolaan irigasi tersier ini, membutuhkan peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). P3A merupakan salah satu lembaga atau kelompok petani di pedesaan yang andal dan berperan penting dalam pengelolaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan air irigasi.

“Lembaga ini secara khusus mewadahi para petani yang terkait dengan tata kelola air irigasi di tingkat usaha tani sekaligus pengelolaan sumber daya air lainnya,” jelas Sarwo Edhy.

Ali Mustopa, Ketua P3A desa setempat menyebut, infrastruktur irigasi tersebut bantuan dari pemerintah. Penyediaan air irigasi selama masa tanam kemarau mengandalkan pasokan air dari Gunung Rajabasa.

Jaringan air yang lancar, menyokong produksi padi di wilayah tersebut stabil. Jaringan irigasi mampu mengairi lahan seluas lebih dari 50 hektare. Peningkatan jaringan irigasi menjadi kebutuhan, agar lahan pertanian padi tetap bisa dialiri.

Peningkatan fasilitas jaringan irigasi dilakukan sepanjang 380 meter, dengan menambah jaringan yang sudah ada.

“Kendala yang ada, kontur tanah tidak merata. Akibatnya, air dari jaringan irigasi harus disedot menggunakan mesin ke lahan sawah yang tinggi, jadi fasilitas mesin sedot juga harus dimiliki petani,” ungkap Ali Mustopa.

Upaya untuk mendongkrak produksi padi di musim gadu (kering) dilakukan dengan memaksimalkan saluran irigasi. Sebagian lahan yang tidak mendapat pasokan air mengalah dibiarkan kering. meski memasuki masa padi berbulir.

Ali Mustopa menjamin, saat jaringan irigasi selesai dibangun, pengelolaan dan penyediaan air akan berjalan lancar. Warga yang menyediakan fasilitas sumur bor secara mandiri, bisa dipergunakan oleh petani lain.

“Meski mengeluarkan biaya sekitar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta, biaya investasi untuk pengairan bisa ditutup dengan hasil saat panen. Satu sumur bor dengan pipa tiga inchi bisa dipakai untuk lahan seluas lima hektare,” ujarnya.

Sutrisno, salah satu petani pengguna air menyebut, masih memanfaatkan saluran irigasi alami. Petani di Desa Pasuruan tersebut memanfaatkan air siring alam yang berukuran kecil dengan cara dibendung.

“Saat pengolahan lahan, pemupukan, penyiangan gulma hingga masa padi berbulir air harus dialirkan sehingga antar petani saling kerjasama,” ungkap Sutrisno.

Prinsip gotong royong untuk menyediakan air, dilakukan dengan membendung dan menelusuri saluran air. Penelusuran bertujuan, untuk memastikan saluran bersih dari sampah penyumbat. Lestarinya pasokan air dari Gunung Rajabasa, membuat petani masih mendapat pasokan air hingga masa padi berbulir. (***)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...