Penasaran Baca Berita Editan Gubernur NA? Klik Ini

0 Komentar

Sulsel Sangga Pangan Global

OLEH : NURDIN ABDULLAH
Gubernur Sulsel

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR —Perang dunia bukan lagi ancaman, kini. Krisis pangan global-lah yang akan mengancam kita.

Oleh karena itu, saya ingin menjadikan Sulsel sebagai ketua kelas bidang pertanian khusus di Indonesia bagian timur. Bahkan target besar saya, daerah kita ini menjadi penyanggah pangan nasional, bahkan global.

Krisis pangan dunia menjadi ancaman kita yang paling serius. Bumi ini luasnya tidak bertamah, populasi penduduk dunia terus melaju. Atas alasan itu, inovasi teknologi menjadi penting untuk pengembangan sektor pertanian ke depan.

Derivasi pemanfaatan teknologi itu berarti kita harus siapkan benih unggulnya, dll. Hal ini pula yang saya sampaikan pada seminar internasional, di Hotel The Rinra, Senin, 23 September.

Untuk mewujudkan harapan dan target itu, Sulsel harus menjadi daerah yang mandiri untuk benih. Kalau aplikasi pertanian sudah menggunakan benih unggul, maka tentu produksi juga akan naik.

Olehnya itu, tugas pemerintah sekarang adalah bagaimana mengonsolidasikan kepada para user (para pihak) kita, bagaimana Java, Kargil, dan beberapa produsen pangan yang membutuhkan, khususnya komunitas jagung, supaya petani-petani kita ikut sejahtera.

Jadi kontinuitas bahan bakunya juga bisa terjamin. Sehingga kesan bahwa cuma produsen pangannya saja yang makmur dan petaninya tetap miskin, bisa kita tepis. Makanya, harus ada perbaikan.

Hari ini (kemarin, red) seminar internasional kita gelar. Semua pakar ketemu dan masing-masing akan melengkapi. Ini supaya hasil seminar menjadi sebuah kekuatan besar. Sebab, terus terang Indonesia ini harusnya menjadi penyangga pangan dunia.
Seharusnya, kita tidak bicara lokal Indonesia lagi. Makanya ini semua kita mau dengar apa kesiapan kita menghadapi krisis pangan dunia.
Pada 2020 nanti, saya menargetkan, agar Sulsel bisa menjadi provinsi mandiri benih. Tak lagi impor dari luar.

Sedangkan pada 2021 dan 2022 nanti, saya punya target besar untuk menjadikan Sulsel sebagai daerah sumber benih, yang terpusat di kabupaten kecil seperti Enrekang, Barru, dan Bantaeng.

Selain itu sektor pertanian juga tak boleh mundur. Penerapan inovasi teknologi pertanian sudah harus dilakukan tahun depan. Yang didorong bukan lagi perluasan area penanaman tetapi produktivitas harus dinaikkan.

Harus menciptakan benih yang umurnya lebih pendek. Tetapi produksi besar.

Tak lagi menambah sawah baru, tetapi menambah produktivitas hasil pertanian yang sekarang. Sektor pertanian kita, adalah masa depan dunia mendatang.

Kita telah merasakan krisis 98, Sulsel termasuk yang menikmati. Krisis yang akan datang dampaknya akan lebih besar. Cokelat kita terjun bebas, bahkan sudah impor. Ini menjadi keprihatinan kita semuanya.

Selama ini petani juga tak pernah menikmati hasil yang optimal. Mereka tetap saja miskin, karena tak punya akses pasar. Bukan mereka yang menentukan harga jual ke masyarakat.

Sektor ini juga, membuat Sulsel bersiap sebagai daerah penyangga.

Saya sekarang berniat untuk melakukan lonjakan percepatan pembangunan. Isu pemindahan ibu kota harus kita sikapi sebagai peluang. Yang ada di Kalimantan, disuplai dari Sulsel.
Mulai dari sayur, buah, daging dan yang lain. Berapa kali lipat kebutuhan ibu kota baru, harus mampu kita siapkan. Sebagai penyangga ibu kota negara.

Infrastruktur

Saya banyak berdiskusi dengan masyarakat. Terutama persoalan kebutuhan daerah, salah satunya infrastruktur jalan. Kerap saya keliling desa tanpa harus melaporkan ke bupati, untuk melihat infrastruktur yang ada di daerah.

Di Wajo, misalnya, saya sudah turun melihat semua kondisi jalan yang diusulkan oleh Pak Bupati. Kita meminta mereka mempercepat DED agar semuanya langsung ditender segera. Anggarannya pun Rp72 miliar.
Jadi benar itu, semua cari gubernur.

Tahun ini kami menggelontorkan Rp300 miliar untuk bantuan keuangan daerah. Tahun depan anggarannya naik menjadi Rp500 miliar. Kita pikir, kenaikan ini penting karena semua adalah uangnya rakyat. Kita tidak punya wilayah. Daerah yang punya.

Pemprov tidak punya wilayah, tetapi merencanakan. Akhirnya program itu tidak tersentuh. Saya juga coba ke Bulukumba lewat jalur baru. Yakni, lewat Bone untuk sekadar membuktikan, usulan jalan pemerintah setempat.
Penyampaiannya bagus, akan tetapi saat dilewati ternyata hancur.

Di Bulukumba, kami juga menyiapkan anggaran Rp27 miliar. Itu untuk perbaikan jalan dan pedestrian di sekitar Pantai Tanjung Bira.

Di sana juga toiletnya sulit, akses jalan buruk dan yang lain. Jika kondisinya seperti ini, tak akan mengundang investasi. Makanya, tahun depan, perbaiki dulu jalan. Kita drop anggaran Rp50 miliar untuk Bira, mulai dari akses pejalan kaki, pasar seni, penataan kios-kios, dan area parkir. semua sudah harus siap.

Akses lain dari Morowali ke Sulsel juga telah kita benahi. Akses ke Seko pun sudah mulai terbuka. Begitupun akses jalan lain seperti Toraja-Bua, Bastem, hingga beberapa akses perbatasan dan daerah isolasi. Makanya selama satu tahun ini respons masyarakat positif ke pemerintah.

Benahi Makassar

Makassar juga ikut kami benahi. Saya sudah sampaikan ke Pak Wali bahwa kita butuh akses pejalan kaki. Yang kedua adalah tempat pakir, kita tawarkan ke swasta untuk membangun perparkiran berbayar.

Hentikan event. Fokus tata Makassar. Taman-taman harus dibenahi. Serta jadikan Makassar bebas debu. Benahi semua fasilitas dan merebut aset pemerintah. Mulai dari Jalan Tanjung Bunga hingga aset lain. Selama setahun hampir Rp10 triliun nilai aset yang berhasil diambil pemerintah. (ful/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...