Adi Prayitno: Kalaupun Ini Dimobilisasi, Ya Enggak Ada Masalah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menganalisis penyebab demo mahasiswa dari berbagai kampus di seluruh tanah air meluapkan kemarahannya dengan turun ke jalan.

Adi Prayitno mengatakan, aksi para mahasiswa itu sebenarnya tidak lebih dari sekadar respons terhadap situasi politik terkini. Terutama tentang revisi UU KPK dan RKUHP. Menurutnya, ada kampanye yang begitu masif terutama untuk menolak revisi RUU kontroversial tersebut.

“Artinya kampanye untuk menolak revisi UU KPK, RKUHP, masuk dan mengena di memori kolektif mahasiswa bahwa kedua RUU itu bermasalah. Kalaupun toh ini dimobilisasi, ada yang ngajak, ya enggak ada masalah,” ucap Adi Prayitno kepada JPNN (Grup Fajar), Rabu (25/9).

Permasalahan paling kentara dari kedua RUU itu, menurutnya, terlihat jelas dalam proses pembahasannya yang kilat, dan tanpa melibatkan public hearing.

Nah, yang diinginkan mahasiswa adalah adanya proses dialogis antara rakyat dengan pemerintah maupun DPR.

“Tumben-tumbenan ini, giliran dua undang-undang ini pemerintah, DPR, tidak mengajak mahasiswa, tidak mengajak civil society, tidak mengajak kelompok-kelompok yang selama ini berseberangan,” sebut direktur eksekutif Parameter Politik Indonesia ini.

Demo Bakal Besar-besaran di Surabaya, Diikuti Pelajar

Anggota Polri Korban Demo Mahasiswa Capai 65 Orang

Bayi Berkaki dan Bertangan Empat Dirujuk ke RSUP Sanglah

Terlibat Politik, 299 ASN Disanksi, 692 Masih Menunggu

Yasonna H Laoly: Pakai Mekanisme di MK, Tidak Perlu Perppu

Mestinya, kata Adi Prayitno pembahasan rancangan undang-undang di DPR itu selalu melibatkan pihak-pihak tertentu yang dianggap berseberangan ataupun ahli.

Termasuk para pihak-pihak yang menolak sejumlah substansi pada RKUHP maupun RUU KPK.

Nah, karena prosedur itu dinilai tidak berjalan, maka mahasiswa memposisikan diri sebagai elompok yang mengkritik DPR yang menggembok ruang dialog itu.

“Itu saja sebenarnya. Kalau soal perdebatan substansi saya kira ada positioning-nya dong dari masing-masing pihak. Karena proses dialog ini tersumbat, maka terjadilah kemarahan di mana-mana. Nah, ini yang perlu diperbaiki ke depan,” tandas Adi Prayitno. (jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...