Amnesty International Indonesia Desak Penembak Mahasiswa Diadili

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, menyesalkan tindakan represif aparat keamanan dalam mengamankan unjuk rasa di depan DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9). Sedikitnya, dua orang telah menjadi korban jiwa akibat peristiwa tersebut.

“Kematian seorang mahasiswa hari ini menunjukkan bahwa taktik polisi tidak menjamin keamanan demonstran,” kata Usman dalam keterangannya, Jumat (27/9).

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mendesak, pemerintah dapat mengusut tuntas pelaku penembakan Randi dan yang menyebabkan Yusuf Kardawi meninggal dunia. Usman menginginkan oknum aparat tersebut diadili di peradilan umum.

“Pihak berwenang harus segera menetapkan fakta penembakan yang fatal ini melalui penyelidikan secara cepat, menyeluruh, independen, dan imparsial. Pelaku penembakan harus diadili di peradilan umum,” terang Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid.

Tak hanya pada peristiwa itu, Usman menyebut banyak bukti bahwa aparat kepolisian melakukan tindakan represif. Terlebih kini mahasiswa menjadi korban kekejamannya.

“Sudah banyak bukti bahwa kepolisian memukuli demonstran dan menggunakan kekerasan secara berlebihan sejak protes meledak pada tanggal 23 September,” sesal Usman.

Penyanyi Mulan Jameela Rindu Ahmad Dhani, Ini Dilakukan

Galaxy Fold yang Unik dengan Lipatan itu Masuk Indonesia

Irman Gusman Dapat Pengurangan Hukuman Jadi 3 Tahun

Karang Taruna Sidrap Serahkan Bantuan Untuka Warga Korban Kebakaran Di Lt Benteng

Resmi, Inilah Lima Pimpindan DPRD Makassar: Iqbal Suhaeb: Legislatif Harus Bersinergi

Oleh karena, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengharapkan tindakan represif tidak dilakukan saat mengamankan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa. Seharusnya polisi dapat mencegah terjadinya korban.

“Penggunaan kekerasan secara berlebihan oleh kepolisian dalam aksi unjuk rasa hanya akan memperburuk situasi. Prioritas aparat seharusnya mencegah kematian dan memastikan bahwa mereka melindungi hak asai manusia demonstran,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dua orang mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) menjadi korban dalam demonstrasi di DPRD Sultra pada Kamis (26/9). Immawan Randi meninggal saat demonstrasi menolak RKUHP dan revisi UU KPK. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) itu tewas ditembak di area dada kanan.

Lelaki berumur 21 tahun itu, mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Ismoyo Korem 143 Haluoleo Kendari. Di bawah tulang selangka bagian kanannya terdapat lubang diduga akibat luka tembak.

Kemudian pada hari ini, Muhammad Yusuf Kardawi dikabarkan meninggal dunia setelah menjalani masa kritis usai melakukan unjuk rasa di depan kantor DPRD Propinsi Sulawesi Tenggara. Yusuf dikabarkan menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 04.00 WITA.

Bagian kepala Yusuf mengalami luka parah sehingga harus menjalani operasi. Namun nahas, Yusuf tak bisa diselamatkan meski sudah mendapat penanganan medis. (jp)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...