Paspor Elektronik RI Peroleh Sertifikat PKD dari ICAO

1 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Dokumen Perjalanan Republik Indonesia elektronik atau paspor elektronik RI, telah memperoleh Sertifikat Public Key Directory (PKD) dari International Civil Aviation Organization (ICAO).

Sertifikat ini diterima langsung oleh Direktur Jenderal Imigrasi Ronny F. Sompie dalam penyampaian Memorandum of Understanding, dengan Secretary General ICAO Fang Liu di Kantor Pusat ICAO Montreal Kanada kemarin (26/9).

Ya, Indonesia menjadi negara ke-69 yang menerima sertifikat PKD yang menyangkut keamanan dan integritas dokumen perjalanan atau paspor elektronik. Hal ini memberikan keuntungan bagi pemegang paspor elektronik RI, sehingga data paspornya lebih aman dan tersimpan dengan baik.

Kepala Subbagian Humas Ditjen Imigrasi Sam Fernando mewakili Direktur Jenderal Imigrasi mengatakan setelah menerima sertifikat PKD, maka data paspor elektonik RI akan bisa diakses oleh 69 negara yang telah terdaftar di ICAO dan begitu pula sebaliknya Imigrasi Indonesia bisa mengakses data paspor negara anggota ICAO.

“Keuntungan lainnya yaitu pemegang paspor elektronik RI akan mudah melintas dengan mudah dan menjadi lebih dipercaya di negara tujuan. Selanjutnya, derajat dan kewibawaan paspor juga akan meningkat di hadapan negara-negara anggota ICAO,” terangnya.

Pendaftaran untuk memperoleh sertifikat PKD ICAO merupakan kewajiban bagi negara-negara yang telah menerapkan paspor elektronik. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam proses pertukaran data paspor elektronik antar negara anggota.

Ditambahkannya, Direktorat Jenderal Imigrasi saat ini menargetkan penambahan Kantor Imigrasi yang menerbitkan paspor elektronik dari semula sembilan menjadi 27 Kantor Imigrasi. Penambahan ini ditargetkan akan berjalan pada akhir tahun 2019.

Di samping itu, Ditjen Imigrasi juga akan melakukan uji coba penerapan paspor elektronik berbahan polikarbonat pada akhir tahun 2019 di empat Kantor Imigrasi. Diharapkan pada tahun 2024 seluruh paspor RI akan menggunakan paspor elektronik RI berbahan polikarbonat, jelasnya.

Kantor Imigrasi Kelas II B Mimika, akhirnya mendeportasi seorang warga negara Kamerun bernama Nguetse Zangue Elvige Flora yang berprofesi sebagai penata rambut.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Mimika Jesaja Samuel Enock di Timikamengatakan, warga negara Kamerun itu dideportasi kembali ke negara asalnya karena terbukti telah melakukan tindak pidana keimigrasian, yaitu menyalahgunakan izin tinggal sebagaimana diatur dalam Pasal 122 huruf a UU Nomor 6 Tahun 2011.

Nguetse Zengue Elvige Flora dalam persidangan Pengadilan Negeri Timika pada 13 Juni 2019 divonis bersalah dengan hukuman selama tujuh bulan kurungan. “Yang bersangkutan telah selesai menjalani masa hukuman pada Kamis (12/9) berdasarkan surat dari pihak Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Timika,” katanya.

RUU PSDN Resmi Diundangkan, Sipil Berhak Bela Negara

Ketua Panja RUU PKS Marwan Dasopang: Saya Sudah Lelah

Saut Situmorang: Jokowi Presiden Paling Keren NKRI

Demi Demokrasi

Kematian Jamal Khasoggi, Pangeran MBS Mengaku Bertanggung Jawab 

Selanjutnya pada hari yang sama, Nguetse Zengue Elvige Flora diserahterimakan oleh pihak Lapas Kelas II B Timika kepada Kantor Imigrasi Kelas II Mimika. “Atas dasar itulah kami melakukan pendeportasian yang bersangkutan ke negara asalnya melalui rute Timika-Bali-Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 653,” katanya.

Selanjutnya dengan pesawat Ethiopian Airlines ET 629 melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan rute Jakarta-Bangkok-Kamerun. “Nama yang bersangkutan dimasukan dalam daftar penangkalan,” kata Enock.

Nguetse Zengue Elvige Flora ditangkap oleh petugas Satuan Intelijen dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas II Mimika beberapa waktu lalu karena menyalahi izin tinggal dengan bekerja sebagai penata rambut pada sebuah salon kecantikan di Kota Timika. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...