RS Ibnu Sina Jalani Visitasi Penetapan RS Pendidikan Utama

1 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — RS Ibnu Sina, Yayasan Wakaf UMI menjalani visitasi penetapan sebagai RS Pendidikan Utama FK UMI. Untuk meraih predikat A (unggul), rumah sakit telah melakukan beberapa persiapan, sesuai standar kompetensi RS Pendidikan.

Ibnu Sina sebagai RS Pendidikan Utama harus memenuhi syarat, yakni standar RS kelas B, yakni RS yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas.

Direktur RS Ibnu Sina, Dr dr Sultan Buraena, mengutarakan, sebagai RS pendidikan sudah berjalan lama, tetapi belum mendapatkan sertifikat. “Selama ini sambil jalan, sambil persiapan juga. Persiapan itu untuk kelas B dan lulus akreditasi paripurna oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS),” ungkapnya.

Hal tersebut telah diraih RS Ibnu Sina, sisa menunggu hasil visitasi penetapan sebagai RS Pendidikan yang bersinergi dengan Fakultas Kedokteran (FK) UMI. Menurut Dekan FK UMI, Prof Syarifuddin Wahid, sinergi program pendidikan diatur fakultas yang dilaksanakan rumah sakit.

“Kami membentuk mata kuliah untuk menggapai standar kompetensi. Atau program lain, seperti ko-assiten (koas). Harusnya koas itu tidak terlalu banyak karena tidak efektif pembelajaran,” ungkapnya setelah mengikuti pembukaan visitasi di Aula Ibnu Sina. Sabtu, 28 September.

NA: Kalau Kita Evakuasi, Nanti Pemerintah Papua Tersinggung

Bupati Tator Ajak Difabel Buka Pameran Wisata di Makassar

Warga Pendatang di Wamena Ketakutan, Pilih Pulang Kampung

Margarito Bilang Presiden Joko Widodo hanya Perlu Konsisten

Aboe Bakar Al Habsy Desak Seriusi Penyelesaian Rusuh Wamena

Lebih lanjut, koas maksimal satu banding lima atau satu dokter, lima mahasiswa. Jika di RS sudah penuh, maka dialihkan ke RS jejaring Ibnu Sina. “Ada 12 RS jejaring kita, tiga di antaranya RS Faisal, Khadija, dan Bhayangkara,” sebutnya.

Tim Visitasi, Direktur Yankes Rujukan Kemenkes RI, dr Tri Hesty Widyastoeti mengaku, untuk ditetapkan sebagai RS Pendidikan, bukan hanya komitmen dari atasan saja atau pemilik, tapi komitmen pendidik dalam membina dokter muda yang unggul.

Kelengkapan fasilitas pun diharapkan tidak luput dari perhatian pengelola RS. “Perhatikan jika ada permintaan alat, karena fasilitas juga perlu, sebagai perlengkapan jika ada pasien rujukan, dan sebagainya. Semua butuh support bersama,” jelasnya. (aas)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...