Kisah Aida Ramadhani Amir, Duta Genre Sulsel 2018: Sambil Sekolah Jual Nasi Kuning, Atau Cari Kayu Bakar

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Berjuang sedari kecil, inilah kisah inspiratif seorang Aida Ramadhani Amir, Duta Genre Sulawesi Selatan tahun 2018

Menjadi anak korban “broken home” bukanlah cita-cita. Anak yang berada dalam kondisi seperti ini akan merasakan situasi yang menyebalkan dan menyakitkan. Dan itulah yang dirasakan oleh Aida Ramadhani, gadis kelahiran 28 Desember 1998 ini terpaksa menanggung beban perceraian kedua orang tuanya. Di usianya yang baru 6 tahun, Aida harus merasakan pahitnya kehidupan.

Sejak TK, ia sudah harus berjualan nasi kuning di sekolah. Itu semua ia lakukan untuk bertahan hidup dan membantu ibunya.

“Waktu TK dulu setiap saya mau kesekolah, saya selalu nebeng sama siapa saja yang lewat depan rumah yang mengarah ke sekolah, mamaku yang tahankan,”

“Saya juga ingat waktu SD, setiap pagi saya selalu bawa 2 atau 3 tempat kue isinya itu nasi kuning dan keripik yang saya titip di kantin nanti pulang sekolah baru saya ambil kadang juga saya bawa ke kelas dan saya tawarkan ke teman-teman dan Alhamdulillah jualanku laku,” ujarnya.

Aida yang saat itu masih duduk dibangku sekolah dasar (SD) merasa tidak malu ataupun minder dengan teman-temannya yang lain karena harus membawa barang jualan ke sekolah. Setelah ia sadari dari hal-hal kecil seperti itu telah membangun kepercayaan dirinya hingga saat ini.

“Saya ingat sekali waktu masih SD, kalau mau masak haruska pergi cari kayu dulu, anak SD ini cari kayu di jalan terus di bawa ke rumah supaya bisa dipakai untuk masak,” ujarnya sambil tertawa saat menceritakan masa lalunya.

Aida dikenal sebagai seorang murid yang berprestasi. Dari kelas satu hingga lulus SD ia langganan dapat rangkin peringkat 1, 2 dan 3. Ia juga mendapat beasiswa berprestasi, bahkan pernah meraih juara satu lomba debat. Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia masih dikenal dengan prestasinya dan aktif berorganisasi. Kemudian di Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam beberapa lomba ia pernah mewakili kabupaten dan provinsi. Lalu berpuncak di bangku kuliah, ia pernah mengikuti lomba di tingkat nasional. Dan pada tahun 2018 ia terpilih sebagai duta Genre dan menjadi pembicara di berbagai tempat.

Prestasi yang ia dapatkan selama ini tak lepas dari didikan dan kasih sayang seorang ibu yang membuatnya tidak pernah merasa kekurangan apapun. Ibunya juga bisa memerankan dirinya sebagai seorang ayah. Setiap kali pulang kerja, meski dalam keadaan lelah ibunya tak lupa mengajarkan anaknya membaca, menulis dan membantu Aida mengerjakan tugas.

Dari masa lalunya ini Aida banyak mendapatkan pelajaran. Ia sudah merasakan pahit manisnya kehidupan di umurnya yang masih terbilang sangat muda, sebab itulah ia ingin menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Aida juga berharap melalui kisahnya ini, dapat menginspirasi bagi semua orang. “Ada niat, ikhlas karena Allah, dan selalu berdoa minta restu insyaAllah semua bisa dicapai. Itulah prinsip hidup yang selalu saya pegang sampai saat ini” tutupnya. (*)

Citizen Reporter: Nurdiana

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...