Kisah Mahasiwa Tertabrak Kendaraan Taktis Polisi, Ternyata Anak Tunggal, Jadi Pilar di Keluarga

0 Komentar

Dicky Wahyudi jadi harapan keluarga. Ia anak tuggal. Bapaknya sudah tiada. Usai tertabrak, Ia terbaring di RS Tak dan bisa membantu ibunya memenuhi ekonomi keluarga.

Laporan: Rahmadhani Indah-Aandi Shaeful

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Seorang pria tengah bercengkrama dengan beberapa temannya di ruang ICU, Rumah Sakit (RS) Ibnu Sina, Minggu, (29/09/2019).

Ia masih bisa tersenyum pada teman-temannya meski wajahnya terlihat memerah dan berbekas luka. Mata kanan dan pipi kanannya bengkak. Membuatnya cukup sulit berbicara. Tubuhnya diselimuti karena ruangan dalam kondisi cukup dingin.

Teman-temannya mengerumuni sekitaran tempat tidur, menyemangatinya agar bisa tersenyum lagi. “Alhamdulillah baikmi kak kondisi saya,” ujarnya kepada tim FAJAR.

Dia menyebutkan nama lengkapnya: Dicky Wahyudi. Ia baru saja terkena musibah, harus terbaring di RS karena insiden tabrakan mobil polisi yang membuat tubuhnya tak bisa bergerak.

Seorang wanita paruh baya mengenakan hijab kuning, namanya Nurbaeti, ibunda dari Dicky, sedang sibuk berbicara dengan salah satu perawat.

Wanita asal Maros ini juga mengambil beberapa baju dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.

Ia sedang bersiap karena akan memindahkan anaknya ke RS Bhayangkara. Kabarnya permintaan langsung Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe. Katanya, Dicky juga akan diangkat menjadi seorang anak.

Nurbaeti menceritakan kondisi anaknya saat ini setelah tertabrak. Kondisi Dicky terlihat sudah agak membaik, meski tubuhnya masih terasa sakit karena hantaman mobil. Nurbaeti begitu sedih, melihat anaknya terbaring lemah.

Padahal, Dicky anak yang begitu ceria. Ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu. Saat melihat Dicky tak sadarkan diri, Nurbaeti tak kuat menahan tangis. Ia takut anaknya akan pergi meninggalkannya.

Padahal, usianya masih sangat muda; 19 tahun. Mahasiswa Unibos itu masih punya banyak mimpi yang belum terwujud. Belum habis pilu kehilangan suami tercinta lima bulan lalu, ia kini harus melihat anaknya meringis kesakitan.

“Sambil menangis dia bilang sama saya, ‘Mama sakit semua badanku’. Saya bilang, sabarki nak, harus kuat. Jangan tinggalkan mama. Sendiri mamia kodong,” ucapnya sendu.

Nurbaeti mengetahui anaknya akan melakukan demonstrasi, namun wanita yang berprofesi sebagai pedagang ini tak menyangka anaknya akan menjadi korban. Dia pun tak bisa melarang Dicky, sebab katanya demonya untuk kepentingan rakyat.

“Dia bilang janganki larangka mama karena pasti tetapka pergi. Saya harus ikut demi rakyat,” tambahnya.

Nurbaeti memang tak pernah melarang anaknya tersebut, sebab anaknya sangat kukuh dengan pendiriannya. Ia hanya bisa berdoa anaknya tetap sehat-sehat saja. Hanya ayahnya yang dahulu selalu mencarinya ketika Dicky terlambat pulang ke rumah.

Bergantian dengan kakaknya, Nurbaeti harus menjaga Dicky. Sebab, Nurbaeti juga harus bekerja mencari nafkah dengan berjualan di Pasar Sentral. Kepergian suaminya membuat Nurbaeti harus menafkahi sang anak.

Ia punya harapan besar anaknya bisa menjadi anak yang sukses. Nurbaeti bersyukur Kapolda Sulsel ingin membantu membiayai perawatan dan kuliahnya hingga selesai.

“Bahkan katanya mau dicarikan juga pekerjaan. Mudah-mudahan anak saya sehat-sehat terus dan bisa mewujudkan mimpinya,” ucapnya.

Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe datang menjenguk Dicky, pagi kemarin. Ada pula, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah dan Pj Wali Kota Makassar, Iqbal Suhaeb. Pengobatannya ditanggung oleh para pejabat tersebut.

Guntur Laupe mengangkat Dicky sebagai anak angkatnya. Semua biaya studinya akan dipenuhi, termasuk untuk pekerjaannya. “Orang tuanya sudah meninggal dan dia adalah tulang punggung di rumah itu. Dia juga sementara kuliah Semester III,” bebernya.

“Karena tidak ada lagi harapan di keluarganya, mulai hari ini saya angkat jadi anak angkat. Sampai saya meninggal dan sampai dia meninggal,” ungkapnya kepada FAJAR usai menjenguk Dicky di RS Ibnu Sina.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengatakan, hal ini menjadi wujud keprihatinannya kepada mahasiswa. Kata dia Dicky merupakan anak tunggal, orang tuanya pun baru meninggal, makanya Kapolda mengangkatnya menjadi anak angkat.

Ia juga meyakinkan, segala biaya rumah sakit menjadi tanggungannya. “Pak Kapolda sudah janji tadi bukan hanya menyelesaikan studi, tetapi sampai dia bekerja. Supaya bisa membantu ekonomi keluarga,” jelasnya.

Nurdin pun meminta agar tindakan unjuk rasa diakhiri, untuk saat ini. Diubah menjadi forum dialog. Duduk bersama dengan kepala dingin, tanpa harus turun ke jalan lagi.

Ketimbang, menghabiskan tenaga di jalan. Tak hanya lalu lintas, melainkan akan menganggu semua sendi perekonomian. Dia pun mendukung upaya pemberantasan korupsi.

“Yang kita khawatikan kalau demo, seperti ini. Awalnya murni aspirasi dan damai, tetapi kita tidak bisa kontrol pihak yang punya niat tidak baik. Kalau ada yang mengganjal, anak-anak mahasiswa bisa datang ke kami,” jelasnya.

Ia menambahkan jika pemerintah sudah menyatakan sikap. “RUU akan dikaji kembali. Begitupun dengan KUHP juga ditunda,” paparnya.

Penabrak Diproses
Kapolda Sulsel Irjen Pol Mas Guntur Laupe akan bertindak tegas. Anggota yang terbukti melanggar saat pengamanan aksi demo beberapa waktu lalu, akan mendapat sanksi.

Salah satunya adalah anggota polri sopir kendaraan taktis, yang menabrak Dicky Wahyudi. Kata Guntur Laupe, meski tindakan tersebut tak disengaja, tetap ada hukuman berdasarkan undang-undang.

“Semua tetap diproses di Propam dan sudah diperiksa. Jadi sopirnya saja, sesegera mungkin kami akan sidang yang bersangkutan,” jelasnya kepada FAJAR saat ditemui di RS Ibnu Sina, kemarin.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, ada sembilan orang anggota polri yang saat ini diproses di Propam Polda Sulsel. Selain sopir kendaraan taktis, ada oknum pemukul wartawan, hingga anggota polri yang masuk masjid tanpa melepas sepatu.

Kata dia, pihaknya punya aturan sendiri dalam memproses mereka. Diapun memastikan pasti akan ada sanksi. Polda Sulsel akan transparan dalam proses sidang disiplin para oknum anggota Polri tersebut.

“Sebetulnya tidak ada unsur kesengajaan. Termasuk yang menabrak pengunjuk rasa, itu tidak disengaja. Begitupun dengan yang masuk ke masjid, itu semata-mata untuk mengamankan pengunjuk rasa, tidak ada kesengajaan,” jelasnya. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...