Pengaruh Literasi Sosial Media Terhadap Perilaku Anak Dalam Keluarga

0 Komentar

 

Oleh: Ibrahim Barsilai Jami

The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go ( Lebih banyak anda membaca, lebih banyak hal yang anda ketahui. Lebih banyak hal yang anda pelajari, lebih banyak tempat yang anda kunjungi)”
Dr. Theodore Seuss Geisel , Penulis Dari Amerika Serikat (1904 – 1991)

Jika buku adalah Jendela dunia maka update status di media sosial adalah pintu utama eksistensi diri di era modern. Halaman buku-buku tak lagi terjamah tangan manusia, meskipun demikian masih ada sebagian orang lebih memilih membaca eksemplar buku cetak ketimbang literatur digital. Jari-jemari tangan manusia asyik bermain di tombol android, berkelana di dunia maya, mencari informasi, hiburan, dan kesenangan diri. Kegiatan berselancar di internet ini juga merasuki otak anak-anak kita. Mereka telah menggadaikan masa bermain mereka yang biasanya bermain petak umpet dan cilukba lalu menggantinya dengan sentuhan tangan pada screen handphone yang menyuguhkan aneka hiburan dan santapan elektronik yang menggiurkan.

Eksistensi Diri Anak Milenial

Eksistensi manusia selalu dipengaruhi oleh faktor alam dan biologis yang hakiki dimana sejak pertama kali hadir di bumi ini, manusia telah mewarisi sifat untuk ingin tampil dan menunjukkan jati dirinya. Perilaku menampilkan diri ini adalah suatu ekspresi alamiah sebagai suatu rasa percaya diri yang ditimbulkan oleh dorongan sosial, lingkungan dan rangsangan lain yang yang mengiringinya. Dari waktu kewaktu, teknologi informasi dan komunikasi terus mengalami perubahan dan perkembangan yang sangat pesat. Di zaman ini, perkembangan dan penyebaran teknologi internet sudah hampir merata keseluruh pelosok penjuru dunia.
Anak-anak tumbuh dan berkembang dalam buaian teknologi informasi yang sangat maju saat ini, ikut serta menampilkan diri dalam pergaulan sehari-hari di media sosial. Mereka hadir sebagai cerminan dari betapa telah berubahnya zaman kita dengan zaman sekarang ini. Ketersediaan media dan kesempatan, memudahkan para generasi milenial kita bersorak gembira, mengekpresikan diri mereka secara luas dan tanpa batas.

Karakter Positif Anak Dalam Keluarga

Pengaruh penggunaan media sosial yang berlebihan telah menggerus nilai-nilai, etika dan norma dalam keluarga. Beberapa orang tua mengatakan bahwa anak zaman sekarang terkesan kurang santun? Yup, biasanya pernyataan “anak zaman sekarang kurang santun” ini diucapkan oleh orang yang lebih tua, yaitu generasi baby boomers (yang lahir tahun 1960-an) dan generasi X (lahir tahun 1970-an), kepada generasi Y atau generasi milenial (yang lahir akhir tahun 1980-an, 1990 hingga 2000-an) yang lebih muda. Maklum, generasi milenial kayaknya sudah mulai melupakan etika sopan santun dari leluhur kita, salah satunya seperti mlaku bungkuk (berjalan sambil membungkuk). Namun, seiring perkembangan teknologi dan informasi, kebiasaan baik ini mulai bergeser dengan cara pandang milenium yang dianggap lebih modern. Teknologi mulai menggerus banyak nilai budaya di tengah masyarakat kita.
Orang tua harus mendidik anak-anak dengan cara yang berbeda. Anak-Anak milenial sangat kreatif dan penuh inovasi. Mereka lahir pada zaman yang sangat modern. Mereka bersahabat dengan jaringan internet setiap saat, yang memungkinkan mereka terhubung dengan banyak hal tentang dunia luar. Jika anak diarahkan dengan tepat tentu mereka akan menjadikan media sosial dan segala literasi yang terkandung didalamnya sebagai asupan makanan yang menyehatkan otak dan jiwa mereka.

Dampak Positif Literasi Sosial Media Terhadap Perilaku Anak Dalam Keluarga:
Ada banyak sekali jenis media sosial yang menjamur di internet. Sebut saja seperti facebook, twitter, instagram, vk, youtube, whatsapp, line, wechat, dan lain sebagainya. Semua media sosial tersebut, dalam penggunaannya tentu memiliki berbagai manfaat dan dampak negatif yang ditimbulkan karenanya.
Saya mengamati literasi media sosial sejauh ini bersifat absurd, tak terukur dan minim referensi. Banyak literatur online yang adalah karya copy paste dari tangan ke tangan sehingga para pembaca tidak mendapatkan bacaan yang segar dan baru. Meski demikian tidak dapat dipungkiri bahwa penggunaan media sosial sejauh ini sangat membantu aktivitas anak-anak untuk mencari pekerjaan rumah mereka, menyapa teman untuk janjian kerja kelompok atau chatting dengan orang tua mereka untuk menjemput ketika bepergian keluar rumah. Berikut beberapa manfaat positif dari media sosial:
1. Jembatan Komunikasi
Dengan adanya media sosial, hal ini dapat memudahkan seseorang untuk berkomunikasi dengan saudara, Keluarga, teman, kenalan, sahabat, dan semua orang yang dikenalinya. Hanya dengan membuka aplikasi sosial media dari berbagai gadget yang ada. Semua orang dapat langsung terhubung dan berkomunikasi, asalkan ada jaringan dan koneksi internet. Seluruh dunia dapat dijangkau, dan komunikasi pun dapat dijalankan dengan lancar dan mudah.

  1. Menemukan Teman baru
    Dengan adanya sosial media. Kita dapat menjalin pertemanan dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia. Walaupun kita tidak pernah bertatap muka secara langsung. Namun persahabatan dan percakapan dapat dengan mudah dilakukan di sosial media. Dengan demikian, kita dapat membuka wawasan dan jendela baru, tentang betapa luasnya bumi kita tercinta, betapa beragamnya kultur dan budaya manusia di seluruh dunia.

  2. Menambah Pengetahuan
    Seperti yang sudah tersebut diatas. Dengan adanya sosial media, kita dapat membuka jendela informasi baru. Kita dapat menemukan berbagai informasi dan wawasan terbaru, kita dapat mengenal ragam kultur dan budaya manusia dari berbagai penjuru dunia. Dengan demikian, kita dapat mengetahui betapa kecilnya kita, betapa sempitnya ilmu dan pengetahuan kita. Sehingga kita lebih dapat terbuka dan menjadi menghargai semua perbedaan yang ada.

Dampak Negatif Literasi Sosial Media Terhadap Perilaku Anak Dalam Keluarga:
Selain manfaat atau dampak positif yang dihasilkan dari penggunaan sosial media. Banyak juga dampak negatif atau efek buruk yang ditimbulkan dari adanya sosial media.

  1. Sulit bersosialisasi di dunia nyata
    Karena kecanduan, karena keasikan dan ketagihan bermain di sosial media. Hal tersebut dapat mengganggu kelangsungan hidup, atau mengganggu kehidupan normal seorang manusia. Dari yang biasanya seorang manusia menjadi mahkluk sosial, karena terlalu asyik nge-sosmed. Akhirnya malah menjadi terpaku dan terfokus pada info dan update terbaru dari berbagai status sosial media yang ada. Seseorang, baik itu anak-anak, remaja, orang dewasa, pelajar, pekerja, akan teganggu kehidupan sosialnya. Mereka akan memiliki masalah dalam komunikasi, dan malah menimbulkan berbagai penyakit mental seperti phobia sosial, stres, depresi dan lain sebagainya. Sehingga dapat membuat sesuatu yang jauh menjadi dekat (dan yang dekat akan semakin menjauh.

  2. Lambat merespon sesuatu/malas bergerak
    Seseorang yang sudah ketagihan bermain sosial media pada akhirnya mereka akan malas untuk beraktivitas di dunia nyata. Mereka menjadi malas bergerak, menjadi terfokus pada apa yang ada di sosial media. Semenit, sejam, seharian tanpa media sosial, rasanya hidup akan menjadi hampa, menjadi hambar dan tidak ada artinya. Sehingga membuat semangat hidup menjadi menurun jika tanpa adanya sosial media. Bagi pelajar, mereka akan menjadi malas karena terfokus dan terpaku pada sosmed. Pada akhirnya nilainya akan anjlok, dan terus menurun.

  3. Jembatan menuju Kejahatan
    Kemudahan mengakses informasi di media sosial dapat memberi celah bagi seseorang orang melakukan kejahatan. Misalnya penculikan, perampokan, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, bagi pengguna sosmed, disarankan untuk menyembunyikan berbagai informasi yang penting, yang tertera di profil anda. Seperti nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah, hobi, hubungan dengan seseorang, dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan agar menekan dan meminimalisir tindak kejahatan yang bisa mengancam dan mengintai dimana saja.

  4. Ganguan Kesehatan
    Waspadai anak-anak yang menghabiskan waktu berjam-jam didepan layar gadget karena dapat berakibat fatal. Banyak contoh kasus anak yang mengalami dampak buruk dari radiasi cahaya android smartphone pada indera penglihatan bahkan awal September lalu seorang remaja di Asahan, Sumatera Utara menjadi viral di media sosial karena kecanduan bermain gadget. Retina matanya menjadi rusak dan ia tidak dapat melihat dengan jelas.

Orang tua sebagai pintu pertahanan perilaku yang berbudaya dalam keluarga
Keluarga sebagai fondasi akhlak dan karakter bagi anak-anak diharapkan mampu menjadi pintu gerbang pertahanan nilai dalam keluarga. Sekolah hanya mampu mengawasi siswa selama mereka berada di sekolah. Namun, para orang tua punya kendali penuh atas pergerakan anak-anak mereka di rumah. Orang tua mengajarkan nilai-nilai, tata krama, sopan santun, dan kebiasaan-kebiasaan baik. Penjaga gawang dalam pertandingan sepakbola akan menjaga gawangnya dengan penuh kewaspadaan agar tidak mudah kebobolan. Demikian pula para orang tua harus mampu menjaga anaknya dari berbagai pengaruh buruk yang dapat merusak karakter mereka.
Pada akhirnya, orang tualah yang akan berdiri didepan pintu, membukakan pintu dan mempersilahkan anak-anak mereka masuk kembali ke dalam rumah, setelah mengijinkan mereka berkelana di dunia Maya beberapa saat lamanya. Mereka kembali dalam pelukan hangat dan belaian kasih sayang keluarga yang mencintai mereka seutuhnya. ***

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...