Tiongkok Pamer 580 Rudal Balistik dan Drone Supersonik

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, BEIJING– Gerbang Tiananmen menjadi saksi sejarah. Di sanalah Mao Zedong mengumumkan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) 70 tahun lalu.

Selasa (1/10) puncak peringatan besar-besaran akan digelar untuk merayakan tujuh dekade lahirnya negara Tiongkok. Salah satunya lewat parade militer yang melibatkan 15 ribu personel, 170 pesawat, 580 misil balistik, drone supersonik, tank, senapan mesin, dan berbagai senjata tempur terbaru lain.

”Banyak senjata baru yang akan ditunjukkan untuk kali pertama,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Tiongkok Mayor Jenderal Cai Zhijun seperti dikutip AP.

Salah satu yang paling ditunggu adalah Dongfeng 41. Itu adalah misil dengan hulu ledak nuklir yang bisa mencapai Amerika Serikat (AS) dalam waktu 30 menit. Perkembangan teknologi persenjataan Beijing memang maju pesat dan berpotensi menyusul Negeri Paman Sam. Parade itu kian menggarisbawahi ambisi Beijing untuk menguasai Taiwan, Laut China Selatan, dan wilayah sengketa lain.

”Banyak pengamat, termasuk militer AS, yang berpikir bahwa langkah Tiongkok kian dekat dengan apa yang mereka lakukan dan mereka mulai khawatir,” ujar Siemon Wezeman, peneliti di Stockholm International Peace Research Institute.

Beijing memang tak bisa dianggap remeh. Pasukan Pembebasan Rakyat merupakan militer terbesar di dunia. Personelnya mencapai 2 juta orang. Negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu juga mulai membuat pesawat tempur, kapal induk, dan kapal selam bertenaga nuklir.

Banyak hal yang bisa dirayakan oleh Tiongkok setelah tujuh dekade. Salah satunya terkait dengan perekonomiannya. Bert Hofman, peneliti di East Asian Institute, National University of Singapore, menegaskan, Tiongkok saat ini memosisikan diri sebagai contoh bagi negara lain. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di planet ini tersebut berhasil keluar dari kemiskinan dan kini menjadi investor serta penguasa perdagangan.

Di bidang ekspor, cadangan devisa, telepon genggam, penjualan mobil, dan penggunaan internet, Tiongkok saat ini merupakan yang paling dominan. Kolumnis South China Morning Post Cary Huang mengungkapkan, dalam satu dekade terakhir Tiongkok menjadi mesin utama pertumbuhan global. Tiongkok bahkan membiayai program dan pembangunan infrastruktur di negara-negara berkembang seperti yang ada di Asia dan Afrika. ”Tidak ada keraguan, pengaruh ekonomi Tiongkok sangat besar,” ujarnya.

Huang mengakui, banyak tantangan di depan. Termasuk, kerusuhan di Hongkong, perpecahan di politik, perang dagang, dan berbagai hal lain. Pertumbuhan ekonomi juga melambat meski tak signifikan. Persoalan Taiwan dan konflik wilayah-wilayah sengketa juga menunggu untuk diselesaikan.

”Berlanjutnya kesuksesan ekonomi akan bergantung pada kemauan untuk merangkul modernitas, demokrasi, kebebasan, dan aturan hukum di pemerintahan,” tegasnya. (jpnn)

Belanja Sambil Swafoto di MTC Karebosi, Ada Mural 3D

Mpok Atiek Mimpi Meninggal, Jasadnya Ditangisi Keluarga

Lelang Dirut PDAM, Nurdin Minta Aru Ikut Berkompetisi

Komunitas Lontara Ka Ga Nga “Rampok Plastik” Pengunjung 

PA 212 Mendukung Aksi Menuntut Jokowi Mundur

70 TAHUN PEMERINTAHAN KOMUNIS DI TIONGKOK

Partai Komunis Tiongkok berhasil mempertahankan kontrol kekuasaan yang kuat selama tujuh dekade.

1 Oktober 1949
Mao Zedong mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

1950–1953
Tiongkok memerangi pasukan PBB yang dipimpin AS pada Perang Korea.

1958
The Great Leap Forward berakhir menjadi bencana. Setidaknya 45 juta penduduk tewas kelaparan. Itu kampanye untuk mengubah Tiongkok menjadi negara industri.

Maret 1959
Pemberontakan di Tibet dihancurkan. Dalai Lama dan pengikutnya lari ke India.

1962
Perang perbatasan Sino-India.

1964
Tiongkok meledakkan bom nuklir pertamanya.

1966
Revolusi Budaya. Satu dekade penuh kerusuhan bahwa pemuda radikal melancarkan kampanye teror melawan kelompok kontrarevolusioner.

1971
RRT mengambil kursi Taiwan di PBB. Tiongkok mengklaim sebagai pemerintahan yang sah.

1972
Presiden AS Richard Nixon berkunjung ke Beijing.

September 1976
Mao Zedong meninggal dunia. Istrinya, Jiang Qing, ditahan karena dituduh sebagai salah seorang anggota Gang of Four yang bertanggung jawab atas Revolusi Budaya.

1978
Deng Xiaoping menjadi pemimpin tertinggi. Dia meluncurkan program Reform and Opening Up untuk mengubah perekonomian.

4 Juni 1989
Militer menyerang demonstran di Tiananmen Square. Mungkin korban tewas mencapai lebih dari seribu orang.

1993
Jiang Zemin menjadi presiden.

1997
Deng Xiaoping meninggal. Hongkong dikembalikan ke Tiongkok.

2001
Tiongkok bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

2003
Jiang digantikan Hu Jintao. Yang Liwei menjadi pria pertama Tiongkok di angkasa.

Maret 2008
Pemberontakan anti-Tiongkok di Tibet berhasil dipadamkan pasukan keamanan.

Agustus 2008
Beijing menjadi tuan rumah Olimpiade.

Juli 2009
Hampir 200 orang tewas karena kekerasan etnis di Xinjiang. Jumlah itu didasarkan kepada pemaparan resmi pemerintah.

2012
Xi Jinping memegang tampuk kepemimpinan.

2015
Partai Komunis menghentikan kebijakan satu anak cukup menjadi dua anak.

2018
Parlemen menggelar pengambilan suara untuk menghapuskan batasan waktu jabatan presiden. Itu membuat Xi Jinping bisa berkuasa seumur hidup.

2018
Panel PBB mengungkapkan, diperkirakan 1 juta penduduk Uighur dan minoritas lain yang berbahasa Turki ditahan di kamp.

September 2019
Hongkong ricuh setelah demonstran prodemokrasi turun ke jalan.

Sumber: AFP

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...