Budayawan: Buzzer Ganggu Demokrasi


FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Budayawan Unhas, Andi M Akhmar, mengatakan, keberadaan buzzer sudah lama. Tim pemenang calon legislatif, banyak menggunakan buzzer untuk menyerang dan menjatuhkan lawan politiknya.

Keberadaan buzzer ini, lanjutnya, berdampak secara psikologis ke masyarakat. Tetapi, tidak bisa menyelesaikan masalah sosial di dunia sesungguhnya. Karena itu, penggunaan buzzer di tubuh pemerintahan tidak cocok. Baiknya tidak diberdayakan.
“Medannya pemerintah jangan di media sosial. Harus menghadapi masalah sosial di dunia riil,” kata Akhmar.

Menyelesaikan masalah dengan memperbanyak buzzer bebernya justru memperkeruh persoalan. “Kalau pemerintah melakukan, itu dia juga menyerang. Artinya tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Selanjutnya, dari aspek kebudayaan menurutnya, tidak sepatutnya pemerintah menggunakan buzzer. Kalau mau menjelaskan sesuatu, harus dengan model etik.

“Pemerintah harus mengayomi. Memberikan penjelasan kepada masyarakat. Kalau itu dilakukan (menggunakan buzzer) hanya menciptakan ketegangaan sosial juga. Jadi hilangkan saja,” imbuhnya.

Respons Istana

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko pun langsung meberikan imbauan terkait aksi para buzzer alias ‘pemain’ di dunia maya itu. Ia
mengimbau para buzzer pendukung Jokowi agar menyebarkan emosi positif bukan sebaliknya, menciptakan narasi kebencian.

Mantan panglima TNI itu juga mengklaim para buzzer itu tidak dalam satu komando, tetapi bergerak masing-masing. Karena itu, pihaknya sudah berkomunikasi dengan para influencer, tokoh-tokoh relawan Presiden ketujuh RI itu, dan mengajak para pendukung Jokowi menggunakan pilihan kata yang sejuk dan tidak saling menyakiti di media sosial.

“Secara administrasi kami tidak membuat itu (buzzer), mereka berkembang masing-masing. Namun demikian yang perlu kita pahami bersama, bahwa bernegara perlu suasana yang nyamanlah,” ucap Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kemarin.

Moeldoko menilai, kemunculan para buzzer itu bertujuan untuk menjaga muruah pemimpinnya. Namun dalam kondisi sekarang, dia memandang para buzzer tersebut sudah tidak diperlukan lagi. Termasuk para pendengung politik.

“Dalam situasi ini bahwa relatif sudah enggak perlu lagi mereka (buzzer-buzzeran,red). Karena yang diperlukan adalah dukungan-dukungan politik yang lebih membangun, bukan dukungan politik yang bersifat destruktif,” tegasnya dikutip Jawa Pos (grup FAJAR).

Ia pun memberikan contoh, kalau para buzzer selalu melemparkan kata-kata yang tidak enak didengar, tentu hal tersebut akan merusak dan itu tidak diperlukan. Karena itu, ia berharap para buzzer dari segala penjuru ini juga harus menurunkan egonya, tak perlu berlebihan.

“Semangat untuk mendukung idolanya tetap dipertahankan, tapi semangat untuk membangun kebencian harus dihilangkan,” tandasnya. (edo-ans-ful-gsa)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar