Buzzer Buat Pemerintah Tuli


FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Buzzer alias pendengung dinilai merusak demokrasi. Apalagi jika dimanfaatkan oleh kekuasaan.

BUZZER atau asukan siber (cyber troops) kini lagi digunakan untuk menyebarkan informasi. Sayangnya, tak semua informasi yang disebarkan, valid. Bahkan ada yang hoaks alias kabar bohong.

Mereka digunakan sebagai tameng pemerintah untuk men-counter isu miring atau kritikan yang menyerang. Hal ini ditengarai menjadi dasar pemerintah lamban menyerap aspirasi masyarakat yang bertentangan dengan kebijakannya.

Pengamat politik dari Unhas Andi Ali Armunanto menilai fenomena buzzer merupakan produk dari perkembangan dunia internet. Penyebaran informasi yang begitu cepat menjadi sasaran untuk menggiring isu yang diingikan.
Hal tersebut mengubah tatanan kebenaran suatu informasi. Kebenaran informasi itu ditentukan seberapa besar frekuensi informasi itu muncul di jejaring media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat.

“Bahasa kerennya adalah penggiringan isu. Hasilnya, yakni pemerintah jadi tuli,” urai Ali, Jumat, 4 Oktober.

Penggiringan Isu

Ketua Prodi Ilmu Politik FISIP Unhas ini menuturkan penggunaan buzzer merupakan aksi salah yang dilakukan pemerintah. Utamanya dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Pasalnya suatu masalah tidak dapat diselesaikan dengan cara masalah lain, namun harus dihadapi.

Cara penggiringan isu membuat jalannya pemerintahan tidak baik. Bahkan cenderung satu arah dari atas ke bawah, tanpa ada umpan balik dari masyarakat. Media sosial seharusnya bisa membuat masyarakat makin lebih cerdas, tapi bukan digiring melainkan diberikan informasi yang benar.

“Media sosial seharusnya mencerdaskan, namun keberadaan buzzer membuat pemerintah jadi tidak bisa mendengarkan. Informasi yang sampai terdengar,” akunya.

Ali menambahkan fenomena penggunaan buzzer dalam dua tahun terakhir meningkat. Manipulasi media sosial banyak terjadi di banyak negara. Tujuan manipulasi medsos itu adalah menekan hak dasar manusia, mendiskreditkan oposisi politik, dan membenamkan pendapat yang berlawanan.

“Ini harus diatur. Tetapi sekali lagi pemerintah harus ada posisi tengah tanpa ada kepentingan, memblok atau menyebar informasi lain,” ungkapnya.

Kena ITE

Guru besar Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Hambali Talib menyatakan pengguna buzzer itu sangat tidak baik. Bahkan bisa dijerat dengan Undang-Undang ITE. Yakni, penyebaran informasi bohong.

“Ini yang parah jika dilakukan oleh pihak pemerintah. Yakin ini akan ketahuan, masyarakat kini sudah pintar,” bebernya.

Hambali juga menambahkan dampak lain dari buzzer, kepercayaan publik yang berkurang, serta menjadikan pemerintah terkesan otoriter. Tidak terbuka atas kritikan. “Kritikan itu diperlukan untuk pembangunan, bukan dibalikkan isunya. Ini harus dihentikan,” tambahnya.

Menyamarkan Tipuan

Dosen Sosiologi UIN Alauddin Makassar, Muhammad Ridha, menjelaskan, buzzer pada dasarnya adalah penggaung atau pembela. Mampu menghadirkan argumentasi yang renyah atas orang atau kelompok yang dibelanya.

“Misalnya ada orang atau kelompok –bisa juga sekelas rezim– menginginkan sesuatu atau menciptakan program, mereka menarik silogisme dari itu untuk membuat masyarakat bisa paham,” nilainya.

Buzzer pada dasarnya sangat berbahaya. Sebab, bisa menyamarkan tipuan atau program dari rezim yang notabene dinilai bermasalah atau tidak baik. Namun, lagi-lagi, para buzzer mengolah itu menjadi sebuah argumentasi yang renyah dan bisa diterima oleh masyarakat.

Baca Juga: Budayawan: Buzzer Ganggu Demokrasi

“Nah itu berbahaya, karena argumentasi yang dilontarkan oleh para buzzer itu tidak accountable,” katanya.

Namun, ia memandang, masyarakat mulai cerdas melihat tindak-tanduk dari para buzzer yang kerap menghadirkan antitesis dari sebuah persoalan. Terbukti, gerakan perlawanan demonstrasi sejauh ini begitu bergejolak menolak apa yang dihadirkan oleh pemerintah.

“Teliti melihat setiap diksi yang dihadirkan memang menjadi hal yang penting. Agar tak tersamarkan oleh fakta atau tipuan,” jelasnya.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...