Kesaksian Warga Sulsel saat Rusuh Wamena, Selamat karena Disembunyikan Warga Lokal


 

Mereka pulang membawa lara. Tetap disyukuri karena masih bisa berkumpul keluarga.

Laporan: ARINI NURUL 

RAHMATIAH tak bisa melupakan kejadian mencekam yang dialaminya di Wamena, Papua, Senin, 23 September. Rumah beserta dua unit motor miliknya ludes. Dibakar perusuh.

Beruntung ia beserta suami dan anaknya bisa lolos dari maut. Namun, sejak saat itu dia terus berupaya agar bisa kembali ke Sulsel. “Masih banyak pembakaran, kita masih takut,” katanya saat ditemui di Lanud Sultan Hasanuddin, Maros, Rabu, 2 Oktober.

Saat kejadian, Rahmatiah dan keluarganya asal Takalar diselamatkan oleh warga lokal Wamena. Kebetulan warga itu adalah pemilik tanah yang ia sewa.

“Yang selamatkan kita itu istrinya yang punya tanah. Dia panggil kita keluar dari rumah, kemudian dibawa ke belakang rumah Pak Desa dan dimasukkan ke dalam kandang babi. Ada sekitar 30 orang, campur dengan orang asal Tator,” kenangnya dengan mata sembab.

Dia mengaku harus rela bersembunyi berjam-jam di kandang babi agar bisa selamat dari tindakan keji oknum tak bertanggung jawab itu.

“Saya masuk jam 10.00 hingga jam empat sore, baru bisa dievakuasi sama petugas. Kami kemudian dievakuasi ke Polres Wamena. Selama tiga hari di pengungsian baru berangkat ke Jayapura,” katanya.

Sehari-hari, perempuan yang sudah 10 tahun tinggal di Homhom ini mengaku mengelola kios. Sedangkan suaminya, Ruslan, berprofesi sebagai tukang ojek. Dia datang ke Makassar bertiga dengan anak dan suaminya.

Ditanyai soak keinginannya untuk kembali ke Wamena, ia pun mengaku enggan ke sana lagi. Sampai di Sulsel saja, sudah sebuah kesyukuran besar. Dia masih sangat trauma atas kejadian itu.

“Di mana-mana pembakaran dan pembunuhan. Saya tidak mau kembali lagi ke sana. Biar anak pindah saja sekolah di sini,” akunya sambil mengusap air matanya dengan jilbab hijau tosca yang dikenakan.

Tak hanya rumahnya yang dibakar dan rata dengan tanah. Dua unit motor miliknya juga ikut terbakar.

“Tidak ada yang bisa diselamatkan, hanya pakaian di badan saja. Ini pun barang yang kita bawa dikasi di pengungsian Jayapura dan di Biak,” akunya.

Rahmatiah bersama 169 pengungsi dari Wamena tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin dengan menggunakan pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara (AU) Skuadron Udara 32 Malang. Ada 50 warga asal Sulsel dan 120 asal Jawa Timur.

Tampak pengungsi dipapah karena dalam kondisi hamil muda dan membutuhkan pelayanan kesehatan. Adapula yang harus ditandu oleh tim medis. Seperti salah seorang warga asal Malang, Sri Haryati.

Perempuan 22 tahun ini tengah hamil muda dan masih akan melanjutkan perjalanannya ke Jawa Timur bersama suaminya, Ramadhani dan orang tuanya.
Ramadhani mengaku istrinya masih shock setelah kejadian kerusuhan di Wamena itu.

Saat kejadian, sang istri tengah berada di rumah bersama orang tuanya di Homhom, Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya. Sedangkan dia sedang keluar untuk bekerja.

Saat itu ia mendengar informasi ada kerusuhan, namun tak berpikir kerusuhan itu terjadi di daerah pinggiran. Alasannya, sangat jarang di daerah pinggiran ada kejadian, meski sudah biasa ada aksi lempar batu.

“Begitu pukul 09.00 ditelepon kalau yang rusuh itu daerah pinggiran bukan kota. Pukul 10.00 jaringan sudah tidak ada sama sekali baik untuk menelepon maupun internet. Jadi saya ketemu istri itu di kantor polisi,” akunya.

Rumahnya tak dibakar, namun diobrak-abrik. Sebab, rumahnya berdiri di atas tanah milik orang asli Papua (OAP). Ramadhani mengaku beruntung saat kejadian istri dan orang tuanya diselamatkan oleh warga lokal..

“Istri sama orang tua sembunyi dibantu sama orang asli Papua. Begitu pukul 11.00 Wita datang polisi yang evakuasi dan bawa di Polres. Di sana kami ketemu,” katanya.

Hasriani, salah seorang dosen STISIP Amal Ilmiah Yapis Wamena, mengatakan ia tak menyangka hari itu menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Saat kejadian, ia bersama dosen lainnya berada di kampus untuk mengajar. Jam kuliah pertama, kampus sudah dikepung oleh massa.

“Kejadiannya secara tiba-tiba. Biasanya kan kalau ada sesuatu seperti ini itu ada isu-isu. Tapi ini sama sekali tidak ada isu, pecah begitu di tanggal 23 September,” katanya.

Dia bercerita saat kejadian itu sekitar pukul 08.15. Hari itu anaknya juga sedang mengikuti Ujian Tengah Semester (UTS). Suaminya yang segera menjemput sang anak saat rusuh terjadi.

“Karena saya sudah tidak bisa jemput, kampus kami sudah penuh massa,” kata warga Enrekang ini.

Dia mengaku bingung dengan kondisi saat itu. Kampusnya dikepung massa berbaju putih. Saat itu dia bersama 15 orang dosen yang mengajar pada jam pertama.

“Di sebelah gedung itu ada kelas masih menggunakan jendela. Kami melompat di situ. Kami sama-sama berusaha menyelamatkan diri. Untung ada warga asli Papua yang baik hati,” kata perempuan yang sudah tinggal di Wamena selama 10 tahun ini.

Pengungsi lainnya yang berasal dari Bone, Dasmiah mengaku saat kerusuhan pertama kali terjadi, dia sedang berada di dalam rumah. Berintung dia diselamatkan oleh warga setempat dan dibawa ke salah satu kampung warga Papua di daerah pegunungan.

“Alhamdulillah kami bisa selamat berkat bantuan warga asli sana. Kami sembunyi di daerah pegunungan selama satu malam. Besoknya kita dievakuasi ke Polres,” katanya.

Dia mengatakan dirinya dan suaminya telah 8 tahun menetap di Wamena. Bahkan keempat anaknya lahir dan besar di Wamena. “Suami bekerja sebagai sopir, saya membuka usaha kecil-kecilan di rumah,” akunya.

Dia menduga kerusuhan ini sudah terencana. Sebab, semua rumah yang diberi tanda daun pisang tidak dibakar. “Setelah kejadian kita amati, yang ada tandanya ada daun pisang di depan pintu rumahnya tidak dibakar,” katanya.

Sebagian besar kata dia rumah milik pendatang dibakar habis. Sedangkan rumah warga setempat tidak dibakar.
Dia mengaku suaminya masih bertahan di Wamena sedangkan dia beserta anaknya memilih pulang ke kampung halamannya sambil memulihkan trauma.(*/abg-zuk)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...