Raih Smart City Index 2019, Makassar Kalahkan Jakarta

Sabtu, 5 Oktober 2019 20:48
Raih Smart City Index 2019, Makassar Kalahkan Jakarta

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — IMD World Competitiveness Center’s Smart City Observatory bekerja sama dengan Singapore University of Technology and Design (SUTD) merilis Smart City Index 2019 untuk pertama kalinya.

Sebelum peringkatan dirilis, kota-kota yang telah menerapkan Smart City tersebut diriset terlebih dahulu. Penekanan penilaian didasarkan pada pemanfaatan infrastruktur teknologi dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun pelayanan publik.

Hasilnya, peringkat pertama ditempati Kota Singapura. Disusul Zurich, Oslo, Genewa, Kopenhagen, Auckland, Taipei, Helsinki, Bilbao, dan Dusseldorf. Kota-kota inilah 10 besar kota pintar di dunia.

Sedangkan Makassar menjadi kota terpintar di Indonesia pada tahun 2019. Dalam indeks kota pintar atau Smart City Index tahun 2019 hanya ada dua kota dari Indonesia, yakni Makassar dan Jakarta.

Dalam SCI yang dikeluarkan IMD dan Singapore University Technology and Design tersebut, Makassar berada di peringkat 80. Sedangkan Jakarta di peringkat 81 dari 102 negara yang menjadi lokasi riset.

Makassar mengukuhkan diri masuk dalam jajaran kota-kota dunia lainnya melalui smart city. Hanya saja, konsep kota pintar yang diusung Makassar menjadikannya istimewa, Sombere’ and Smart City.

SCI ini merupakan satu-satunya indeks global yang unik berfokus pada bagaimana warga negara merasakan ruang lingkup dan dampak dari upaya untuk membuat kota mereka ‘pintar’ dengan menyeimbangkan aspek ekonomi dan teknologi dengan dimensi manusiawi.

Presiden Smart City Observatory IMD di IMD World Competitiveness Center, Bruno Lanvin mengatakan predikat kota pintar menjadi magnet bagi investasi, bakat dan perdagangan.

Secara umum, penilaian IMD didasarkan pada bagaimana masyarakat bisa menerima dan merasakan dampak dari Smart City dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, teknologi dan manusia. Dan yang menjadi poin lebih yakni menjawab kebutuhan warganya swcara keberlanjutan.

“Namun, sebagian besar upaya dan energi yang dihabiskan tampaknya terputus dari aspirasi warga jangka panjang. Tanpa dukungan dan keterlibatan warga, kota-kota pintar mungkin tidak berkelanjutan,” kata Bruno Lanvin dikutip dari CNBC. (ama)

Bagikan berita ini:
3
5
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar