Pemimpin?

0 Komentar

Nurul Ilmi Idrus

FAJAR.CO.ID– Situasi di tanah air belakangan ini cukup memprihatinkan, mulai dari rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang meresahkan masyarakat, demonstrasi mahasiswa di berbagai penjuru tanah air, kerusuhan di Wamena, dan gempa bumi di Ambon.

Belum selesai keresahan masyarakat soal iuran BPJS yang akan melonjak tahun 2020, muncul ancaman terkait akses pendidikan jika iuran BPJS tak terbayarkan, BPJS wajib bukan pilihan. Bupati Gowa menolak kebijakan pemerintah tentang BPJS karena dianggap tidak sejalan dengan program kesehatan gratis. Setelah mengajukan judisial review tahun 2016 atas UU No. 24/2011, gugatannya ditolak. Namun, sejak 1 Januari 2017 layanan kesehatan di Kabupaten Gowa tak lagi terintegrasi dengan BPJS. Seorang pemimpin adalah orang yang mengetahui jalan, yang berjalan, dan yang menunjukkan jalan.

Di tengah kontroversi kenaikan iuran BPJS dan sangsinya, muncul demonstrasi mahasiswa yang menentang sejumlah RUU, termasuk revisi UU KPK dan tuntutan melahirkan Perppu karena dianggap melemahkan KPK, RUU-KUHP karena sejumlah isinya menimbulkan kontroversi, diantaranya aborsi korban perkosaan, memelihara hewan, denda terhadap gelandangan, kebebasan pers.

Dalam kaitan ini, Yasonna (Menkumham) dan mahasiswa berhadap-hadapan di ILC atas demonstrasi terkait. Menkumham tak hanya menuding demonstrasi mahasiswa ditunggangi yang diamini oleh mahasiswa karena mereka mengakui ditunggangi oleh kepentingan rakyat; Yasonna juga menuding mahasiswa sebagai orang-orang yang berkomentar tanpa membaca dan tanpa mengikuti perkembangan RUU (padahal mereka bukan mahasiswa ecek-ecek). Maraknya demonstrasi diikuti ancaman pemerintah melalui Menristek Dikti terhadap rektor yang tidak dapat meredam gerakan mahasiswa. Ini menuai kritik, termasuk dari Kaukus Kebebasan Akademik Indonesia (KKAI) karena dianggap mengebiri kebebasan berekspresi. Kepanikan berbuah ancaman!

Ketika demonstrasi mahasiswa sedang bergejolak, Wamena rusuh, yang konon dipicu oleh hoaks bernuansa rasis. Puluhan warga tewas, ribuan mengungsi, rumah dan berbagai fasilitas dibakar. Rusuh Wamena disusul oleh gempa berkekuatan 6,5 SR mengguncang Ambon, ratusan meninggal dan terluka, puluhan ribu mengungsi, dan ratusan fasilitas rusak. Mereka call for attention, membutuhkan pertolongan dan penanganan segera, bukan imbauan pemimpin, seperti pernyataan Jokowi: “jangan termakan hoaks” (saat rusuh karena hoaks), “jangan meninggalkan Wamena” (saat jiwa telah terancam); sebagaimana imbauan Wiranto (Menkopolhukam), agar masyarakat lebih percaya informasi dari aparat. Mahfumkah mereka bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang diperoleh (earned), bukan terberi (given), dan tindakan memperluas kepercayaan adalah tindakan kepemimpinan.

Namun, Jokowi justru terpantau sedang bersepeda santai bertandem Ibu Iriana. Ini diikuti rencana konser besar bertajuk “konser kebangsaan”, dengan mengundang para musisi senior di saat mahasiswa berjuang mencari keadilan, serta Wamena dan Ambon sedang “menangis”, seakan Jokowi tidak memiliki sense of crisis. Wiranto sami mawon, alih-alih menunjukkan empatinya terhadap gempa Ambon, ia mengeluarkan pernyataan melukai hati, bahwa pengungsi terlalu besar jadi beban pemerintah. Kepemimpinan adalah tindakan dan contoh. Mungkin itu adalah  bentuk tindakan dan contoh “keprihatinan” versi Jokowi dan Wiranto.

Belakangan Yasonna mengundurkan diri sebagai Menkumham setelah terpilih sebagai anggota DPR-RI. Setelah dilantik, pelantikan pemimpin lainnya menyusul, dari pelantikan si anak mama PDIP—Puan Maharani—sebagai ketua DPR-RI di malam hari (mirip-mirip pengumuman Pilpres dan saat namanya disebut-sebut Setyanov terkait e-KTP), Bambang Soesatyo sebagai ketua MPR (dengan segudang kontroversi tentangnya, termasuk gagasannya terkait hak angket KPK agar tak menyidik kasus e-KTP), dan La Nyalla sebagai ketua DPD (sosok kontroversial terkait masalah hukum dan politik). Napoleon Bonaparte pernah berkata: “Seorang pemimpin adalah seorang penjual harapan” Amanahkah mereka merealisasikan harapan menjadi kenyataan dengan segala kontroversi tentang mereka? Let’s see!

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment