Pemimpin?

Selasa, 8 Oktober 2019 12:12
Pemimpin?

Nurul Ilmi Idrus

Dalam kaitan ini, Yasonna (Menkumham) dan mahasiswa berhadap-hadapan di ILC atas demonstrasi terkait. Menkumham tak hanya menuding demonstrasi mahasiswa ditunggangi yang diamini oleh mahasiswa karena mereka mengakui ditunggangi oleh kepentingan rakyat; Yasonna juga menuding mahasiswa sebagai orang-orang yang berkomentar tanpa membaca dan tanpa mengikuti perkembangan RUU (padahal mereka bukan mahasiswa ecek-ecek). Maraknya demonstrasi diikuti ancaman pemerintah melalui Menristek Dikti terhadap rektor yang tidak dapat meredam gerakan mahasiswa. Ini menuai kritik, termasuk dari Kaukus Kebebasan Akademik Indonesia (KKAI) karena dianggap mengebiri kebebasan berekspresi. Kepanikan berbuah ancaman!

Ketika demonstrasi mahasiswa sedang bergejolak, Wamena rusuh, yang konon dipicu oleh hoaks bernuansa rasis. Puluhan warga tewas, ribuan mengungsi, rumah dan berbagai fasilitas dibakar. Rusuh Wamena disusul oleh gempa berkekuatan 6,5 SR mengguncang Ambon, ratusan meninggal dan terluka, puluhan ribu mengungsi, dan ratusan fasilitas rusak. Mereka call for attention, membutuhkan pertolongan dan penanganan segera, bukan imbauan pemimpin, seperti pernyataan Jokowi: “jangan termakan hoaks” (saat rusuh karena hoaks), “jangan meninggalkan Wamena” (saat jiwa telah terancam); sebagaimana imbauan Wiranto (Menkopolhukam), agar masyarakat lebih percaya informasi dari aparat. Mahfumkah mereka bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang diperoleh (earned), bukan terberi (given), dan tindakan memperluas kepercayaan adalah tindakan kepemimpinan.

Bagikan berita ini:
4
1
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar